Dokter Jelaskan Bahaya dan Penyebab Kematian dalam Kasus Viral Pemotongan Alat Kelamin

Risiko paling serius dan mengancam jiwa dalam pemotongan alat kelamin adalah terjadinya pendarahan yang mendadak dan sangat banyak.

Ade Nasihudin Al Ansori
Dokter Jelaskan Bahaya dan Penyebab Kematian dalam Kasus Viral Pemotongan Alat Kelamin
Kasus Pemotongan Alat Kelamin, Dokter: Pendarahan Hebat Dapat Bahayakan Nyawa. Foto: Freepik. (© 2025 Liputan6.com)

Kasus seorang istri yang memotong alat kelamin suaminya di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menjadi viral di berbagai media. Pelaku, yang bernama HZ, melakukan tindakan tersebut saat suaminya sedang tidur. Tragisnya, korban meninggal dunia 23 hari setelah insiden tersebut.

Selain itu, terdapat juga kasus seorang janda berinisial WI berumur 28 tahun, yang nekat memotong alat kelamin pacarnya, KN, yang berusia 32 tahun dan sudah beristri.

Tindakan ini dilakukan karena pelaku merasa kesal dengan korban yang sering berselingkuh dengan wanita lain. Peristiwa ini terjadi pada 19 Oktober 2025 di Lampung.

Fenomena pemotongan alat kelamin bukanlah hal yang baru dalam masyarakat. Dalam beberapa kasus, jika luka akibat potongan ditangani dengan tepat dan cepat, sisa tunggul penis yang ada masih memiliki kemungkinan untuk berfungsi kembali.

Hal ini diungkapkan oleh dr. Narendra Pandya, seorang konsultan bedah plastik di Rumah Sakit & Pusat Penelitian Jaslok, Mumbai, India.

Ia menjelaskan bahwa kematian biasanya disebabkan oleh perdarahan hebat, bukan karena tindakan pemotongan itu sendiri.

"Sementara itu, pendarahan dapat dihentikan dengan menekan bagian distal sisa tunggul," ujar Narendra, merujuk pada laman Doctor NDTV pada Kamis, 23 Oktober 2025.

Dr. Narendra juga menceritakan pengalamannya terkait seorang pria yang memotong alat kelaminnya sendiri hingga mengalami kehilangan darah yang signifikan.

Saat menjalani pelatihan residensi Bedah Plastik di Universitas Northwestern di Chicago pada tahun 1967, ia pernah menangani seorang pasien transseksual pria.

"Dia ingin kami mengganti jenis kelaminnya. Kami tidak tahu banyak tentang masalah itu saat itu. Jadi, kami selalu menolaknya. Dia biasa mengatakan bahwa dia membenci organ laki-lakinya," ungkapnya.

"Suatu malam, saya sedang bertugas ketika pria ini dibawa ke UGD dalam keadaan kehabisan darah sampai hampir mati karena mengamputasi penisnya sendiri. Tentu saja, kami menyelamatkan nyawanya," tambah dr. Narendra.

Rekomendasi