Dalam dunia penurunan berat badan, mengganti gula dengan pemanis buatan sering jadi jalan pintas yang dianggap “berbahaya” oleh sebagian orang. Tapi sebuah studi terbaru justru membawa kabar mengejutkan: pemanis mungkin bisa jadi senjata rahasia yang selama ini dicap jahat.
Advertisement
Pemanis Bukan Musuh: Studi Baru Buka Mata
Penelitian bertajuk The Sweet Project yang akan dipresentasikan dalam European Congress on Obesity ini menyebutkan bahwa mengganti gula dengan pemanis rendah atau tanpa kalori (dikenal juga sebagai sweeteners dan sweetness enhancers) ternyata bisa membantu menjaga berat badan tanpa meningkatkan risiko penyakit seperti diabetes tipe 2 atau penyakit jantung.
Dalam studi ini, hampir 350 orang dewasa yang mengalami obesitas diminta menjalani diet rendah kalori selama dua bulan pertama untuk menurunkan minimal 5% berat badan mereka. Setelahnya, mereka dibagi ke dalam dua kelompok:
- Kelompok tanpa pemanis buatan: Diet sehat dengan kurang dari 10% kalori dari gula tambahan, tanpa produk dengan pemanis.
- Kelompok pemanis buatan: Diet yang sama, tapi diperbolehkan mengonsumsi makanan dan minuman berpemanis rendah/nihil kalori.
Hasilnya? Mengejutkan. Setelah 10 bulan, kelompok yang mengonsumsi pemanis buatan tidak hanya terus mengalami penurunan berat badan, tapi juga mengalami:
- Peningkatan mood
- Kepuasan terhadap pola makan
- Penurunan keinginan mengonsumsi makanan manis
Sedangkan kelompok tanpa pemanis juga berhasil menurunkan berat badan, tapi penurunannya tak sebanyak kelompok pertama.
Advertisement
Bertentangan dengan Rekomendasi WHO? Iya, Tapi…
Temuan ini cukup mengejutkan, apalagi setelah WHO tahun lalu merekomendasikan untuk tidak menggunakan pemanis buatan sebagai strategi penurunan berat badan. WHO saat itu merujuk pada tinjauan sistematis yang menyebut pemanis buatan dapat meningkatkan risiko penyakit kronis dalam jangka panjang.
Namun menurut Anne Raben, PhD, pemimpin penelitian dari University of Copenhagen, hasil penelitiannya justru membuktikan sebaliknya. Ia menyatakan, “Menjaga berat badan setelah penurunan berat badan itu sulit. Temuan kami mendukung penggunaan S&SE (pemanis rendah/nihil kalori) dalam makanan dan minuman sebagai alternatif gula demi membantu mengontrol berat badan.”
Advertisement
Bagaimana dengan Risiko Penyakit? Masih Aman!
Studi ini juga mengevaluasi risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Hasilnya: tidak ditemukan peningkatan risiko pada kedua kelompok, baik yang menggunakan pemanis buatan maupun tidak.
Jason Halford, PhD, salah satu peneliti sekaligus Presiden European Association for the Study of Obesity, mengatakan, “Penggunaan pemanis rendah kalori dalam pengelolaan berat badan sering diragukan karena studi observasional mengaitkannya dengan kenaikan berat badan. Tapi studi jangka panjang justru menunjukkan sebaliknya.”
Untuk anak-anak, penelitian ini mencatat bahwa penggunaan pemanis hanya bermanfaat pada mereka yang mengalami uncontrolled eating atau pola makan berlebih yang tidak terkontrol. Namun karena jumlah anak yang diteliti cukup kecil, hasil ini belum bisa digeneralisasi.
Advertisement
Apakah Pemanis Buatan Aman? Ini Kata Ahli
Isu keamanan pemanis buatan memang jadi perdebatan panjang. Sebelumnya, beberapa studi menyebut pemanis buatan bisa memicu gangguan metabolisme, memengaruhi mikrobioma usus, hingga memicu keinginan makan manis lebih besar.
Namun, Raben menyatakan bahwa mayoritas studi tersebut dilakukan pada hewan dengan dosis yang jauh melebihi konsumsi normal manusia. Di sisi lain, USDA (Departemen Pertanian AS) masih menganggap pemanis sebagai “GRAS” (Generally Recognized As Safe).
Sarah Hormachea, MS, RD, seorang ahli gizi, menegaskan, “Pemanis masih dianggap aman untuk konsumsi umum.” Hal ini didukung oleh Kylie Bensley, MS, RD, ahli gizi yang mengatakan, “Risiko kesehatan karena kelebihan berat badan jauh lebih besar daripada potensi efek samping pemanis buatan. Jika mengganti gula dengan pemanis bisa membantu seseorang menurunkan berat badan, itu bisa jadi pilihan yang baik.”
Advertisement
Strategi Lain Menurunkan Berat Badan, Tak Harus Bergantung Pemanis
Namun tentu saja, menurunkan dan menjaga berat badan bukan cuma soal mengganti gula. Rekha Kumar, MD, seorang endokrinolog, menegaskan perlunya pendekatan yang holistik dan personal dalam manajemen berat badan. Berikut beberapa saran dari para ahli:
- Aktivitas Fisik Rutin: Minimal 150 menit per minggu dengan aktivitas intensitas sedang seperti bersepeda atau jalan cepat.
- Kenali Kebutuhan Kalori dan Karbohidrat: Sesuaikan dengan tubuh dan gaya hidupmu.
- Pola Makan Seimbang: Fokus pada sayuran, buah, protein tanpa lemak, biji-bijian utuh, serta lemak sehat dari kacang-kacangan, biji-bijian, minyak zaitun, dan ikan berlemak.
- Hindari Makanan Ultra-Proses: Makin alami, makin baik.
- Cara Manis yang Alami: Gunakan buah sebagai pemanis alami. Contoh dari Bensley: apel dengan caramel, atau “Reese’s apple” (apel dengan selai kacang dan chocochip) untuk memuaskan keinginan ngemil manis.
Advertisement
Pemanis Bukan Musuh, Tapi Alat Bantu
Jadi, apakah pemanis buatan berbahaya? Tidak seseram itu. Studi terbaru justru menunjukkan bahwa pemanis bisa menjadi bagian dari strategi penurunan berat badan yang efektif tanpa menambah risiko penyakit serius.
Namun, seperti halnya alat bantu lainnya, semuanya kembali pada cara kita menggunakannya. Pemanis buatan bukan sulap, tapi bisa jadi sekutu jika digunakan dengan bijak. Jika mengganti gula dengan pemanis bisa membantu Anda menurunkan dan menjaga berat badan tanpa risiko tambahan, kenapa tidak dicoba?