Risiko Stroke Hemoragik Seperti yang Dialami Ibrahim Assegaf Mengintai Pasca COVID-19, Akibat Long Covid atau Vaksin mRNA?

Studi ungkap peningkatan risiko stroke hemoragik pasca COVID-19, kaitannya dengan long COVID dan vaksin mRNA masih dalam penelitian.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Risiko Stroke Hemoragik Seperti yang Dialami Ibrahim Assegaf Mengintai Pasca COVID-19, Akibat Long Covid atau Vaksin mRNA?
Risiko Stroke Hemoragik Seperti yang Dialami Ibrahim Assegaf Mengintai Pasca COVID-19, Akibat Long Covid atau Vaksin mRNA? (Merdeka.com)

Pada tanggal 20 Mei 2025, Indonesia dikejutkan oleh kabar duka meninggalnya Ibrahim Sjarief Assegaf, suami dari jurnalis terkenal Najwa Shihab. Ibrahim, yang berusia 48 tahun, meninggal dunia akibat stroke hemoragik, sebuah kondisi di mana pembuluh darah di otak pecah, menyebabkan pendarahan yang merusak jaringan otak. 

Meningkatnya kasus stroke termasuk stroke hemoragik merupakan isu kesehatan yang relevan di era pasca pandemi Covid-19: peningkatan risiko stroke hemoragik. Apakah kematian ini terkait dengan infeksi Covid-19 sebelumnya, efek jangka panjang yang dikenal sebagai Long Covid, atau mungkin vaksin mRNA yang telah menjadi pilar utama dalam melawan pandemi?

Stroke hemoragik adalah jenis stroke yang lebih jarang dibandingkan stroke iskemik, tetapi memiliki dampak yang sering kali lebih parah karena pendarahan di otak dapat menyebabkan kerusakan permanen atau kematian. Pandemi Covid-19 telah dikaitkan dengan berbagai komplikasi kesehatan, termasuk peningkatan risiko stroke, baik akibat infeksi langsung maupun efek jangka panjangnya. Selain itu, vaksin mRNA seperti BNT162b2 (Pfizer-BioNTech) dan mRNA-1273 (Moderna), meskipun efektif dalam mencegah Covid-19 berat, telah memicu diskusi tentang kemungkinan efek samping, termasuk risiko stroke hemoragik. 

Hubungan Covid-19 dengan Stroke Hemoragik

Infeksi Covid-19, yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, dapat memicu respons imun berlebihan yang dikenal sebagai "badai sitokin." Kondisi ini menyebabkan peradangan sistemik yang dapat melemahkan pembuluh darah, meningkatkan risiko pendarahan di otak. Selain itu, virus ini dapat mengganggu enzim ACE2, yang berperan dalam mengatur tekanan darah, sehingga memicu hipertensi yang dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah. Kerusakan pada penghalang darah-otak juga memungkinkan masuknya zat berbahaya ke otak, yang dapat memicu stroke hemoragik.

Sebuah studi oleh Wang et al. (2020) (COVID-19 Associated Stroke) melaporkan bahwa insiden stroke hemoragik pada pasien Covid-19 mencapai 0,5% (1 dari 219 pasien). Studi ini juga mencatat kasus seorang wanita berusia 79 tahun dan seorang pria berusia 60 tahun yang meninggal 13 hari setelah stroke hemoragik. Penelitian lain menunjukkan variasi insiden stroke pada pasien Covid-19, mulai dari 0,8% di New York City hingga 31% pada pasien ICU di Italia (Characterization of Stroke in Covid-19). Meskipun stroke hemoragik lebih jarang dibandingkan stroke iskemik, dampaknya sering kali lebih parah, dengan tingkat kematian yang lebih tinggi.

Long Covid dan Risiko Stroke

Long Covid, atau post-acute sequelae of SARS-CoV-2 infection (PASC), adalah kondisi di mana gejala seperti kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, dan masalah kardiovaskular berlanjut setelah infeksi awal. Seorang pasien Long Covid mungkin merasa lelah berbulan-bulan setelah sembuh, atau bahkan mengalami gejala baru seperti jantungan atau stroke. Penelitian dari American Heart Association (COVID-19 Heart Risk) menemukan bahwa orang yang terinfeksi Covid-19 pada tahun 2020 memiliki risiko dua kali lipat untuk mengalami serangan jantung, stroke, atau kematian hingga tiga tahun kemudian, bahkan jika infeksi awalnya ringan.

Meskipun banyak penelitian berfokus pada stroke iskemik, sebuah ulasan di Springer (Stroke Risks in Covid-19) menunjukkan bahwa risiko stroke hemoragik pada pasien Covid-19 rawat inap berkisar antara 0,14% hingga 0,86%. Risiko ini cenderung lebih tinggi pada pasien dengan infeksi berat, tetapi juga dapat terjadi pada kasus ringan. Mekanisme seperti hiperkoagulasi sistemik dan peradangan berkepanjangan diduga berkontribusi pada risiko ini, yang dapat berlangsung hingga fase Long Covid.

Namun, data spesifik tentang stroke hemoragik pada pasien Long Covid masih terbatas. Sebagian besar penelitian tidak membedakan antara jenis stroke, sehingga sulit untuk menarik kesimpulan pasti. Meski begitu, peningkatan risiko stroke secara keseluruhan pada pasien Long Covid menunjukkan bahwa stroke hemoragik mungkin juga meningkat, terutama pada mereka dengan faktor risiko seperti hipertensi atau riwayat penyakit kardiovaskular.

Mengenal Stroke Hemoragik, Jenis Stroke Paling Mematikan
Mengenal Stroke Hemoragik, Jenis Stroke Paling Mematikan Freepik/jcomp

Vaksin mRNA dan Risiko Stroke

Vaksin mRNA telah menjadi terobosan dalam melawan Covid-19, menyelamatkan jutaan nyawa dengan mencegah infeksi berat. Namun, beberapa laporan menimbulkan pertanyaan tentang efek sampingnya. Sebuah studi di Journal of Clinical Neuroscience (Spike Protein in Stroke) menemukan protein spike SARS-CoV-2 di jaringan otak pasien stroke hemoragik yang divaksinasi, terdeteksi hingga 17 bulan setelah vaksinasi. Protein ini terlokalisasi di intima arteri serebral, dengan beberapa infiltrasi sel inflamasi, menunjukkan kemungkinan hubungan dengan vaksin mRNA. Menariknya, temuan ini hanya ditemukan pada pasien wanita, meskipun alasan pastinya belum jelas.

Studi lain di Inggris, yang diterbitkan di The Lancet (Thromboembolic Events Post-Vaccination), melaporkan sinyal keamanan untuk stroke hemoragik setelah vaksinasi BNT162b2, dengan rasio insiden 1,24 (IC 95% 1,07-1,43). Namun, studi lain di AS tidak menemukan peningkatan risiko yang signifikan, dan insiden stroke hemoragik setelah vaksinasi lebih rendah dibandingkan pada pasien positif Covid-19. Sebuah penelitian di Georgia (Factors Associated with Stroke) menemukan bahwa infeksi Covid-19 bersamaan dengan vaksinasi meningkatkan risiko stroke hemoragik (OR = 5,23, IC 95% 1,11-24,64), tetapi tidak ada perbedaan risiko antara vaksin mRNA Moderna dan Pfizer.

Kompleksnya Kasus Stroke Pasca Pandemi Covid-19

Membedakan efek Long Covid dan vaksin mRNA terhadap risiko stroke hemoragik adalah tantangan besar. Banyak individu yang divaksinasi juga pernah terinfeksi Covid-19, sehingga sulit untuk mengisolasi penyebab pasti. Temuan protein spike di jaringan otak pasien yang divaksinasi menunjukkan kemungkinan efek langsung dari vaksin, tetapi ini memerlukan penelitian lebih lanjut untuk konfirmasi. Di sisi lain, Long Covid jelas meningkatkan risiko stroke secara keseluruhan, meskipun data spesifik untuk stroke hemoragik masih kurang.

Penting untuk diingat bahwa vaksin mRNA dirancang untuk mencegah infeksi berat, yang merupakan faktor risiko utama untuk stroke. Manfaat vaksinasi dalam mengurangi kematian dan rawat inap akibat Covid-19 jauh melebihi risiko efek samping yang jarang terjadi, seperti stroke hemoragik.

Baik infeksi Covid-19 maupun Long Covid tampaknya meningkatkan risiko stroke hemoragik, terutama melalui mekanisme peradangan dan hiperkoagulasi. Vaksin mRNA, meskipun memiliki manfaat besar, telah dikaitkan dengan risiko kecil stroke hemoragik dalam beberapa studi, tetapi bukti ini tidak konklusif dan risiko absolutnya rendah. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungan ini dan membedakan efek Long Covid dari vaksinasi.

Rekomendasi