Fakta Mengejutkan! Mengapa Pria Lebih Rentan Terkena Parkinson Dibanding Wanita? Begini Penjelasannya.

Pria berisiko dua kali lipat lebih tinggi terkena parkinson, begini penjelasannya!

adinda nur shyavira
Oleh adinda nur shyavira - Reporter
Fakta Mengejutkan! Mengapa Pria Lebih Rentan Terkena Parkinson Dibanding Wanita? Begini Penjelasannya.
Fakta Mengejutkan! Mengapa Pria Lebih Rentan Terkena Parkinson Dibanding Wanita? Begini Penjelasannya. (Merdeka.com)

Penyakit Parkinson merupakan gangguan neurodegeneratif yang mempengaruhi gerakan tubuh dan umumnya berkembang secara perlahan. Gejalanya meliputi tremor, kekakuan otot, dan kesulitan dalam koordinasi. Studi terbaru menunjukkan bahwa pria memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi untuk terkena Parkinson dibandingkan wanita. Namun, apa yang menyebabkan perbedaan ini?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh La Jolla Institute for Immunology di California mengungkap bahwa penyebab utamanya mungkin terkait dengan protein PTEN-induced kinase 1 (PINK1), yang dalam kondisi normal tidak berbahaya dan berfungsi dalam mengatur penggunaan energi seluler di otak. Namun, pada beberapa kasus Parkinson, sistem kekebalan tubuh salah mengidentifikasi protein ini sebagai ancaman dan mulai menyerang sel-sel otak yang mengandung PINK1.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaksi autoimun ini jauh lebih agresif pada pria dibandingkan wanita, memberikan wawasan baru tentang mengapa pria lebih rentan terhadap penyakit ini. Dengan pemahaman ini, para ilmuwan kini dapat lebih fokus dalam mengembangkan strategi pencegahan serta pengobatan yang lebih efektif bagi penderita Parkinson.

Penemuan Baru Mengenai Peran Protein PINK1

Ilustrasi Parkinson Pada Pria
Ilustrasi Parkinson Pada Pria Pinterest/Today's Homeowner with Danny Lipford/Fotografer

Dalam penelitian ini, para ilmuwan mempelajari berbagai protein yang dikaitkan dengan penyakit Parkinson. Salah satu peneliti utama, Alessandro Sette, menyatakan:

"Perbedaan respons sel T berdasarkan jenis kelamin sangat, sangat mencolok. Respons imun ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa kita melihat perbedaan risiko Parkinson antara pria dan wanita."

Untuk membuktikan hipotesis ini, tim ilmuwan menguji sampel darah dari pasien Parkinson guna mengamati respons sistem kekebalan mereka terhadap berbagai protein yang sebelumnya dikaitkan dengan penyakit ini. Hasilnya menunjukkan bahwa PINK1 menjadi pemicu utama reaksi autoimun.

Bagaimana PINK1 Memengaruhi Pria dan Wanita Secara Berbeda?

  1. Pada pasien pria dengan Parkinson, ditemukan peningkatan enam kali lipat dalam jumlah sel T yang menyerang sel otak yang mengekspresikan PINK1, dibandingkan dengan pria sehat.
  2. Sementara itu, pada pasien wanita dengan Parkinson, peningkatannya jauh lebih kecil, hanya 0,7 kali lipat dibandingkan wanita sehat.

Sebelumnya, tim yang sama juga menemukan bahwa protein alpha-synuclein dapat memicu reaksi serupa pada beberapa penderita Parkinson. Namun, tidak semua pasien mengalami respons ini, sehingga para ilmuwan terus mencari pemicu lain yang mengarah pada penemuan peran PINK1.

Dampak Penelitian Terhadap Diagnosis dan Pengobatan Parkinson

Ilustrasi Parkinson Pada Pria
Ilustrasi Parkinson Pada Pria Pinterest/Health/Fotografer

Penemuan ini membuka peluang bagi pengembangan metode diagnosis dan terapi baru untuk penyakit Parkinson. Dengan memahami bagaimana sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap PINK1, para peneliti kini memiliki target potensial untuk terapi yang lebih efektif.

Menurut Cecilia Lindestam Arlehamn, salah satu ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini:

"Kami kini memiliki kesempatan untuk mengembangkan terapi yang dapat memblokir sel T ini, mengingat kita sudah mengetahui penyebab mereka menyerang otak."

Potensi pengembangan dari penelitian ini mencakup:

  1. Terapi imunomodulator yang dapat mencegah atau memperlambat reaksi autoimun yang merusak sel otak pada penderita Parkinson.
  2. Tes darah diagnostik yang mendeteksi keberadaan sel T sensitif terhadap PINK1, sehingga memungkinkan deteksi dini sebelum gejala Parkinson muncul.

Meskipun hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan Parkinson, penelitian ini membawa harapan baru dalam memahami faktor risiko serta mengembangkan strategi pencegahan dan pengobatan yang lebih efektif.

"Kami perlu memperluas penelitian ini untuk melakukan analisis yang lebih global terkait perkembangan penyakit dan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, dengan mempertimbangkan berbagai antigen, tingkat keparahan penyakit, serta waktu sejak gejala pertama kali muncul," tambah Sette.

Penemuan ini menandai langkah penting dalam memahami bagaimana Parkinson berkembang dan bagaimana kita dapat mengatasinya di masa depan. Dengan penelitian lebih lanjut, diharapkan terapi yang lebih efektif dapat segera dikembangkan untuk mengurangi dampak penyakit ini pada jutaan orang di seluruh dunia.

Rekomendasi