BMKG Ungkap Perubahan Arah Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau

BMKG Lampung mendeteksi dua klaster abu Anak Krakatau dengan arah berbeda di 12.000–50.000 kaki. Ini wilayah yang dilintasi.

Ardi Munthe
Oleh Ardi Munthe - Reporter
BMKG Ungkap Perubahan Arah Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau
Peta sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (Liputan6.com/Istimewa)

Arah pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali mengalami perubahan akibat dinamika angin di atmosfer. Kondisi ini membuat sebaran abu bergerak ke sejumlah wilayah dengan arah berbeda pada setiap lapisan ketinggian.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Raden Inten Lampung menyatakan perubahan pola tersebut terpantau melalui informasi Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin dan analisis citra satelit Himawari-9.

Forecaster On Duty BMKG Raden Inten Lampung, Pebri Surgiansyah, mengatakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini bergerak dengan pola berbeda pada sejumlah lapisan ketinggian.

"Berdasarkan informasi SIGMET terbaru yang berlaku pukul 13.39-16.39 WIB, abu vulkanik yang teramati pada pukul 13.10 WIB hingga ketinggian 12.000 kaki bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 5 knot," kata Pebri, Minggu (6/9/2026).

Pada lapisan hingga ketinggian 50.000 kaki, abu vulkanik bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan sekitar 10 knot. Sementara itu, intensitas sebaran abu pada kedua lapisan tersebut masih dilaporkan tetap.

"Teramati sebaran debu abu vulkanik Gunung Krakatau pada ketinggian hingga 12.000 feet bergerak ke arah barat dengan kecepatan 5 knots. Sedangkan pada ketinggian hingga 50.000 feet bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan 10 knots," jelasnya.

2 Klaster Sebaran

Analisis terbaru BMKG juga mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Analisis tersebut mengacu pada informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), VAAC Darwin, serta citra RGB Himawari-9 pada pukul 16.00 WIB.

"Klaster pertama terpantau mulai dari permukaan hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki. Abu pada lapisan ini bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya," ungkapnya.

Klaster kedua terpantau dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki. Pada lapisan ini, abu vulkanik bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.

"Jalur sebaran klaster kedua mencakup sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Barat, Selat Sunda, hingga perairan Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten," sebutnya.

Dinamika angin yang terus berubah menyebabkan pola sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga bergerak dinamis. Kondisi ini perlu menjadi perhatian, khususnya bagi masyarakat yang berada di jalur sebaran abu serta sektor penerbangan.

BMKG masih terus memantau perubahan arah angin dan pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dengan menggunakan data atmosfer serta citra satelit terbaru.

Rekomendasi