Sejumlah Gejala Overstimulasi yang Mungkin Kita Alami dalam Kehidupan Sehari-hari

Overstimulasi tidak hanya terjadi pada bayi saja, hal ini juga bisa dialami oleh orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari dengan gejala berikut:

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Sejumlah Gejala Overstimulasi yang Mungkin Kita Alami dalam Kehidupan Sehari-hari
Ilustrasi Kurang Tidur Credit: pexels.com/Andrea (© 2024 Liputan6.com)

Pernahkah Anda merasa kewalahan dengan semua hal yang terjadi di sekitar Anda? Mungkin suara televisi, tangisan bayi, dering ponsel, hingga suara bising dari luar rumah terasa seperti terlalu banyak untuk ditangani. Jika iya, Anda mungkin sedang mengalami overstimulasi, kondisi yang sebenarnya dialami oleh banyak orang dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut survei, sebanyak 82% orang dewasa melaporkan pernah merasakan gejala overstimulasi. Meski tampak sepele, efek dari kondisi ini bisa berdampak besar pada kesehatan mental dan kesejahteraan kita.

Apa Itu Overstimulasi?

Dilansir dari Well and Good, overstimulasi atau sensory overload terjadi ketika otak dan sistem saraf kita menerima terlalu banyak informasi dari lingkungan, hingga melampaui kapasitas untuk memprosesnya. “Sensory overload adalah kondisi yang kita alami ketika terlalu banyak informasi sensorik masuk,” jelas April Snow, LMFT, seorang terapis yang fokus pada individu dengan sensitivitas tinggi dan introversi.

Ketika hal ini terjadi, sistem saraf kita cenderung salah mengartikan situasi sebagai ancaman. Respon tubuh pun terbagi menjadi dua: fight or flight (melawan atau melarikan diri) atau freeze (membeku). Snow menggambarkan situasi ini sebagai “kehabisan daya” pada sistem saraf, yang membuat tubuh kesulitan mengatur dirinya sendiri.

Caitlin Slavens, seorang psikolog berlisensi asal Kanada, menambahkan bahwa overstimulasi seringkali diperburuk oleh kondisi seperti kecemasan, depresi, kelelahan, kurang tidur, atau bahkan rasa lapar. “Sistem saraf Anda seperti ember yang hampir kosong; dengan cadangan yang minimal, tubuh akan kesulitan mengatur dirinya sendiri,” kata Slavens.

Overstimulasi dapat memunculkan beragam gejala tergantung pada respons tubuh:

Gejala Fight or Flight:

Kecemasan

Iritabilitas

Kemarahan

Napas cepat

Pikiran yang terus berpacu

Gejala Freeze:

Lelah atau merasa malas

Mati rasa atau tidak merasakan emosi

Kesulitan berkonsentrasi

Kesulitan mengambil keputusan

“Ketika sistem saraf Anda tidak seimbang, bagian depan otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan fungsi eksekutif akan ‘mati’. Akibatnya, kita sulit berpikir jernih, tidur nyenyak, atau bahkan fokus,” jelas Snow.

5 Tips Jaga Kesehatan Mata Saat Bekerja di Depan Laptop Seharian
Ilustrasi stres, depresi, anxiety, lelah bekerja. (Photo By Unsplash) © 2024 Liputan6.com

Meskipun terdengar menantang, ada berbagai cara yang bisa kita lakukan untuk mengelola overstimulasi. Berikut beberapa langkah praktis yang disarankan para ahli:

1. Ingatkan Diri Bahwa Anda Aman

Berbicara pada diri sendiri mungkin terdengar aneh, tetapi hal ini sangat efektif. Dengan mengatakan, “Saya aman,” sistem saraf akan mulai merespons dengan lebih tenang.

2. Alihkan Fokus pada Lingkungan Sekitar

Jika Anda tidak bisa menjauh dari situasi yang membuat stres, cobalah mengalihkan perhatian. “Lihat ke kiri dan kanan untuk memperluas sudut pandang Anda,” saran Snow. Cara ini membantu otak memahami bahwa lingkungan sekitar sebenarnya tidak berbahaya.

3. Perlambat Aktivitas Anda

Ketika jadwal Anda terasa padat, usahakan untuk memperlambat ritme. Dengan memberi waktu lebih bagi tubuh untuk memproses informasi, sistem saraf akan lebih siap menghadapi stimulasi berikutnya.

4. Ambil Jeda dari Lingkungan yang Membuat Stres

Jika memungkinkan, luangkan beberapa menit untuk “melarikan diri” dari situasi yang terlalu membebani. Berada di ruangan yang sepi atau bahkan di luar rumah selama beberapa saat dapat memberikan sistem saraf waktu untuk pulih.

5. Latih Pernapasan Mindful

Cobalah teknik seperti box breathing: tarik napas selama empat hitungan, tahan selama empat hitungan, hembuskan selama empat hitungan, lalu tahan lagi selama empat hitungan. Ulangi hingga Anda merasa lebih tenang.

6. Gerakan Bilateral

Melakukan gerakan kiri-ke-kanan seperti berjalan, menggoyangkan kaki, atau mengetuk paha dapat membantu otak mengolah informasi dengan lebih baik.

7. Beri Tekanan pada Tubuh

Tekanan ringan pada tubuh, seperti memeluk diri sendiri atau menggunakan selimut berbobot, dapat memberikan efek menenangkan pada sistem saraf.

Meskipun strategi di atas dapat membantu mengelola overstimulasi, ada kalanya kita perlu mencari bantuan profesional. Jika gejala overstimulasi terus mengganggu aktivitas sehari-hari atau terjadi secara berulang, segera konsultasikan dengan tenaga medis atau psikolog untuk mendapatkan penanganan yang lebih mendalam.

Overstimulasi adalah respons alami tubuh terhadap lingkungan yang penuh dengan informasi. Namun, dengan langkah-langkah yang tepat, kita bisa mengelola kondisi ini agar tidak mengganggu keseharian. Ingatlah, “Tubuh kita hanya memberi sinyal bahwa sistem saraf sudah mencapai batasnya,” ujar Snow. Jadi, saat Anda merasa kewalahan, gunakan strategi yang telah dibahas untuk membantu menenangkan pikiran dan tubuh Anda.

Jangan lupa, menjaga kesehatan diri adalah prioritas utama, karena hanya dengan kondisi tubuh dan pikiran yang sehat kita dapat menjalani hidup dengan lebih baik.

Rekomendasi