Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasi Toasted Skin Syndrome atau Sindrom Kulit Terpanggang

Sindrom kulit panggang (eritema ab igne) disebabkan paparan panas kronis dari laptop, pemanas, hingga kompor; kenali gejala, diagnosis, dan pengobatannya.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasi Toasted Skin Syndrome atau Sindrom Kulit Terpanggang
Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasi Toasted Skin Syndrome atau Sindrom Kulit Terpanggang (Merdeka.com)

Sindrom kulit panggang, atau yang dikenal secara medis sebagai eritema ab igne, adalah kondisi kulit yang disebabkan oleh paparan panas dalam jangka waktu lama. Kondisi ini ditandai dengan perubahan warna kulit, biasanya bercak merah yang kemudian berubah menjadi cokelat kecokelatan, membentuk pola seperti jala. Gejala lainnya meliputi rasa gatal dan terbakar. Penyebab utamanya adalah paparan panas tingkat rendah secara kronis dari berbagai sumber, seperti laptop di pangkuan, bantal pemanas, selimut listrik, pemanas ruangan, kursi mobil berpemanas, atau pekerjaan yang melibatkan paparan panas terus-menerus. Meskipun panasnya tidak cukup untuk menyebabkan luka bakar, paparan berulang dan berkepanjangan dapat merusak pembuluh darah superfisial, serat elastis, dan sel-sel kulit.

Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita, kemungkinan karena kebiasaan menggunakan bantal pemanas saat menstruasi untuk meredakan nyeri. Anak-anak juga berisiko, terutama jika sering bermain video game dengan laptop di pangkuan. "Sindrom kulit panggang atau eritema ab igne adalah kondisi kulit yang disebabkan oleh paparan panas yang berkepanjangan," jelas Dr. Shifa Yadav, seorang ahli dermatologi dilansir dari The Health Sites. Nama tersebut menggambarkan tampilan kulit yang "terpanggang". Area yang terkena, biasanya kaki, paha, atau punggung bawah yang terus-menerus terpapar sumber panas, akan berubah warna.

Paparan panas yang berkepanjangan menyebabkan kerusakan pada lapisan kulit yang lebih dalam, mengakibatkan perubahan warna. Panas menyebabkan pembuluh darah melebar, melepaskan melanin di kulit, dan membentuk bintik-bintik gelap. Dalam beberapa kasus, paparan panas juga dapat mengurangi elastisitas kulit dan merusak kolagen. Jika Anda memiliki kebiasaan meletakkan laptop di pangkuan saat bekerja atau menonton film, hentikan kebiasaan ini untuk mencegah sindrom kulit panggang. Kondisi ini relatif jarang, tetapi dapat meningkatkan risiko kanker kulit jika dibiarkan.

Gejala awal sindrom kulit panggang biasanya berupa kemerahan ringan pada kulit di area yang terpapar panas. Seiring waktu, kulit akan membentuk pola seperti jala dengan perubahan warna kecokelatan atau kemerahan. Kulit mungkin tidak terasa sakit pada awalnya, tetapi dapat menjadi kering, kasar, atau bersisik dengan paparan panas yang terus-menerus. Dalam beberapa kasus, kulit dapat melepuh atau terasa terbakar. "Gejala-gejala ini tidak boleh dianggap enteng, karena dalam kasus yang jarang terjadi, paparan panas jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker kulit di area yang terkena," kata Dr. Yadav.

Diagnosis sindrom kulit panggang dilakukan melalui pemeriksaan fisik oleh dokter kulit. Penampilan kulit yang khas, dengan pola seperti jala berwarna cokelat kemerahan, membantu mengidentifikasi kondisi ini. Dokter juga akan menanyakan riwayat paparan panas secara detail. Dalam beberapa kasus, biopsi atau sampel kulit mungkin diambil untuk memastikan bukan kanker kulit atau jenis dermatitis lainnya.

Meskipun umumnya jinak, sindrom kulit panggang dalam kasus yang jarang dapat meningkatkan risiko kanker kulit, seperti karsinoma sel skuamosa dan karsinoma sel Merkel. Namun, risiko ini sangat rendah. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami perubahan warna kulit yang mencurigakan, terutama jika disertai rasa gatal atau terbakar.

Pengobatan sindrom kulit panggang bergantung pada tingkat keparahannya. Pada kasus ringan, penghentian paparan sumber panas ke area yang terkena adalah langkah utama. Sebuah studi tahun 2017 dalam International Journal Of Dermatology menemukan bahwa penghilangan sumber panas menghasilkan remisi sempurna. "Pastikan Anda beristirahat dari perangkat seperti laptop setiap 30 menit untuk menghindari paparan yang berkepanjangan," saran Dr. Yadav.

Untuk mengatasi kekeringan atau iritasi kulit, gunakan pelembap, krim, dan salep yang menenangkan. "Anda dapat menggunakan yang mengandung lidah buaya, karena dapat membantu mengembalikan hidrasi dan menenangkan peradangan," kata Dr. Yadav. Pada kasus berat, seperti penebalan kulit atau perubahan pigmentasi, terapi laser atau obat topikal, seperti kortikosteroid, mungkin diresepkan. "Ini dapat membantu mengurangi peradangan dan memperbaiki penampilan kulit yang terkena sindrom kulit panggang," jelas Dr. Yadav.

Pencegahan adalah kunci. Hindari paparan panas yang berkepanjangan pada kulit. Jika Anda harus menggunakan sumber panas seperti bantal pemanas atau laptop, gunakan penghalang seperti handuk atau alas laptop untuk meminimalkan kontak langsung dengan kulit. Batasi durasi penggunaan dan gunakan pengaturan suhu terendah. Dengan menghindari paparan panas yang berkepanjangan, sindrom kulit panggang dapat dicegah. Konsultasikan dengan dokter kulit untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat jika Anda mengalami perubahan warna kulit yang mencurigakan.

Ingat, informasi ini bersifat umum dan tidak dapat menggantikan konsultasi dengan profesional medis. Selalu konsultasikan dengan dokter atau ahli kulit untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat sesuai kondisi Anda.

Rekomendasi