Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa berat badan naik meskipun Anda merasa sudah menjaga pola makan? Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kenaikan berat badan tidak selalu disebabkan oleh asupan kalori yang berlebihan. Faktor lain, terutama kondisi hidup yang tidak stabil, ternyata memainkan peran signifikan dalam penambahan berat badan. Penelitian ini, yang diterbitkan dalam International Journal of Obesity, mengungkapkan bahwa gangguan-gangguan dalam kehidupan, mulai dari cedera hingga perayaan hari raya, mungkin menjadi penyebab utama kenaikan berat badan tahunan pada sebagian besar orang.
Para peneliti berpendapat bahwa "ketidakstabilan gaya hidup" mungkin merupakan faktor risiko yang kurang diperhatikan untuk penambahan lemak tubuh yang berlebihan. Hal ini memiliki implikasi mendasar bagi strategi pencegahan obesitas dan kesehatan masyarakat. Mereka menemukan bukti yang menunjukkan bahwa penambahan berat badan terjadi secara tiba-tiba terkait dengan peristiwa kehidupan, bukan peningkatan bertahap dari waktu ke waktu. Anggapan selama ini bahwa berat badan bertambah secara bertahap karena mengonsumsi sedikit kalori lebih setiap harinya, perlu dikaji ulang.
Dilansir dari Science Alert, meskipun asupan makanan berperan besar dalam kesehatan, data yang dikumpulkan oleh teknologi baru seperti Fitbit menunjukkan bahwa penambahan berat badan mungkin lebih sporadis daripada yang diperkirakan sebelumnya. Segala sesuatu yang berpotensi mengubah pola makan dan aktivitas fisik dapat berkontribusi pada penambahan berat badan berlebih, termasuk stres belajar, masalah hubungan, penyakit, menjadi orang tua, dan penggunaan berbagai obat-obatan. Semakin banyak gangguan yang terjadi, semakin besar kemungkinan berat badan bertambah. Bahkan, sebuah penelitian menunjukkan bahwa hanya lima hari mengonsumsi makanan tidak sehat dapat memicu proses obesitas dalam tubuh.
Advertisement
Salah satu faktor utama yang memengaruhi berat badan adalah stres. Stres kronis memicu pelepasan hormon kortisol, yang dapat meningkatkan nafsu makan dan penyimpanan lemak perut. Kurang tidur juga mengganggu keseimbangan hormon, menyebabkan peningkatan nafsu makan dan penurunan metabolisme. Kondisi ini seringkali memicu keinginan untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori dan rendah nutrisi sebagai mekanisme mengatasi stres.
Perubahan pola makan yang tidak sehat seringkali terjadi pada individu yang mengalami ketidakstabilan hidup. Mereka mungkin lebih sering mengonsumsi makanan cepat saji atau makanan olahan yang tinggi gula dan lemak. Selain itu, ketidakstabilan hidup juga dapat mengurangi waktu dan energi untuk berolahraga, sehingga mengurangi pembakaran kalori. Beberapa obat yang digunakan untuk mengatasi masalah terkait stres atau ketidakstabilan mental juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan sebagai efek samping.
Seperti yang ditulis oleh Arthur Daw dan rekan-rekannya dari Loughborough University, "Ketidakstabilan gaya hidup mungkin merupakan faktor risiko yang kurang diapresiasi untuk penambahan lemak tubuh yang berlebihan, yang memiliki implikasi mendasar bagi strategi pencegahan obesitas dan kesehatan masyarakat." Mereka menekankan bahwa penambahan berat badan seringkali terjadi secara tiba-tiba, terkait dengan peristiwa kehidupan, bukan peningkatan bertahap.
Advertisement
Penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dapat memengaruhi metabolisme tubuh. Misalnya, suhu dingin dapat meningkatkan pembakaran kalori, sementara suhu panas dapat menurunkan metabolisme. Penelitian oleh Townsend dkk. (Nature Metabolism, 2023) menunjukkan bahwa perubahan suhu dapat memengaruhi laju penggunaan glukosa dan asam lemak (Rd).
Meskipun peristiwa yang mengganggu stabilitas hidup juga termasuk aktivitas yang menyenangkan, seperti makan berlebihan saat perayaan Natal, teori ini juga sesuai dengan hubungan yang telah mapan antara stres dan kenaikan berat badan. Peningkatan kortisol akibat stres dapat menekan fungsi biologis yang tidak dibutuhkan untuk bertahan hidup, seperti metabolisme. Hal ini membebaskan darah dan energi untuk tindakan segera. Lonjakan kortisol dapat memengaruhi kadar insulin, menyebabkan penurunan gula darah, dan memicu keinginan untuk mengonsumsi makanan manis.
Mekanisme ini mungkin bermanfaat ketika kita perlu melarikan diri dari bahaya, tetapi tidak untuk jenis stres yang berkelanjutan yang lebih mungkin kita alami saat ini, seperti stres keuangan akibat meningkatnya biaya hidup. Teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan, mungkin dapat membantu mengurangi risiko selama gangguan kehidupan.
Advertisement
Kenaikan berat badan merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan asupan kalori tetap menjadi faktor utama. Namun, kondisi hidup yang tidak stabil, seperti stres, kurang tidur, dan perubahan pola hidup, juga berkontribusi signifikan terhadap penambahan berat badan melalui mekanisme yang memengaruhi asupan kalori dan aktivitas fisik. Untuk mengelola berat badan, penting untuk memperhatikan keseimbangan energi, mengelola stres, cukup tidur, dan menjalani gaya hidup sehat yang mencakup pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur. Jika mengalami kenaikan berat badan yang signifikan atau tiba-tiba, konsultasikan dengan dokter.
"Jika pengganggu gaya hidup adalah pendorong utama kenaikan lemak tahunan, strategi pencegahan harus fokus pada peristiwa-peristiwa ini," simpul Daw dan tim. "Jika penambahan lemak terjadi dalam episode singkat, intervensi yang efektif mungkin hanya membutuhkan perubahan perilaku sementara yang tidak sering." Ingatlah bahwa banyak faktor yang berkontribusi pada berat badan kita, termasuk beberapa faktor yang di luar kendali kita. Oleh karena itu, fokus pada makan dan bergerak secara sehat, daripada pada berat badan itu sendiri, dapat meningkatkan peluang hasil yang lebih sehat.