Wamendagri Bima Arya: Pelajaran dari 'The Great Wave', Kunci Membaca Tanda Zaman di Era Disrupsi
Wamendagri Bima Arya Sugiarto mengingatkan pentingnya kemampuan membaca tanda zaman untuk menghadapi gelombang perubahan dan disrupsi radikal, mengutip nasihat cendekiawan dan buku 'The Great Wave'.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto baru-baru ini menekankan pentingnya kemampuan membaca tanda zaman. Kemampuan ini krusial untuk menghadapi gelombang besar perubahan di berbagai sektor kehidupan.
Pesan ini disampaikan Bima Arya dalam kapasitasnya sebagai keynote speaker pada Pertemuan dan Konsolidasi Regional KAHMI se-Sulawesi. Acara tersebut berlangsung di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Kota Makassar.
Menurutnya, siapa pun yang mampu membaca tanda-tanda zaman dengan baik akan menjadi pemenang dalam persaingan global. Nasihat ini selalu ia pegang teguh dari para cendekiawan dan senior KAHMI.
Nasihat Cendekiawan dan Refleksi Sejarah
Bima Arya Sugiarto mengungkapkan bahwa nasihat tentang pentingnya membaca tanda-tanda zaman kerap ia dengar dari cendekiawan seperti Nurcholish Madjid dan Amien Rais. Nasihat ini membentuk pandangannya dalam menghadapi dinamika perubahan.
Ia mengutip, "Cak Nur sering sekali bilang seperti itu, Pak Amien sering sekali bilang seperti itu. Walaupun sejarah mencatat tidak semua menjadi pemenang di ujung dari zamannya, tetapi nasihat untuk membaca tanda-tanda zaman itu selalu saya pegang teguh." Pernyataan ini menunjukkan komitmennya terhadap prinsip tersebut.
Kemampuan membaca tanda zaman, menurut Bima, adalah kunci untuk mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan. Mereka yang memiliki kemampuan ini akan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.
Inspirasi dari 'The Great Wave' dan Disrupsi Radikal
Dalam kesempatan tersebut, Bima Arya juga menyinggung buku berjudul The Great Wave: The Era of Radical Disruption and the Rise of the Outsider karya Michiko Kakutani. Ia memberikan perhatian khusus pada sampul buku tersebut.
Sampul buku tersebut menampilkan karya seni Jepang abad ke-19, The Great Wave off Kanagawa, yang menggambarkan perahu nelayan kecil diterjang gelombang raksasa. Di kejauhan, Gunung Fuji tampak kecil dan tenang.
Gambar ini melambangkan perpaduan antara tantangan, keganasan, dan ketenangan. Bima menjelaskan, "Ada yang menafsirkan ini sebagai Yin and Yang. Ada yang menafsirkan ini sebagai satu skill untuk selalu waspada dalam era perubahan."
Kakutani, seorang jurnalis pemenang Pulitzer, dalam bukunya menyatakan bahwa dunia kini berada di era disrupsi radikal dan kebangkitan outsider. Fenomena ini menuntut masyarakat untuk tidak terpaku pada hal-hal yang sudah mapan.
Bima mencontohkan kemunculan tokoh seperti Donald Trump di Amerika Serikat dan Volodymyr Zelenskyy di Ukraina, yang bukan berasal dari sistem politik konvensional namun berhasil menjadi pemimpin. Fenomena serupa juga terjadi di industri hiburan, di mana dominasi Hollywood mulai disaingi oleh film dan musik dari Asia hingga Afrika.
Pergeseran Episentrum Dunia dan Strategi Bangsa
Bima Arya mengajak peserta untuk menelaah konsep The Great Wave sebagai bahan refleksi bagi perjalanan bangsa ke depan dalam membaca tanda-tanda zaman. Ia menyoroti pergeseran episentrum dunia ke Asia saat ini.
Ia juga mengingatkan pandangan Samuel Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations, yang menekankan pentingnya membaca tanda-tanda zaman di tengah pergeseran tatanan dunia dari unipolar menuju multipolar.
Dalam konteks global ini, Bima mengajak untuk merenungkan arah dan strategi bangsa ke depan. Ia memberikan contoh keberhasilan China yang dalam 40 tahun mampu mengangkat 800 juta penduduk dari kemiskinan.
Keberhasilan China ini dicapai melalui kombinasi inovasi dan pemerintahan yang efektif. "Pemerintahan sangat efektif dan inovasi berjalan tanpa henti, atau dalam tagline yang mereka sering sampaikan, innovation with China's characteristics," ujarnya, menyoroti inovasi yang tetap mempertahankan karakter budaya.
Mempersiapkan Generasi Muda untuk Masa Depan
Di akhir paparannya, Bima Arya mengajak seluruh peserta untuk berperan aktif dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan Indonesia yang lebih maju. Hal ini krusial untuk memastikan keberlanjutan pembangunan.
Ia menekankan pentingnya melahirkan tokoh-tokoh transformatif yang memimpin dengan nilai, bukan kepentingan pribadi. Kepemimpinan berbasis nilai akan membawa dampak positif yang lebih besar bagi bangsa.
Bima menegaskan, "Negara ini harus dibimbing dan selalu dijaga oleh tokoh-tokoh transformatif. Memimpin dengan nilai dan bukan dengan kepentingan. Mari kita ajak adik-adik kita untuk menjadi sosok-sosok transformatif, berjuang karena nilai, bukan berjuang untuk bertemu kepentingan."
Sumber: AntaraNews