Panitia Khusus (Pansus) Tata Ruang Aset dan Perizinan (TRAP) DPRD Bali mengambil tindakan tegas. Mereka menutup sementara sejumlah restoran berbeton di kawasan subak Jatiluwih, Tabanan. Penutupan ini dilakukan pada awal Desember 2023 sebagai respons atas maraknya alih fungsi lahan.
Ketua Pansus TRAP DPRD Bali, I Made Supartha, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk penataan. Kondisi penyempitan lahan sawah akibat bangunan beton dinilai mengancam identitas budaya Bali. Ini juga berpotensi merusak citra Jatiluwih sebagai destinasi sawah terindah.
Subak Jatiluwih sendiri telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia sejak tahun 2012. Namun, pemanfaatan lahan sawah mulai disalahgunakan oleh beberapa pihak. Oleh karena itu, Pansus TRAP bersama Satpol PP Bali turun tangan memeriksa dan menemukan pelanggaran.
Advertisement
Advertisement
Penataan Kawasan Warisan Dunia UNESCO
Penutupan restoran berbeton di Jatiluwih ini merupakan respons serius terhadap ancaman terhadap status Warisan Budaya Dunia UNESCO. I Made Supartha mengingatkan bahwa status tersebut tidak mudah diraih. Keindahan sawah terasering Jatiluwih adalah aset yang membanggakan dan harus dijaga.
Lambat laun, pemanfaatan lahan sawah di Jatiluwih mulai disalahgunakan. Banyak lahan produktif beralih fungsi menjadi bangunan beton. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan hilangnya identitas budaya dan keaslian lanskap pertanian tradisional Bali.
Dalam sidak yang dilakukan, dewan bersama Satpol PP Bali menemukan 13 pemilik bangunan restoran. Mereka terbukti melanggar aturan pemanfaatan ruang dan tidak mengantongi izin lengkap. Pelanggaran ini menjadi dasar utama penutupan sementara yang dilakukan.
Advertisement
Supartha menegaskan bahwa kehadiran pansus bukan untuk menghambat pembangunan di Jatiluwih. Sebaliknya, tujuan utamanya adalah memastikan penataan ruang berjalan benar. Ini juga untuk menjaga warisan budaya serta membangun ekonomi rakyat tanpa merusak alam.
Advertisement
Regulasi dan Solusi Jangka Panjang untuk Jatiluwih
Setelah penutupan restoran, Satpol PP Bali akan memanggil para pemilik bangunan. Pemanggilan ini bertujuan untuk dimintai kelengkapan izin dan langkah selanjutnya. Hal ini juga untuk memastikan penutupan tidak berdampak negatif pada kunjungan wisatawan akhir tahun.
Pansus TRAP DPRD Bali saat ini sedang menyusun kajian solusi komprehensif. Kajian ini bertujuan agar Bali tetap bisa melestarikan sawah dan menjaga status warisan budaya. Selain itu, solusi ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan.
Salah satu proyeksi solusi adalah menata rumah-rumah penduduk menjadi penginapan berstandar internasional. Selain itu, akan didesain pula restoran khas desa yang menampilkan kuliner lokal. "Warga akan dilibatkan penuh dalam pengelolaan wisata," ujar Supartha, "sehingga pendapatan tidak lagi didominasi pihak luar atau kelompok pemodal tertentu."
Advertisement
Terkait keinginan membangun di dalam sawah, ketua pansus mengingatkan adanya regulasi. Area yang dapat dibangun adalah 3x6 meter yang disebut badan sampi (kandang sapi). Area ini bisa difungsikan untuk usaha menjual kopi dan jajanan Bali, namun tidak dengan bangunan beton.
Advertisement
Pemberdayaan Petani dan Ekonomi Lokal Berkelanjutan
Konsep "badan sampi" ini diharapkan menjadi solusi cerdas bagi pemilik lahan. "Konsep ini nanti mau dijelaskan, dibuat nantinya yang artistik dan nanti memang dimiliki oleh pemilik lahan, bukan investor luar," kata dia. Area kecil ini mampu menjadi sumber kesejahteraan petani.
Selain pemanfaatan "badan sampi," langkah lain yang dipertimbangkan adalah pemberian insentif. Insentif ini berupa penyediaan sarana produksi pertanian. Bantuan benih, pupuk, perhatian terhadap irigasi, dan asuransi pertanian akan disalurkan kepada petani.
Penguatan sistem subak juga menjadi prioritas untuk menjaga produksi pertanian tetap stabil. Hal ini penting agar tidak terganggu oleh perubahan iklim atau alih fungsi lahan. Perhatian terhadap pemasaran hasil pertanian juga akan ditingkatkan.
Advertisement
Dengan pendekatan ini, diharapkan masyarakat lokal dapat terlibat aktif dalam pengelolaan pariwisata. Mereka juga dapat merasakan manfaat ekonomi secara langsung. Ini sejalan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan dan budaya Jatiluwih.
Sumber: AntaraNews