Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk pertama kalinya menyambangi wartawan Istana Kepresidenan di ruang media usai menunaikan Shalat Jumat pada 24 Oktober lalu. Berbeda dari biasanya, kali ini Bahlil yang menghampiri para jurnalis, bukan sebaliknya. Suasana diskusi berlangsung santai, di mana Bahlil masih mengenakan baju koko putih dan peci yang menjadi ciri khasnya.
Perhatian awak media tertuju pada sepatu kuning yang dikenakan Bahlil, yang ternyata memiliki lambang Kementerian ESDM. Dengan bangga, Bahlil menjelaskan bahwa sepatu tersebut merupakan produk lokal dari UMKM, senada dengan warna logo kementeriannya. Diskusi ini kemudian berlanjut ke berbagai topik, termasuk kisah hidupnya dan tanggapannya terhadap meme di media sosial.
Pertemuan santai ini menjadi ajang bagi Bahlil untuk menyampaikan pandangannya terhadap kritik, sekaligus menegaskan fokus pemerintah pada upaya besar. Salah satu fokus utamanya adalah mewujudkan kemandirian energi nasional, sebuah cita-cita yang terus digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Advertisement
Advertisement
Kisah di Balik Sepatu Kuning dan Masa Lalu Bahlil
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Bahlil Lahadalia menarik perhatian dengan sepatu kuning berlogo Kementerian ESDM yang ia kenakan. Sepatu tersebut, yang disebutnya sebagai produk UMKM lokal seharga Rp250 ribu, menjadi simbol kebanggaan terhadap produk dalam negeri dan penegasan bahwa urusan politik tidak dicampuradukkan dengan urusan pemerintahan. Ia bahkan berkelakar ingin membagikan sepatu tersebut kepada awak media.
Sambil makan siang, Bahlil juga menceritakan kisah hidupnya yang penuh perjuangan sejak kecil. Lahir dari orang tua dengan penghasilan terbatas—ibunya buruh cuci dan ayahnya buruh bangunan—Bahlil mengaku sudah terbiasa dihina sejak kecil. "Saya memang sudah biasa dihina sejak masih kecil. Karena saya kan bukan anak pejabat, saya anak orang dari kampung. Ibu saya hanya buruh cuci di rumah orang, ayah saya buruh bangunan," kenangnya.
Pengalaman hidup sulit ini, mulai dari berjualan kue ibunya saat SD hingga menjadi kenek dan sopir angkot saat kuliah, telah membentuk mental Bahlil. Oleh karena itu, berbagai meme dan ujaran kebencian yang beredar di media sosial belakangan ini tidak terlalu dihiraukannya. Baginya, hinaan semacam itu bukanlah hal baru, bahkan setelah ia menjadi pembantu presiden.
Advertisement
Advertisement
Menanggapi Kritik dan Kebijakan Publik
Sebagai salah satu menteri yang sering menjadi sorotan di media sosial, Bahlil Lahadalia tidak menampik bahwa berbagai kebijakan Kementerian ESDM yang dipimpinnya kerap menuai pro-kontra. Contohnya adalah kebijakan larangan pengecer menjual gas elpiji 3 kilogram yang sempat menimbulkan kesulitan bagi masyarakat, meskipun akhirnya diralat.
Terkait isu kelangkaan BBM di sejumlah SPBU swasta, Bahlil menegaskan bahwa kuota impor BBM untuk perusahaan swasta pada tahun ini sudah ditambah 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ia juga memberikan opsi agar SPBU swasta dapat bekerja sama dengan Pertamina terkait pembelian BBM. Bahlil menduga bahwa meme dan ujaran kebencian terhadap dirinya merupakan indikasi adanya pihak yang ingin mengintervensi kebijakan pemerintah.
Meskipun demikian, Bahlil menyatakan telah memaafkan pihak-pihak yang membuat ujaran kebencian berupa meme tersebut. Ia bahkan meminta sayap organisasi Partai Golkar untuk menghentikan proses pelaporan mereka. "Saya pikir ya, kalau ada yang meme-meme, sudah lah saya maafkan. Tidak apa-apa. Sebenarnya kalau kritisi kebijakan itu tidak apa-apa, tapi kalau sudah pribadi, sudah mengarah ke rasis, itu menurut saya tidak bagus," tegasnya, sembari menganggap gangguan tersebut sebagai "vitamin" untuk terus berjalan.
Advertisement
Advertisement
Mendorong Kemandirian Energi Nasional
Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kebijakan yang ia buat semata-mata untuk mewujudkan cita-cita Presiden Prabowo Subianto, yakni kedaulatan atau kemandirian energi. Presiden Prabowo selalu menekankan pentingnya ekonomi berkeadilan sesuai Pasal 33 UUD 1945, di mana kekayaan alam digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Untuk mencapai target 80 persen kemandirian energi pada tahun 2029, Kementerian ESDM berupaya menekan impor dan meningkatkan lifting migas. Pada September-Oktober, lifting migas telah mencapai 619.000 barel per hari, melampaui target APBN 2025 sebesar 605.000 barel per hari. Upaya ini tidak hanya bersandar pada APBN, mengingat banyaknya program prioritas pemerintah lainnya.
Selain itu, Kementerian ESDM menargetkan implementasi Biodiesel B50, yaitu penggunaan bahan bakar solar dengan campuran 50 persen bahan nabati, mulai semester II tahun 2026. Dengan B50, impor solar yang saat ini mencapai 4,9-5 juta ton per tahun dapat ditekan, dengan potensi penghematan devisa hingga 10,84 miliar dolar AS dalam satu tahun. Pemerintah juga mengkaji penerapan E10 (bioetanol dengan campuran etanol 10 persen) untuk mengurangi ketergantungan impor etanol, menjajaki kolaborasi dengan industri singkong, jagung, dan tebu untuk memenuhi target produksi 1,4 juta kiloliter etanol.
Advertisement
Kemandirian energi, bersama dengan pangan, merupakan topik yang selalu ditekankan Presiden Prabowo dalam berbagai pidatonya, termasuk di PBB. Anomali Indonesia yang kaya sumber daya alam namun masih impor BBM menguji kedaulatan ekonomi dan negara. Oleh karena itu, upaya Bahlil untuk mewujudkan kemandirian energi menjadi refleksi dari visi Presiden Prabowo bahwa kedaulatan sejati lahir dari kemampuan bangsa untuk mengatur dirinya sendiri.
Sumber: AntaraNews