Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP Partai Demokrat, Andi Arief, membantah tudingan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto yang menyebut bahwa Partai Demokrat melalukan penjegalan pada Pemilu 2009. Yang mana, pada saat itu PDI Perjuangan bakal berkoalisi dengan PPP namun gagal.
"Tidak benar," kata Andi Arief saat dihubungi merdeka.com, Senin (19/9).
Andi Arief mengungkapkan, Demokrat lah yang dijegal pada saat pemilu 2009. Melalui mekanisme ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold (PT).
"Untuk 2009 itu justru Pak SBY yang mau digagalkan karena PT 20 persen itu upaya menggagalkan presiden, ya kita banyak saksi sejarah yang tau. Jadi tidak benar, justru Demokrat Pak SBY yang akan dijegal dengan asumsi tidak mencapai 20 persen Demokrat, tenyata Demokrat bisa mencapai 20 persen bahkan lebih," ungkapnya.
Dia pun mengatakan,Hasto pada Pemilu 2009 tidak mengerti bagaimana perkembangan politik saat itu. Sebab, Hasto tidak banyak berperan pada Pemilu 2009.
"Pak Hasto saya kira tidak mengerti banyak politik saat itu ya mungkin ya tempatnya di pojok-pokok jadi tidaj mengerti apa yang sebenernya berkembang di partai dan partai koalisi. Pada waktu itu PDI Perjuangan masih ada Pak Taufiq Kiemas, masih ada tokoh-tokoh senior jadi dia tidak terlalu banyak mengerti," tegas Andi Arief.
Advertisement
PDIP Korban Jegal di Pemilu 2009
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengungkapkan, PDIP yang menjadi korban penjegalan pada Pemilu 2009 silam. Hasto menjelaskan, pada saat itu PDIP telah menyetujui kerja sama politik dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Namun sayangnya partai berlambang kepala banteng itu dijegal, sehingga PDIP memutuskan koalisi dengan Gerindra.
"2009 Sebenarnya elite PDIP dengan PPP, dengan Pak Suryadharma Ali sebenarnya sudah merencanakan kerja sama, sehingga kita bisa memenuhi syarat PT tapi di putaran terakhir ada penjegalan sehingga pada akhirnya PDIP bekerja sama dengan Gerindra," kata Hasto, dalam konferensi pers yang disiarkan secara virtual, Minggu (19/9).