SBY: Rakyat akan dikebiri bila uang jadi penentu segala-galanya

"Tiga pemilu sebelumnya, Pemilu 2004, Pemilu 2009 dan Pemilu 2014, berlangsung secara damai, adil dan demokratis. Sejarah akan menguji apakah negara dapat mempertahankan prestasi ini," kata SBY di acara HUT ke 17 Partai Demokrat, di Djakarta Theater, Selasa (17/9).

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
SBY: Rakyat akan dikebiri bila uang jadi penentu segala-galanya
Rapimnas Demokrat. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Bangsa Indonesia akan menghadapi hajat politik besar pada 2019 mendatang. Selain pemilihan legislatif, masyarakat Indonesia akan kembali menggunakan hak suaranya untuk memilih presiden untuk periode 2019-2024.

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyadari tahun depan suhu politik di Tanah Air akan memanas. Saat itulah, negara diuji apakah proses pemilu nanti bisa berlangsung adil, damai dan demokratis.

"Tiga pemilu sebelumnya, Pemilu 2004, Pemilu 2009 dan Pemilu 2014, berlangsung secara damai, adil dan demokratis. Sejarah akan menguji apakah negara dapat mempertahankan prestasi ini," kata SBY di acara HUT ke 17 Partai Demokrat, di Djakarta Theater, Selasa (17/9).

"Kita akan diuji, apakah untuk meraih kemenangan dalam pemilu, ada yang tergoda menghalalkan segala cara. Termasuk menyalahgunakan kekuasaan, melanggar Undang-Undang serta menghalang-halangi pihak lain untuk menjalankan kampanye pemilu yang semestinya. Kita akan diuji apakah pemilu ini bisa mencegah politik uang yang makin menjadi-jadi. Demokrasi akan runtuh dan rakyat akan dikebiri manakala uang menjadi penentu segala-galanya. Gelap politik kita kalau uang digunakan sebagai alat untuk membeli suara rakyat dan juga sebagai transaksi terbangunnya koalisi partai-partai," sambung SBY.

Dia juga berharap pemilu tahun depan akan bebas intimidasi. Katanya, kekuasaan diharapkan tak disalahgunakan untuk memaksa seseorang memilih kandidat tertentu.

Ditambahkan SBY, jika semua orang memahami esensi politik yang beradab, dipastikan tidak ada lagi tindakan korupsi di negara ini. Sebab sejatinya, esensi politik beradab adalah kekuasaan yang amanah, terjaminnya kebebasan berbicara, demokrasi yang tertib dan tidak anarkis.

"Jika semua menghormati sistem pergantian kepemimpinan politik, termasuk Presiden, dan tidak ada gerakan untuk menjatuhkan Presiden di tengah jalan secara inkonstitusional," katanya.

"Kita terus membangun politik dan demokrasi yang makin matang, makin berkualitas dan akhirnya makin beradab. Kita juga terus diuji apakah dalam perjalanan bangsa ini, termasuk pemilu yang akan kita laksanakan, politik dan demokrasi yang beradab itu dapat kita jaga dan kembangkan," tegas SBY.

Rekomendasi