Nama Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko disebut-sebut sebagai salah satu yang dijagokan sebagai calon wakil presiden (Cawapres) pendamping Joko Widodo. Namun Moeldoko dinilai kurang mendapat dukungan partai koalisi apabila akan maju menjadi cawapres.
"Moeldoko salah satu juga nama yang diwacanakan. Kembali kelemahannya ada pada dukungan partai, mampukah dia mendekati partai politik supaya dia diusung. Itu pertanyaan kita," kata Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing di Jakarta, seperti dilansir Antara, Sabtu (14/7).
Partai politik akan mempersoalkan kepentingan yang akan diperoleh dan ditawarkan dari Moeldoko. Kekurangan Moeldoko untuk menjadi cawapres adalah elektabilitas yang kurang tinggi dan rendahnya massa riil pendukungnya.
Meski Moeldoko kurang dukungan politik, dia memiliki sisi positif berupa seorang panglima yang mendukung pluralisme dan kebangsaan secara konsisten, baik saat menjabat dan setelahnya.
Kepala Staf Kepresidenan itu, disebut Emrus, tidak pernah mengangkat isu yang dapat menimbulkan polarisasi di masyarakat, bahkan hingga pensiun pendapat tentang politik kebangsaan yang selalu disampaikannya.
"Dari sudut dukungan politik terutama partai masih belum bisa modal untuk maju menjadi cawapres," kata dia pula.