Demo 20 Mei #TurunkanJOKOWI hanya galak di media sosial

Isu itu dinilai terburu-buru dan tidak mendapat respons masyarakat.

Muchlisa Choiriah
Oleh Muchlisa Choiriah - Reporter
Demo 20 Mei #TurunkanJOKOWI hanya galak di media sosial
mahasiswa demo istana. ©2015 merdeka.com/arie basuki

Maraknya hastag #TurunkanJOKOWI di media sosial dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke 107 tahun nyatanya hanya galak media sosial. Dari hasil pantauan merdeka.com hampir, sepanjang Rabu (20/5) kemarin seharianbisa dikatakan demo berlangsung adem ayem.kicauan tersebut antara lain:‏@info_ekurniawan Mari rapatkan barisan menyongsong hari kebangkitan nasional 20 mei 2015 #turunkanjokowi@RizkyMulyady JOKOWI. Presiden gatau diri, rakyat udah gamau dipimpin dia tp masih aja menjabat. Gapunya malu! #TurunkanJOKOWI‏@GheaAghistyan Msh seumur jagung (katanya), blm setahun aja udh bejat hasilnya. Gimana nanti? kalo kata wakilnya "bisa hancur negeri ini!"#TurunkanJokowiDirektur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA)sekaligus pengamat politik, Ray Rangkuti mengungkapkan bahwa gerakan atau isu yang dilayangkan di twitter tersebut terlalu cepat, sehingga sebagian masyarakat tidak paham isu, alhasil demo pun tidak mempunyai banyak pengikut."Isu gerakan turunkan Jokowi itu terlalu cepat. Kemarin Jokowi terpilih atas pilihan dasar masyarakat, jadi ide soal penurunan bukan ide umum yang berkembang di tengah masyarakat. Oleh karena itu, bisa dipahami bahwa isu penurunan itu tidak mendapat respons yang cukup oleh masyarakat karena terlalu cepat dan terburu-buru," ujar Ray saat dihubungi merdeka.com, Rabu (20/5) malam.Ray menjelaskan seharusnya isu yang dilayangkan jangan dulu masuk ke isu penurunan Jokowi, namun isu harusnya lebih meminta pertanggungjawaban Jokowi seperti bagaimana cara dia mengelola Indonesia selama enam bulan terakhir ini. Artinya isunya adalah berkaitan dengan isu-isu yang terkait dengan ketidakjelasan secara umum atas pengelolaan Jokowi terhadap bangsa dan negara ini."Mereka bisa mendemo isu lain, misalnya kelemahan KPK. Harus dipastikan Jokowi memiliki kepedulian yang kuat dalam rangka memperkuat fungsi dan kedudukan KPK. Selain KPK, mereka bisa memainkan isu reformasi institusi polisi yang tiga tahun terakhir ini selalu menjadi lembaga masyarakat paling lemah. Jika isu seperti itu, mungkin bisa dapat sambutan dari masyarakat. Jangan langsung turunan Jokowi dong," jelasnya.Dirinya menuturkan bahwa para pendemo yang terdiri dari Mahasiswa dan Lembaga Bantuan Mahasiswa (LBM) tersebut harus berkolerasi dengan isu publik. Mereka tidak bisa berdiri sendiri sehingga perlu adanya keresahan publik."Oleh karena itu pemimpin aksi harus pintar membaca isu, apakah isu mampu dipahami masyarakat/ publik atau tidak, sehingga ada dukungan secara umum terhadap isu tersebut. Jangan terkesan seperti kayu di tengah jalan," tutupnya.

Rekomendasi