Ratusan Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) baru-baru ini dikerahkan untuk membersihkan lumpur yang mengendap di situs bersejarah Istana Benua Raja, Aceh Tamiang. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir yang melanda wilayah tersebut pada akhir November tahun lalu. Para praja ini bekerja di bawah koordinasi Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera.
Dengan berbekal peralatan sederhana seperti sekop dan kereta dorong, para Praja IPDN ini secara gotong royong membersihkan setiap sudut bangunan Istana Benua Raja. Lumpur yang mengeras akibat bencana banjir menjadi tantangan utama yang harus mereka hadapi. Misi ini tidak hanya membersihkan fisik situs, tetapi juga menghidupkan kembali semangat masyarakat terdampak.
Salah satu Praja, I Gusti Ngurah Erlang AW, mengungkapkan rasa bangga dan antusiasmenya dapat terlibat dalam misi kemanusiaan ini. Baginya dan banyak praja lainnya, ini adalah kesempatan pertama untuk mengabdikan diri di daerah bencana, khususnya di Aceh Tamiang. Keterlibatan langsung ini memperkuat pemahaman mereka tentang tugas dan tanggung jawab sebagai calon aparatur pemerintahan.
Advertisement
Advertisement
I Gusti Ngurah Erlang AW, Praja Pratama IPDN angkatan 36, menunjukkan semangat tinggi saat membersihkan lumpur di Istana Benua Raja. Meskipun harus berpeluh keringat di bawah terik matahari, ia tetap antusias menjalankan tugasnya. Erlang, yang merupakan kontingen Bali, merasa bangga bisa terlibat langsung dalam pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang.
Ia dan 730 praja lainnya dikirim oleh Kementerian Dalam Negeri untuk membersihkan 42 titik lokasi yang masih dipenuhi lumpur tebal. Kebanyakan titik tersebut berada di pemukiman warga, namun situs sejarah juga menjadi prioritas. Penugasan ini adalah bagian dari Praktik Kerja Lapangan (PKL) gelombang ketiga Praja IPDN di Aceh Tamiang.
PKL gelombang ketiga ini dirancang untuk menuntut keterlibatan langsung para praja di tengah masyarakat. Hal ini semakin memperkuat misi kemanusiaan kepada penyintas bencana. Bagi para Praja IPDN Aceh Tamiang, tugas ini menjadi lebih dari sekadar membersihkan lumpur, melainkan juga membangun empati dan solidaritas.
Advertisement
Advertisement
Istana Benua Raja adalah situs bersejarah yang memiliki nilai penting bagi Aceh. Situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Benua Tunu, salah satu kerajaan Islam tertua di Aceh. Lokasinya berada di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.
Situs ini menjadi salah satu korban parah dari bencana banjir yang menerjang Aceh Tamiang pada akhir November tahun lalu. Endapan lumpur tebal menutupi sebagian besar area istana, menyebabkan kerusakan dan mengancam kelestarian bangunan. Pembersihan situs ini menjadi krusial untuk menjaga warisan budaya dan sejarah Aceh.
Upaya pembersihan oleh Praja IPDN Aceh Tamiang ini diharapkan dapat mengembalikan keindahan dan fungsi situs. Dengan demikian, Istana Benua Raja dapat kembali menjadi kebanggaan masyarakat dan tujuan wisata sejarah. Rehabilitasi situs ini adalah langkah penting dalam pemulihan pascabencana secara menyeluruh.
Advertisement
Advertisement
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, selaku Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, telah meminta para Praja IPDN untuk bekerja keras. Permintaan tersebut disampaikan saat memimpin apel pembukaan PKL gelombang ketiga Praja Pratama IPDN. Apel ini dilaksanakan di Istana Benua Raja, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, pada Sabtu (4/4).
Tito Karnavian menjelaskan bahwa sebanyak 731 praja IPDN yang diterjunkan di Aceh Tamiang difokuskan pada kegiatan pembersihan lumpur. Target utama adalah rumah warga, drainase, serta jalan desa. Pembersihan ini merupakan bagian integral dari upaya percepatan pemulihan lingkungan pascabencana.
Menteri Dalam Negeri menekankan bahwa Aceh Tamiang adalah salah satu wilayah terdampak terberat. Endapan lumpur akibat banjir di beberapa titik bahkan bisa mencapai kedalaman empat hingga lima meter. Oleh karena itu, keterlibatan aktif Praja IPDN Aceh Tamiang sangat vital dalam mengatasi dampak bencana yang masif ini.
Advertisement
Sumber: AntaraNews