Menlu Sugiono: Board of Peace Wujud Komitmen Indonesia untuk Palestina di Gaza

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menegaskan komitmen Indonesia untuk Palestina melalui partisipasi dalam Board of Peace, sebuah badan internasional yang fokus pada stabilisasi dan rehabilitasi pascakonflik di Gaza.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menlu Sugiono: Board of Peace Wujud Komitmen Indonesia untuk Palestina di Gaza
Indonesia menunjukkan Komitmen Indonesia Palestina yang kuat dengan bergabung dalam Board of Peace, sebuah badan internasional yang berfokus pada stabilisasi dan rehabilitasi pascakonflik di Gaza. (AntaraNews)

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyampaikan pernyataan penting mengenai peran Indonesia dalam upaya perdamaian di Palestina. Pernyataan ini disampaikan Menlu Sugiono di Bad Ragaz, Swiss, pada Jumat (23/1), di sela-sela kehadirannya mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam World Economic Forum (WEF) di Davos.

Fokus utama dari pernyataan tersebut adalah keikutsertaan Pemerintah Indonesia dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, sebuah badan internasional yang baru dibentuk. BoP memiliki mandat untuk mengawal proses stabilisasi dan rehabilitasi pascakonflik di Gaza, menunjukkan langkah konkret Indonesia dalam mendukung solusi damai.

Penandatanganan piagam Board of Peace oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi penanda resmi keterlibatan Indonesia. Ini merupakan kelanjutan dari serangkaian dialog dan pertemuan panjang dengan berbagai negara, khususnya negara-negara Islam dan berpenduduk mayoritas Muslim, yang bertujuan mencapai perdamaian permanen di kawasan tersebut.

Menlu Sugiono menjelaskan bahwa Board of Peace kini telah resmi menjadi badan internasional yang memiliki tugas spesifik. Badan ini bertanggung jawab untuk memonitor administrasi, stabilisasi, dan upaya rehabilitasi di Gaza secara khusus, serta di Palestina secara umum. Pembentukan BoP merupakan hasil dari tekad bersama komunitas internasional untuk terlibat lebih konkret dalam mencapai perdamaian berkelanjutan.

Proses pembentukan BoP melibatkan serangkaian pertemuan dan dialog intensif antarnegara, yang berpuncak pada kesepakatan. Momentum penting penandatanganan piagam Board of Peace terjadi dalam sebuah pertemuan di Sharm El Sheikh, Mesir. Ini menandai dimulainya fase baru dalam penanganan pascakonflik di wilayah tersebut.

Kehadiran BoP diharapkan dapat memberikan kerangka kerja yang terkoordinasi dan efektif. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa semua upaya yang dilakukan pascakonflik di Gaza berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Palestina. Badan ini menjadi platform penting untuk kolaborasi internasional.

Indonesia memandang partisipasi dalam Board of Peace sebagai langkah yang sangat penting dan konsisten dengan kebijakan luar negeri. Sejak awal, Indonesia selalu menunjukkan kepedulian tinggi terhadap perdamaian dan stabilitas internasional, terutama terkait situasi di Palestina. Bergabungnya Indonesia dalam BoP menegaskan kembali posisi tersebut.

Meskipun proses pembentukan badan ini berlangsung relatif cepat, Presiden Prabowo Subianto mengambil keputusan untuk bergabung setelah mempertimbangkan berbagai aspek strategis. Keputusan ini juga didasarkan pada konsultasi intensif dengan negara-negara yang tergabung dalam Group of New York, menunjukkan pendekatan yang hati-hati dan terencana.

Menlu Sugiono mengungkapkan bahwa sejumlah negara lain juga sepakat untuk bergabung dengan Board of Peace. Negara-negara tersebut antara lain Arab Saudi, Persatuan Emirat Arab, Qatar, Yordania, Turkiye, Pakistan, dan Mesir. Kehadiran berbagai negara ini menunjukkan dukungan luas terhadap inisiatif BoP.

Kesepakatan untuk bergabung dicapai dua hari sebelum penandatanganan piagam, menandakan urgensi dan konsensus di antara negara-negara anggota. Keikutsertaan Indonesia dan negara-negara lain dalam BoP memperkuat legitimasi dan potensi efektivitas badan ini dalam mencapai tujuannya.

Menlu Sugiono meyakini bahwa keberadaan Board of Peace merupakan langkah konkret yang telah lama dinantikan dalam mengawal proses perdamaian Palestina. Ia berharap, kehadiran negara-negara anggota dapat memastikan setiap langkah yang diambil oleh BoP tetap berorientasi pada kemerdekaan Palestina. Ini sejalan dengan tujuan utama untuk mewujudkan solusi dua negara.

BoP akan berperan penting dalam memonitor dan mengarahkan upaya rehabilitasi dan stabilisasi. Tujuannya adalah untuk mendukung pembentukan negara Palestina yang berdaulat dan merdeka. Fokus pada solusi dua negara menjadi landasan bagi semua kegiatan yang akan dijalankan oleh dewan ini.

Menlu juga menegaskan bahwa Board of Peace tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebaliknya, BoP adalah badan internasional yang lahir dari kepedulian bersama untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas, khususnya di Gaza. Ini merupakan upaya pelengkap, bukan pengganti, dari mekanisme internasional yang sudah ada.

Dengan demikian, Indonesia melihat partisipasi dalam BoP sebagai kontribusi aktif dalam komunitas global. Hal ini merupakan bagian dari upaya kolektif untuk mengatasi tantangan di Palestina dan mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan di Timur Tengah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi