Formappi sebut hoaks muncul karena parpol hanya orientasi kekuasaan

Jumat, 9 Maret 2018 18:28 Reporter : Dedi Rahmadi
Formappi sebut hoaks muncul karena parpol hanya orientasi kekuasaan Ilustrasi berita hoax. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Sekjen PSI Raja Juli Antoni hoaks menjamur karena Indonesia tak punya partai oposisi yang kredibel. Dia menilai partai oposisi gagal menawarkan kebijakan alternatif.

Peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi) Lucius Karus sependapat dengan statement Raja Juli tersebut. Lucius juga menggarisbawahi, selain partai oposisi, partai lain juga harus mengutamakan kepentingan publik.

"Saya cenderung sependapat dengan pandangan yang menyebutkan bahwa hoaks muncul karena oposisi cenderung tidak memberikan kebijakan alternatif. Akan tetapi sesungguhnya bukan hanya oposisi saja, semua parpol kita belum terbiasa untuk menjadikan partai politik sebagai tempat untuk secara serius menggodok policy-policy untuk kepentingan publik," ujar Lucius di Jakarta, Jumat (9/2).

Dia mengatakan selama ini partai politik hidup dengan semangat pragmatis dan orientasi satu-satunya hanyalah kekuasaan. Partai politik umumnya, tegas dia, baru terasa keberadaan dan perannya pada saat momen menjelang Pemilu.

"Setelah itu mereka hilang berebut kue kekuasaan. Lalu muncul lagi ketika Pemilu mulai mendekat. Kita jarang mendengar ada usulan kebijakan alternatif yang disampaikan oleh partai politik tertentu," tegas dia.

Dalam kondisi partai pragmatis, lanjut dia, seperti yang umumnya ada di Indonesia, hoaks menjadi mudah dipakai atau digunakan. "Bagi partai dengan prinsip pragmatis, cara apapun bisa dipakai, yang penting hasilnya bisa membawa kemenangan," tutur dia.

Sebelumnya, Sekjen PSI Raja Juli Antoni menilai partai oposisi gagal menawarkan kebijakan alternatif.

"Hoaks ada karena kita tidak punya oposisi kridibel. Tidak ada policy altenatif. Mainkan isu primordial saja. Yang setuju RT," katanya dikutip merdeka.com dari akun twitter miliknya, Kamis (8/3).

"Tesis utama kami, hoaks menjamur karena Indonesia tak punya partai oposisi yang kredibel, oposisi gagal menawarkan policy alternatif". [ded]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini