Fakta Unik Doa Bersama Jombang: Ribuan Santri dan Kiai Doakan Ketenteraman Bangsa Usai Insiden Rantis

Ratusan santri dan kiai pondok pesantren se-Jombang menggelar Doa Bersama Jombang, mendoakan ketenteraman bangsa dan mengusut tuntas kasus Affan Kurniawan. Apa pesan penting Gus Salam?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik Doa Bersama Jombang: Ribuan Santri dan Kiai Doakan Ketenteraman Bangsa Usai Insiden Rantis
Ratusan santri dan kiai pondok pesantren se-Jombang menggelar Doa Bersama Jombang, mendoakan ketenteraman bangsa dan mengusut tuntas kasus Affan Kurniawan. Apa pesan penting Gus Salam? (Merdeka.com)

Ratusan santri dan kiai dari berbagai pondok pesantren se-Jombang, Jawa Timur, baru-baru ini menggelar salat gaib dan doa bersama. Acara ini diselenggarakan untuk mendoakan almarhum Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online.

Affan Kurniawan tewas dilindas kendaraan taktis (rantis) pada Kamis malam, 28 Agustus, di tengah kericuhan. Selain itu, doa bersama ini juga bertujuan untuk menjaga ketenteraman dan keamanan bangsa dari berbagai gejolak yang ada.

Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar Jombang, Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam, menyampaikan pentingnya kegiatan ini. Ia berharap agar segala bentuk amarah dan kekerasan dapat dihilangkan dari masyarakat.

Gus Salam menegaskan bahwa kiai dan santri secara khusus berdoa untuk ketenteraman dan keamanan bangsa. Mereka juga memohon agar amarah yang mungkin timbul di tengah masyarakat dapat diredakan dan dihilangkan.

Selain itu, salat gaib yang dilakukan ditujukan sepenuhnya untuk Affan Kurniawan, korban insiden tragis tersebut. Gus Salam juga mendesak agar kasus kematian Affan diusut tuntas demi keadilan dan ketenangan masyarakat.

Ia juga mengimbau massa aksi demonstrasi untuk tidak bertindak anarkis dalam menyampaikan aspirasi. Menurutnya, penyampaian pendapat seharusnya dilakukan dengan tertib dan damai, tanpa merusak fasilitas umum atau menjarah barang orang lain.

Penyampaian aspirasi publik bisa dilakukan secara tertib dan tidak harus melalui cara kekerasan. Gus Salam menekankan bahwa jika aksi sudah mengarah pada tindakan merusak, aparat berwenang wajib bertindak sesuai prosedur yang berlaku.

Meskipun demikian, Gus Salam menyadari bahwa aksi anarkis seringkali merupakan akumulasi dari berbagai masalah. Ini termasuk maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK), tekanan ekonomi masyarakat, hingga perilaku elite politik yang kurang sensitif terhadap kondisi rakyat.

Di sisi lain, Gus Salam mengaku bersyukur mendengar kabar baik mengenai pertemuan sejumlah organisasi masyarakat. Berbagai ormas dari seluruh Indonesia telah bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto, yang diharapkan dapat mewakili aspirasi masyarakat.

Sebelum insiden tragis ini, pada 25 Agustus, telah terjadi aksi unjuk rasa di Jakarta, termasuk di depan gerbang utama DPR RI. Aksi tersebut menyuarakan penolakan terhadap tunjangan anggota DPR RI, menarik perhatian publik.

Aksi unjuk rasa kembali memanas pada 28 Agustus, yang berujung pada kericuhan antara demonstran dan petugas kepolisian. Insiden ini terjadi di Jalan Pejompongan, Jakarta Pusat, menjadi titik puncak ketegangan.

Pada Kamis malam, 28 Agustus, Affan Kurniawan (21), seorang pengemudi ojek daring, meninggal dunia akibat dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob Polri. Kericuhan di Pejompongan ini terjadi setelah berbagai elemen masyarakat yang berunjuk rasa di sekitar kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, didorong mundur oleh polisi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi