Debat Pilpres Perdana Belum Meyakinkan Milenial Menentukan Pilihan

Jumat, 18 Januari 2019 16:55 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah
Debat Pilpres Perdana Belum Meyakinkan Milenial Menentukan Pilihan Generasi Milenial Nobar Debat Pilpres. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Debat Pilpres 2019 berlangsung semalam. Masing-masing kedua pasangan capres dan cawapres memaparkan visi misi mengenai isu hukum, HAM, korupsi dan terorisme.

Namun generasi milenial yang melek politik menganggap debat Pilpres perdana belum terlalu meyakinkan. Hal itu terlihat ketika mereka menyaksikan menonton bareng debat Pilpres digelar Asumsi.co dan Generasi Melek Politik di Kaffeine, The Foundry, SCBD, Kamis (17/1).

Menurut Co Founder sekaligus Ceo Asumsi.co Iman Sjafei, tak banyak gagasan baru dari capres dan cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin maupun Prabowo-Sandiaga.

"Dua-duanya kurang gereget. Sama-sama garing. Belum ada yang benar-benar stand out sampai bikin kita benar-benar yakin untuk memilih," kata Iman Sjafei dalam keterangannya.

Namun, Iman memberi catatan khusus bagi Jokowi yang melempar isu Ratna Sarumpaet kepada kubu Prabowo-Sandiaga. Begitu juga saat menuding Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo tidak memiliki perspektif perempuan karena tak ada satupun pengurus dari kaum hawa.

"Begitu juga soal jabatan jaksa agung dari bekas orang partai. Jokowi cukup konkret," kata dia.

Sebaliknya, kata Iman, Prabowo cukup riskan saat mengatakan bahwa korupsi boleh saja apabila jumlahnya tidak terlalu besar. Begitu juga tentang luas negara Malaysia yang lebih kecil dari Jawa Tengah.

"Prabowo banyak miss dalam data. Tapi kubu Jokowi tidak meng-highlight untuk bisa memukul balik. Jadinya tidak sepanas yang kita harapkan," ujar dia.

Hal senada diungkapkan pengamat kebijakan publik Andhyta F. Utami. Dia mengatakan debat Pilpres perdana ini masih belum.

"Dalam hal gagasan, belum tonjok-tonjokan. Seharusnya kubu Prabowo-Sandiaga sebagai chalenger bisa memberi banyak kritikan untuk kinerja petahana, dalam hal ini Jokowi-Amin," kata lulusan Harvard JFK School of Government itu.

Sementara itu, koodinator digital team (Pride) Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Anthony Leong menyindir Jokowi yang menggunakan pengukuran kuantitatif untuk mengukur perspektif perempuan dalam kebijakan. "Bukan output yang dilihat. Hanya menghitung jumlah menteri perempuan. Bukan keberhasilan pemimpin perempuan," kata dia.

Sedangkan, koordinator Kita Satu TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Pradana Indra Putra menilai Jokowi memiliki pola pikir konkret. Satu keberpihakan dan komitmen itu harus jelas ukurannya.

"Pilih pemimpin yang tak hanya pandai bicara tapi juga bekerja. Pemimpin harus punya visi ke depan riil dan konkret," kata dia. [gil]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini