Anak Krakatau Enam Hari Tidak Erupsi, Begini Penjelasannya

Anak Krakatau enam hari tak erupsi sejak 10/9/2026. Seismograf masih merekam gempa embusan, low frequency, dan tremor. Status tetap Siaga.

Ardi Munthe
Oleh Ardi Munthe - Reporter
Anak Krakatau Enam Hari Tidak Erupsi, Begini Penjelasannya
Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda belum kembali erupsi sejak letusan terakhir pada Kamis (10/9/2026). Meski tak ada letusan baru, aktivitas internal gunung api ini masih terpantau melalui instrumen di Pos Pemantauan.

Pada periode pengamatan Rabu (16/9/2026) pukul 06.00–12.00 WIB, tercatat satu gempa embusan dengan amplitudo 7 milimeter berdurasi 23 detik, serta satu gempa low frequency beramplitudo 8 milimeter selama 4 detik. Tremor menerus juga terekam dengan amplitudo 1–5 milimeter dan dominan 2 milimeter.

Kepala Pos Pemantauan GAK di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno menyebut kegempaan itu tetap menjadi perhatian petugas. "Kegempaannya masih, ada hembusan juga satu kali. Kemudian low frequency juga ada satu kali," kata Suwarno, Rabu (16/9/2026).

Jenis Gempa dan Pengaruhnya pada Tubuh Anak Krakatau

Suwarno menjelaskan, tipe kegempaan menjadi indikator penting untuk membaca dinamika di dalam tubuh Anak Krakatau. Ia menekankan bahwa gempa vulkanik dalam tidak otomatis berhubungan dengan proses pembesaran tubuh gunung api.

Menurutnya, gempa vulkanik dalam berkaitan dengan kondisi batuan pada kedalaman sekitar 3,5–4 kilometer dari permukaan yang berinteraksi dengan magma. "Kalau vulkanik dalam itu batuan-batuan yang ada di dalam berkisar 3,5 kilometer atau 4 kilometer dari permukaan kita ke bawah. Batuan-batuannya itu termakan dengan magma, batuan-batuannya rontok," jelasnya.

Berbeda halnya dengan gempa multiphase. Kategori ini menunjukkan adanya dorongan material dari bawah menuju permukaan yang bisa membuat tubuh gunung membesar meskipun tanpa material letusan. "Kecuali kalau multiphase, itu ada dorongan ke atas. Akan membesar, walaupun tidak mengeluarkan material letusan. Nah, itu karena ada multiphase itu terdorong ke atas," terangnya.

Ia mengibaratkan dorongan tersebut seperti pembentukan tonjolan kecil di permukaan datar. "Umpamanya kalau di dataran rata, itu akan membentuk suatu punggungan kecil," katanya.

Enam Hari Anak Krakatau Tak Meletus

Letusan terakhir Anak Krakatau tercatat pada Kamis (10/9/2026) sekitar pukul 09.10 WIB. Saat itu, tinggi kolom erupsi tidak teramati, namun seismograf merekam amplitudo maksimum 47 milimeter dengan durasi 17 detik.

Walau aktivitas letusan mereda, status Anak Krakatau masih di Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pengunjung diimbau tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Suwarno menilai kondisi mutakhir di lapangan dalam keadaan terkendali, namun pemantauan kegempaan tetap diperketat. "Aman, semuanya aman," kata dia.

Ia kembali mengingatkan agar batas aman tetap dipatuhi. "Yang penting radius masih tetap 3 kilometer sementara ini," ujarnya.

Pemantauan Visual Terkendala CCTV Mati

Di tengah masih terekamnya aktivitas kegempaan, pemantauan visual Anak Krakatau terkendala cuaca dan peralatan. Dalam laporan terbaru, tubuh gunung tertutup kabut 0–III, dan asap kawah tidak teramati.

CCTV visual di lapangan juga belum aktif sehingga pengamatan langsung masih terbatas. Suwarno menyebut perbaikan perangkat dilakukan oleh pihak pusat.

Ia menambahkan, aspek keselamatan petugas menjadi pertimbangan utama dalam penempatan peralatan dan pos pengamatan, mengingat lokasi yang terlalu dekat dengan gunung dinilai berisiko. "Karena khawatir kalau ada letusan lagi, coba bayangkan kalau kita ada di lapak di sana atau di Sertung, ada letusan, bisa-bisa habis itu nyawa," tandasnya.

Rekomendasi