Di jalan penghubung antara Pasir Putih dan Cipayung, Depok, terdapat genangan air yang menyerupai danau.
Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata genangan tersebut disebabkan oleh banjir akibat meluapnya Kali Pesanggrahan.
Fenomena banjir ini telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Meskipun Pemerintah Kota Depok telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi masalah ini, solusi yang efektif belum juga ditemukan.
Belasan rumah dan lahan milik warga terendam, seolah-olah banjir ini menjadi masalah yang tak kunjung surut.
Luapan air dan jebolnya tanggul Kali Pesanggrahan telah mengakibatkan lumpuhnya akses jalan antar kecamatan, sehingga warga terpaksa memutar jika ingin menuju Sawangan atau Cipayung.
Dalam upaya mengatasi kesulitan ini, warga berinisiatif membuat perahu getek sebagai alternatif transportasi sementara.
Getek yang dirancang menggunakan jerigen plastik, papan kayu, dan bambu ini bertujuan untuk membantu warga menyeberangi banjir dari Sawangan ke Cipayung dan sebaliknya.
Salah satu warga, Dita Janu Widayanti, menjelaskan bahwa pembuatan getek ini merupakan inisiatif orang tuanya untuk memudahkan warga menyeberangi banjir.
Akses jalan antara dua kecamatan telah terputus selama tiga tahun, sehingga warga harus mencari rute alternatif.
"Makanya ini dibuatin Getek supaya warga bisa lewat dan bisa lebih dekat lagi dari Bulak Barat (Cipayung) ke Sawangan," ungkap Dita pada Senin (22/12) dikutip dari Liputan6.
Dita juga menambahkan bahwa Pemerintah Kota Depok telah beberapa kali mengunjungi daerahnya yang terdampak banjir.
Namun, hingga saat ini, belum ada perkembangan yang signifikan terkait penanganan banjir dari pemerintah.
"Sebenarnya sudah, tapi belum ada kelanjutannya, makanya dibuatin getek oleh orang tua saya," jelas Dita.
Dengan kondisi seperti ini, warga berharap agar ada tindakan nyata dari pemerintah untuk mengatasi masalah banjir yang terus berulang.
Advertisement
Seorang perempuan yang mengenakan hijab menjelaskan bahwa untuk memudahkan warga menyeberangi jalan yang terendam banjir hingga setinggi satu hingga satu setengah meter, diperlukan pembuatan getek.
Proses pembuatan getek oleh orang tuanya memakan waktu sekitar dua minggu.
"Kalau buatnya kurang lebih dua minggu, kalau untuk biaya kurang lebihnya Rp5 juta sampai Rp6 juta," ucap Dita.
Getek ini akan berfungsi sebagai sarana transportasi darurat dan tradisional yang saat ini masih dalam tahap uji coba.
Meski demikian, orang tuanya masih melakukan sejumlah percobaan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan bagi warga yang akan menggunakan getek tersebut.
“Nanti (getek) bisa bawa motor, sepeda, ataupun orang bisa lewat sini,” terang Dita.
Sebelumnya, jalan penghubung tersebut dapat dilalui oleh kendaraan roda dua hingga truk. Namun, setelah terjadinya longsor di TPA Cipayung yang mengarah ke Kali Pesanggrahan, air kali meluap dan menyebabkan banjir.
Pemerintah Kota Depok pernah mencari solusi dengan meninggikan jalan dan jembatan di Kali Pesanggrahan. Sayangnya, upaya tersebut tidak membuahkan hasil, dan saat ini banjir di jalan penghubung sepanjang sekitar tiga kilometer tidak kunjung surut.
"Seperti ini, selalu begini (air tidak pernah surut)," kata Dita sambil menunjukkan batas ketinggian air.
Advertisement
Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, menyatakan bahwa ia akan melakukan analisis mendalam mengenai penyebab banjir yang terjadi di jalan penghubung antara Sawangan dan Cipayung.
"Pastinya ini sangat berkorelasi dengan rencana penutupan dan pembenahan TPA area Cipayung," ungkap Chandra.
Pemerintah Kota Depok sedang berupaya untuk melakukan pembebasan lahan milik warga yang terdampak oleh banjir.
Selain itu, mereka juga menjalin koordinasi dengan PLN mengenai keberadaan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) yang berada di lokasi banjir tersebut.
"Selain itu, ada aspirasi warga untuk dilakukan pembuatan jembatan, ini kita akan kaji terlebih dahulu secara mendalam," tutur Chandra.