Ketua Kadin Lapor Prabowo, Ungkap Pencaian Investasi Dalam Negeri

Anindya Bakrie melaporkan Investasi Dalam Negeri hampir Rp 2.000 triliun pada dua tahun awal era Prabowo. Ia juga menyoroti peran dunia usaha dan sektor unggulan.

Lizsa Egeham
Oleh Lizsa Egeham- Reporter
Ketua Kadin Lapor Prabowo, Ungkap Pencaian Investasi Dalam Negeri
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie saat acara Global & Domestic Economic Outlook 2026, di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (15/1/2026). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Investasi Dalam Negeri menjadi sorotan dalam pertemuan Kadin dengan Presiden. Ketua Kadin Indonesia Anindya Bakrie melaporkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) hampir Rp 2.000 triliun sepanjang dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pemaparan itu disampaikan pada Taklimat Presiden Republik Indonesia kepada Peserta Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan Indonesia (P3MDI) Batch 1 Tahun Anggaran 2026 dan Peserta Rapimnas Kadin se-Indonesia di kediaman Prabowo, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/10/2026).

Keterangan pertemuan tersebut dikutip dari siaran pers Sekretariat Presiden, Minggu (1/11/2026). Anindya menilai besarnya kontribusi investor domestik menunjukkan peran strategis pengusaha nasional, termasuk pelaku usaha kelas menengah, dalam menjaga ketahanan perekonomian di tengah ketidakpastian global.

"Kalau dilihat PMDN itu juga melibatkan teman-teman di kelas menengah. Nah ini kami lihat bisa membuat sekali lagi daya tahan kita justru semakin kuat," kata Anindya.

Ia menekankan pentingnya kontribusi dunia usaha dalam pengembangan industri masa depan, tidak hanya memperkuat sektor yang telah berjalan. Sejumlah peluang yang disorot antara lain industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV), energi terbarukan (renewable energy), dan pusat data (data center) yang memiliki potensi kandungan komponen lokal cukup besar.

"Bukan saja untuk industri-industri yang sekarang, tapi industri masa depan. Seperti industri EV, renewable energy, data center yang memang komponen lokalnya juga banyak. Bapak dan tentunya Pak Presiden, tema rapimnas kali ini adalah ekonomi kerakyatan dan Indonesia mendunia," ujar Anindya.

Dalam pandangannya, ruang kontribusi sektor swasta terhadap perekonomian nasional masih sangat besar. Ia menyinggung porsi belanja negara dalam Produk Domestik Bruto (PDB) dan mendorong tumbuhnya pengusaha baru di berbagai daerah maupun asosiasi agar naik kelas dan mampu bersaing.

"Ekonomi kerakyatan sudah berjalan di dunia usaha. Kami menyadari dan ini merupakan tanggung jawab kami bahwa 4.000 triliun dari 25.000 triliun PDB adalah APBN. Sehingga sisanya atau sekitar 85 persen adalah uang yang dunia usaha bisa berkontribusi, dan inilah yang kita inginkan bukan hanya pengusaha-pengusaha daerah dan juga di asosiasi himpunan bisa tumbuh bersama-sama, naik kelas, tapi mereka juga bisa menjadi pemain besar kemudian hari," ungkap Anindya.

Selain itu, Anindya menyebut fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah gejolak global. Ia merujuk pada penilaian Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebut Indonesia sebagai salah satu bright spot perekonomian dunia.

"Indonesia continues to be the bright spot. Ini telah disampaikan tahun lalu oleh IMF, dan terbukti bahwa Indonesia juga tetap menjadi bright spot. Di dalam lima guncangan ekonomi selama bisa dibilang 25 tahun, Indonesia adalah dari waktu ke waktu justru lebih kuat. Ini menandakan daya tahan kita sangat resilient," pungkas Anindya.
Rekomendasi