Bekal Baru Nelayan Musi Hadapi Cuaca

Pengalaman membaca perubahan langit, mengenali arah angin, mengamati arus, dan memahami pola pasang surut merupakan bagian dari pengetahuan lokal yang berkembang melalui interaksi panjang dengan lingkungan.

irwanto
Oleh irwanto- Reporter
Bekal Baru Nelayan Musi Hadapi Cuaca
BMKG ingatkan nelayan sungai musi melek teknologi meteorologi. (merdeka.com/istimewa).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan nelayan dalam memanfaatkan informasi cuaca dan iklim.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SMB II Palembang Siswanto mengungkapkan, SLCN merupakan salah satu upaya BMKG untuk mendekatkan informasi meteorologi dan klimatologi dengan kebutuhan masyarakat yang aktivitas ekonominya sangat dipengaruhi oleh kondisi alam. Nelayan bisa memahami, menerjemahkan, dan memanfaatkan teknologi cuaca sebagai dasar pengambilan keputusan sebelum dan selama melakukan aktivitas di Sungai Musi.

"Nelayan mesti paham dengan teknologi meteorologi, selain pengetahuan otodidak dari kearifan lokal yang mereka miliki," ungkap Siswanto, Selasa (27/10).

Menurut Siswanto, BMKG berperan menyediakan informasi meteorologi dan klimatologi yang mendukung pengambilan keputusan bagi masyarakat perikanan. Unsur BPBD dan Kantor Pencarian dan Pertolongan memiliki peran penting dalam kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat.

"Nelayan yang memiliki pengetahuan cuaca dan kesadaran keselamatan diharapkan lebih siap menghadapi perubahan kondisi alam, mampu mengelola risiko, dan memiliki peluang lebih baik untuk menjaga produktivitas usaha perikanannya," ujar dia.

Menurut dia, kesejahteraan nelayan harus dibangun seiring dengan keselamatan dan kemampuan beradaptasi terhadap dinamika cuaca. Sebab, keberhasilan melaut bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya hasil tangkapan.

"Tetapi juga oleh kemampuan kembali dengan selamat, menjaga keberlanjutan usaha, dan memastikan keluarga tetap memiliki sumber penghidupan yang layak," kata dia.

Masih kata Siswanto, budaya masyarakat Palembang tidak dapat dipisahkan dari Sungai Musi yang sejak dahulu menjadi jalur transportasi, sumber pangan, pusat perdagangan, dan ruang interaksi sosial. Bagi masyarakat nelayan, sungai dan perairan bukan sekadar tempat bekerja, melainkan bagian dari identitas dan tradisi yang diwariskan antargenerasi.

Pengalaman membaca perubahan langit, mengenali arah angin, mengamati arus, dan memahami pola pasang surut merupakan bagian dari pengetahuan lokal yang berkembang melalui interaksi panjang dengan lingkungan. Kearifan tersebut menjadi modal penting bagi nelayan untuk mengenali kondisi alam di sekitarnya.

"Namun, dinamika atmosfer yang semakin kompleks menuntut pengetahuan lokal tersebut terus dilengkapi dengan informasi meteorologi yang terukur, terkini, dan dapat dipertanggungjawabkan," kata dia.

Rekomendasi