Kenapa Polusi Udara Kembali Mengepung Kalimantan

Penanganan tidak hanya dilakukan dengan memadamkan titik api di darat. BNPB juga mengerahkan tiga pesawat Cessna Caravan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani - Reporter
Kenapa Polusi Udara Kembali Mengepung Kalimantan
Jalan yang diselimuti kabut asap di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis, 20 Agustus 2026. (AFP/ Reina)

Langit Kalimantan kembali kehilangan warna birunya. Di sejumlah wilayah, kabut asap mulai menebal, jarak pandang menurun, sementara titik panas terus terdeteksi di tengah cuaca yang masih kering.

Fenomena ini bukan datang tanpa sebab. BMKG mencatat kondisi atmosfer kering masih mendominasi sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan bagian selatan. Minimnya tutupan awan membuat matahari lebih leluasa memanaskan permukaan bumi, terutama pada pagi hingga siang hari.

Dalam beberapa hari terakhir, panas bahkan mencapai lebih dari 37 derajat Celsius di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Ketika suhu tinggi bertemu kelembapan yang relatif rendah, lahan menjadi lebih cepat kering dan risiko kebakaran hutan serta lahan (karhutla) ikut meningkat.

Di tengah kondisi tersebut, BMKG mendeteksi 215 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan hingga 24 September 2026 pukul 16.00 WIB. Asap pun terpantau menyebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Dengan kata lain, kabut asap yang kembali mengepung Kalimantan bukan sekadar persoalan jarak pandang. Di balik langit yang berubah kelabu, ada kombinasi cuaca kering, suhu tinggi, titik panas, dan kebakaran lahan yang membuat kualitas udara kembali menjadi perhatian.

Ratusan Titik Panas Terdeteksi

Situasi ini terlihat dari pemantauan titik panas. BMKG mencatat sebanyak 215 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan hingga 24 September 2026 pukul 16.00 WIB.

Sebaran asap juga terdeteksi di sejumlah wilayah, mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Timur.

Titik panas sendiri merupakan indikator adanya anomali suhu yang terdeteksi melalui pemantauan satelit. Data tersebut menjadi petunjuk awal adanya potensi kebakaran, meski tetap membutuhkan pengecekan di lapangan.

Liputan6 juga melaporkan adanya peningkatan titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan. Di Kalimantan Tengah, jumlah titik panas yang dipantau meningkat dari 643 menjadi 673 titik. Sementara di Kalimantan Barat, jumlahnya naik dari 50 menjadi 167 titik.

Kenapa Asap Bisa Menyebar?

Ratusan Penerbangan Batal Imbas Asap Karhutla Kalimantan
Kemenhub menyatakan kondisi asap akibat karhutla mempengaruhi jarak pandang di sekitar bandara di Kalimantan. (Foto: Kemenhub)

Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya meninggalkan persoalan di lokasi api. Pembakaran vegetasi dan lahan menghasilkan asap yang dapat terbawa oleh kondisi atmosfer dan arah angin ke wilayah lain.

Akibatnya, daerah yang tidak berada tepat di sekitar lokasi kebakaran tetap bisa terdampak kabut asap. Langit yang semestinya biru pun dapat berubah menjadi kelabu, sementara jarak pandang di sejumlah lokasi ikut menurun.

Dampaknya juga terasa pada aktivitas transportasi. Merdeka melaporkan jarak pandang di Bandara Supadio, Kalimantan Barat, sempat turun hingga sekitar 300 meter akibat asap karhutla. Kondisi tersebut membuat 73 penerbangan mengalami penundaan.

Bagaimana Pemerintah Mengatasinya?

Karhutla
Petugas memadamkan kebakaran lahan di Jalan Sinar Kahayan, Kereng Bangkirai, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (4/8/2024).

Penanganan tidak hanya dilakukan dengan memadamkan titik api di darat. BNPB juga mengerahkan tiga pesawat Cessna Caravan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan peluang terbentuknya hujan di wilayah yang terdampak kebakaran. Menurut BNPB, penyebaran asap sangat dipengaruhi oleh dua faktor alami, yakni angin dan hujan.

Artinya, selama kondisi kering masih bertahan dan hujan belum turun secara merata, persoalan asap masih berpotensi terjadi.

Kapan Kondisi Mulai Membaik?

BMKG memprakirakan peluang hujan dengan intensitas sedang muncul di sejumlah wilayah Kalimantan pada 25-27 September 2026. Potensi hujan juga masih terlihat pada periode 28 September hingga 1 Oktober di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Meski begitu, kondisi cuaca di Kalimantan tidak seragam. Sebagian wilayah masih berada dalam kondisi kering, sementara wilayah lainnya mulai mendapat peluang hujan.

Datangnya hujan dapat membantu mengurangi asap dan risiko kebakaran, tetapi belum berarti seluruh persoalan karhutla di Kalimantan akan langsung berakhir.

Rekomendasi