Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Kamis (10/9/2026) pagi.
Berdasarkan catatan MAGMA Indonesia (Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia), erupsi tercatat terjadi pada pukul 09.10 WIB.
"Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi 17 detik," tulis MAGMA Indonesia.
Namun, tinggi kolom erupsi tidak teramati secara visual.
MAGMA juga mengingatkan agar masyarakat tidak beraktivitas terlalu dekat dengan kawah aktif.
"Masyarakat atau pengunjung atau wisatawan atau pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif," sebut MAGMA Indonesia.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pengecekan kesiapsiagaan tsunami di wilayah pesisir Banten. Pengecekan mencakup Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon dengan mengacu pada indikator standar Tsunami Ready.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan tim Kedeputian Bidang Pencegahan telah ditugaskan sejak 6 September 2026 untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah, memantau kondisi wilayah terdampak, serta memberikan asistensi kesiapsiagaan.
Advertisement
BNPB Cek Kesiapsiagaan Pesisir Banten Terkait Aktivitas Gunung Anak Krakatau
Menurut Berton, langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan pemerintah dan masyarakat di kawasan pesisir dalam menghadapi potensi dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk bahaya tsunami.
Pengecekan juga menyasar wilayah vital dan permukiman yang pernah terdampak tsunami Selat Sunda pada 2018.
"Penilaian kesiapsiagaan dilakukan di kawasan Tanjung Lesung, Desa Sumberjaya, dan Desa Panimbangjaya di Pandeglang, serta beberapa desa pesisir di Serang dan Cilegon, untuk memastikan berfungsinya sarana peringatan dini," kata Berton, Kamis (10/9/2026).
Di Kabupaten Pandeglang, tim mencatat menara sirene peringatan dini di Kecamatan Sumur dan Panimbang dalam kondisi siap operasi. Jalur evakuasi terpasang dengan baik dan simulasi bencana digelar rutin.
Adapun perangkat Warning Receiver System (WRS) Gen di Tanjung Lesung masih dalam proses perbaikan.
Di Kabupaten Serang, pemeriksaan dilakukan di Desa Salira, Karang Suraga, dan Desa Anyar. BNPB mencatat Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan relawan pantai aktif berperan, didukung menara sirene serta peta evakuasi menuju titik aman yang berfungsi normal.
Untuk Kota Cilegon, peninjauan difokuskan di Kelurahan Kubangsari. Terdapat standar operasional prosedur (SOP) peringatan dini, fasilitator kelurahan aktif menyebarkan informasi, dan sirene tsunami di area kantor kelurahan berfungsi baik.
Berton mengapresiasi kolaborasi pemerintah daerah dan komunitas relawan dalam menjaga kesiapan infrastruktur peringatan dan pemantauan bencana. Ia menekankan kesiapsiagaan penting bagi keselamatan warga pesisir.