Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Bandarlampung mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandarlampung menunjukkan laporan kasus naik dari ratusan menjadi lebih dari 700 kasus.
Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan periode erupsi Gunung Anak Krakatau. Lantas, apakah peningkatan kasus ISPA di Bandarlampung berkaitan dengan abu vulkanik anak krakatau?
Advertisement
Berapa banyak kasus ISPA tercatat?
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), laporan kasus ISPA menunjukkan tren meningkat.
Pada 4 September 2026 tercatat 527 kasus. Sehari kemudian jumlahnya menjadi 632 kasus, kemudian mencapai 716 kasus pada 7 September.
Peningkatan laporan tidak terjadi secara merata. Lonjakan terbesar terpantau di sejumlah kecamatan, yakni Telukbetung Timur, Kedamaian, Rajabasa, Telukbetung Selatan, Sukarame, dan Tanjungkarang Pusat.
Advertisement
Apakah ini akibat abu vulkanik Anak Krakatau?
Kepala Dinkes Kota Bandarlampung Muhtadi Arsyad Tumenggung mengatakan peningkatan kasus ISPA memang terjadi bertepatan dengan periode erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Peningkatan kasus ISPA ini bertepatan dengan periode erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun berdasarkan data jangka pendek ini kami belum bisa menyatakan secara definitif bahwa debu vulkanik menjadi penyebab langsungnya," kata Muhtadi di Bandarlampung, Selasa (8/9), demikian dikutip dari Antara.
Dinkes masih membutuhkan pemantauan dan analisis lebih lanjut untuk mengetahui apakah terdapat perubahan pola penyakit yang berkaitan dengan kondisi udara.
Advertisement
Mengapa abu vulkanik bisa dicurigai?
Abu vulkanik terdiri dari partikel sangat halus yang dapat terbawa angin dan mengganggu kualitas udara. Jika terhirup, partikel tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan, terutama pada orang yang memiliki penyakit pernapasan sebelumnya.
Namun, peningkatan ISPA di suatu wilayah dapat dipengaruhi banyak faktor. Karena itu, diperlukan data yang lebih panjang dan pemeriksaan kondisi di lapangan sebelum satu penyebab tertentu ditetapkan.
Penyakit lain masih dalam kondisi normal
Selain ISPA, Dinkes juga memantau sejumlah penyakit yang berpotensi berkaitan dengan gangguan kualitas udara. Beberapa di antaranya adalah pneumonia, asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), iritasi mata, dan dermatitis.
Untuk saat ini, penyakit-penyakit tersebut masih dilaporkan dalam kondisi normal dan stabil. Kondisi ini menjadi salah satu data yang terus diperhatikan Dinkes dalam melihat dampak kesehatan akibat perubahan kualitas udara.
Advertisement
Mengapa data kasus masih divalidasi?
Dinkes tidak hanya melihat angka laporan yang masuk, tetapi juga melakukan validasi.
Validasi dilakukan untuk memastikan tidak ada duplikasi data maupun kesalahan input. Seluruh puskesmas di Bandarlampung juga diminta menyampaikan laporan harian.
Advertisement
Kecamatan mana yang menjadi perhatian?
Dinkes memprioritaskan pemantauan di wilayah yang menunjukkan peningkatan laporan ISPA paling tinggi. Dengan pemantauan harian, petugas dapat melihat apakah kenaikan tersebut hanya berlangsung sementara atau justru terus berlanjut.
Data tersebut nantinya dapat membantu pemerintah mengetahui apakah ada perubahan pola penyakit yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Advertisement
Jadi, apakah ISPA di Bandarlampung disebabkan erupsi Anak Krakatau?
Faktanya, laporan ISPA memang meningkat dari 527 kasus pada 4 September menjadi 716 kasus pada 7 September. Kenaikan tersebut juga terjadi bersamaan dengan periode erupsi Gunung Anak Krakatau.
Tetapi, berdasarkan data jangka pendek yang tersedia, Dinkes Bandarlampung belum menyatakan abu vulkanik sebagai penyebab langsung.
Saat ini, pemerintah masih melakukan surveilans, validasi data, dan pemantauan harian di puskesmas serta kecamatan dengan kenaikan kasus tertinggi.