Gunung Sinabung kembali erupsi. Pada Senin (31/8), gunung api di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, memuntahkan kolom abu hingga sekitar 3.500 meter di atas puncak dan membuat status aktivitasnya dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas erupsi tersebut disertai rentetan gempa, terdiri dari 85 kali gempa vulkanik, satu kali gempa hembusan, dan satu kali tremor harmonik.
Peningkatan aktivitas Gunung Sinabung mendorong Pemerintah Kabupaten Karo melakukan evakuasi terhadap warga yang berada di kawasan zona merah. Dua desa menjadi prioritas evakuasi, yakni Desa Payung dan Desa Kuta Tengah di Kecamatan Simpang Empat.
Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 211 keluarga atau 615 warga Desa Kuta Tengah telah dievakuasi oleh petugas gabungan ke lokasi pengungsian di zona aman. Pemkab Karo telah menyiapkan sejumlah fasilitas bagi para pengungsi, mulai dari posko dan tenda pengungsian sementara hingga tim medis dan dapur umum.
Sementara itu, warga Desa Payung masih bertahan di rumah masing-masing. Meski belum dievakuasi, warga diminta meningkatkan kesiapsiagaan dan tetap berada di bawah pemantauan tim gabungan.
Erupsi Gunung Sinabung juga berdampak pada operasional penerbangan di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Sebaran abu vulkanik mengakibatkan sejumlah penerbangan dari dan menuju bandara tersebut dibatalkan.
Berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM) nomor A3250/26, AirNav Indonesia menetapkan penutupan sementara Bandara Internasional Kualanamu sebagai langkah antisipasi keselamatan. Penutupan ini dimulai pukul 10.15 WIB hingga 12.45 WIB, dengan status dinamis.
Penyesuaian operasional tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi sebaran abu vulkanik serta kebijakan operasional masing-masing maskapai. Langkah ini juga dilakukan dengan mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan seluruh pihak penerbangan.
Erupsi terbaru ini sekaligus mengingatkan kembali pada panjangnya sejarah aktivitas Gunung Sinabung. Setelah lama tidak menunjukkan erupsi yang tercatat, Sinabung kembali aktif pada 2010 dan kemudian mengalami rangkaian erupsi besar sejak 2013.
Dalam perjalanannya, erupsi Sinabung menyebabkan ribuan warga mengungsi, menimbulkan korban jiwa, merusak permukiman dan lahan pertanian, serta memicu proses relokasi warga dari kawasan rawan bencana.
Advertisement
Jejak Erupsi Gunung Sinabung
Gunung Sinabung kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada 27 Agustus 2010, setelah sebelumnya tidak tercatat mengalami erupsi dalam waktu sangat panjang.
Pada saat itu, Sinabung masih dikategorikan sebagai gunung api tipe B karena tidak memiliki catatan erupsi sejak sekitar 1600. Setelah aktivitas meningkat, status dan klasifikasinya kemudian berubah karena Sinabung kembali menunjukkan aktivitas erupsi.
Rangkaian erupsi berlangsung hingga September 2010. Pada 7 September 2010, salah satu letusan terbesar dalam rangkaian tersebut menyemburkan abu hingga sekitar 5.000 meter dari puncak.
Lebih dari 12 ribu warga dievakuasi pada periode awal aktivitas tersebut. BNPB mencatat fase 2010 menjadi awal dari rangkaian panjang aktivitas Sinabung yang kemudian berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
Setelah relatif mereda, Sinabung kembali menunjukkan peningkatan aktivitas pada 2013. Pada September 2013, aktivitas vulkanik meningkat hingga PVMBG menaikkan status Sinabung dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 15 September 2013.
Letusan kembali terjadi pada November. Pada 20 November 2013 tercatat enam kali letusan sejak dini hari. Rangkaian letusan kembali terjadi pada 23-24 November dengan kolom abu yang mencapai sekitar 8.000 meter di atas puncak.
Pada 24 November 2013, status Sinabung dinaikkan ke Level IV atau Awas. Warga dari 21 desa dan dua dusun kemudian harus dievakuasi. Fase ini menjadi awal dari periode erupsi panjang yang kemudian berlanjut memasuki 2014.
Memasuki awal 2014, aktivitas Sinabung semakin intensif. Mulai 4 Januari 2014, terjadi rangkaian kegempaan, letusan, dan luncuran awan panas. Aktivitas tersebut berlangsung berulang dan menyebabkan warga di kawasan rawan harus tetap berada di pengungsian.
Salah satu tragedi terbesar terjadi pada 1 Februari 2014. Awan panas meluncur dan menewaskan warga yang berada di kawasan bahaya.
BNPB mencatat periode 2013-2014 sebagai salah satu fase paling kelam dalam sejarah erupsi Sinabung. Rangkaian letusan tersebut menewaskan 16 orang dan memaksa lebih dari 30 ribu warga mengungsi.
Besarnya dampak erupsi juga menyebabkan sejumlah wilayah harus dikosongkan dan kemudian masuk dalam proses relokasi.
Aktivitas Sinabung belum berhenti setelah tragedi 2014. Pada 2 Juni 2015, status Gunung Sinabung berada pada Level IV atau Awas. Pemerintah dan PVMBG menetapkan sejumlah zona yang harus dikosongkan karena berpotensi terkena awan panas, guguran lava, lontaran material vulkanik, dan hujan abu.
Status Awas tersebut menunjukkan bahwa ancaman Sinabung bukan hanya bersifat sesaat. Aktivitas vulkaniknya terus dipantau karena potensi erupsi dan awan panas masih ada.
Memasuki 2016 dan 2017, Sinabung masih aktif. BNPB mencatat aktivitas Sinabung berlangsung berulang sepanjang periode tersebut. Pada 2 Agustus 2017, misalnya, terjadi serangkaian awan panas guguran dan beberapa kali erupsi.
Pada 2 Agustus 2017, tercatat 16 kali awan panas guguran dengan jarak luncur sekitar 2,5-4,5 kilometer. Kolom abu dan asap juga mencapai beberapa kilometer dari puncak. Saat itu status Sinabung masih berada pada Level IV atau Awas.
Pemerintah terus meminta masyarakat menjauhi kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya, termasuk kawasan sekitar sungai yang berhulu di Sinabung karena adanya potensi lahar.
Salah satu erupsi besar berikutnya terjadi pada 19 Februari 2018. PVMBG melaporkan erupsi eksplosif dengan tinggi kolom letusan mencapai sekitar 5.000 meter dari atas puncak.
Erupsi tersebut diikuti awan panas letusan dan sekitar 10 kejadian awan panas guguran. Jarak luncur mencapai sekitar 4,9 kilometer ke arah selatan-tenggara dan 3,5 kilometer ke arah timur-tenggara.
Meski erupsi cukup besar, awan panas yang terpantau saat itu masih berada di kawasan yang telah direkomendasikan untuk dikosongkan.
Pada 20 Mei 2019, status aktivitas Sinabung diturunkan menjadi Level III atau Siaga. Namun, penurunan status bukan berarti aktivitas vulkanik berhenti sepenuhnya. Guguran awan panas dan aktivitas kubah lava masih menjadi perhatian PVMBG.
Sinabung kemudian tetap dipantau secara intensif karena karakter erupsinya dapat berubah dan menghasilkan awan panas maupun abu vulkanik.
Advertisement
Aktivitas kembali terlihat jelas pada Agustus 2020. Pada 10 Agustus 2020, Sinabung erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 5.000 meter dari atas puncak. PVMBG menetapkan zona perkiraan bahaya sektoral 3-5 kilometer dari kawah.
Pada 13 Agustus, Sinabung kembali erupsi. Sehari kemudian, ESDM mencatat bahwa sejak 13 Agustus hingga laporan dibuat telah terjadi tujuh kali erupsi. Aktivitas tersebut juga disertai tremor menerus yang menunjukkan proses migrasi magma masih berlangsung.
Erupsi masih terjadi hingga September. ESDM mencatat erupsi terakhir pada periode tersebut terjadi pada 5 September 2020, dengan kolom erupsi sekitar 800 meter di atas puncak. Awan Panas Meluncur hingga 4,5 Kilometer
Aktivitas Sinabung berlanjut pada 2021. Pada 2 Maret 2021, Sinabung kembali mengalami erupsi dan mengeluarkan awan panas guguran. Tercatat tiga kejadian awan panas dengan jarak luncur berturut-turut sekitar 2 kilometer, 3 kilometer, hingga 4,5 kilometer ke arah tenggara.
Kolom abu juga mencapai sekitar 5.000 meter dari puncak. Abu vulkanik dilaporkan berdampak pada puluhan desa di sekitar Sinabung.
Pada 19 Mei 2021, erupsi kembali terjadi. Kolom erupsi mencapai sekitar 3.500 meter dari atas puncak, sementara awan panas meluncur sejauh 3 kilometer ke arah timur-tenggara.
Erupsi dan awan panas masih menjadi ancaman utama bagi kawasan sekitar gunung.
Aktivitas berlanjut sebelum kembali erupsi pada 2026. Setelah rangkaian erupsi pada 2021, aktivitas Sinabung tetap menjadi perhatian pemantauan gunung api.
Periode tersebut kemudian menjadi jeda sebelum erupsi terbaru pada 2026. Karena itu, penyebutan 2022 sebagai “erupsi terakhir” perlu dibedakan dengan aktivitas vulkanik harian atau guguran yang mungkin tetap terjadi.
Setelah periode tanpa erupsi besar yang menjadi perhatian publik, Sinabung kembali erupsi pada 31 Agustus 2026.
Kolom abu teramati mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut. Badan Geologi menyebut erupsi tersebut sebagai erupsi awal dan tidak menutup kemungkinan terjadi erupsi yang lebih besar.
PVMBG kemudian menaikkan status Sinabung dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga mulai pukul 12.30 WIB.
Masyarakat diminta menjauhi desa-desa yang telah direlokasi, kawasan dalam radius 3 kilometer dari puncak, serta sektor selatan-timur hingga 6 kilometer. Warga yang tinggal di sekitar sungai yang berhulu di Sinabung juga diminta mewaspadai potensi lahar.
Erupsi terbaru tidak hanya berdampak pada warga di sekitar Sinabung. Sebaran abu vulkanik turut mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang. Bandara sempat ditutup sementara sebagai langkah keselamatan penerbangan.
Sejumlah penerbangan dari dan menuju Kualanamu kemudian mengalami pembatalan, keterlambatan, dan perubahan jadwal akibat kondisi abu vulkanik.
Dampak ini menunjukkan bahwa material erupsi Sinabung dapat memengaruhi wilayah yang berada jauh dari kaki gunung, tergantung arah dan kondisi angin.
Sejarah Sinabung menunjukkan pola aktivitas yang panjang. Setelah kembali aktif pada 2010, gunung ini memasuki periode erupsi yang jauh lebih intens sejak 2013 dan terus menunjukkan aktivitas hingga beberapa tahun berikutnya.
Dampaknya bukan hanya berupa abu vulkanik. Warga menghadapi ancaman awan panas, guguran lava, lahar, kerusakan lahan, kehilangan tempat tinggal, hingga harus menjalani kehidupan di pengungsian.