2.000 Ton Lebih Bantuan untuk NTT, Mahasiswa Apresiasi Gerak Pemerintah

Dari jumlah tersebut, 1.996,70 ton atau 97,2 persen telah didistribusikan.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
2.000 Ton Lebih Bantuan untuk NTT, Mahasiswa Apresiasi Gerak Pemerintah
Kementerian perhubungan mengecek sejumlah bandara di NTT, termasuk Bandara Soa Bajawa. (Foto: Istimewa)

Respons pemerintah dalam penanganan gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 mendapat apresiasi dari kalangan mahasiswa. Mobilisasi logistik dalam jumlah besar serta penggunaan berbagai jalur distribusi dinilai menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memastikan kebutuhan masyarakat terdampak segera terpenuhi.

Data Dashboard Pos Pendukung Logistik Nasional Darurat Bencana Gempa Bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) BNPB mencatat total logistik yang diterima mencapai 2.055,04 ton. Dari jumlah tersebut, 1.996,70 ton atau 97,2 persen telah didistribusikan.

Angka tersebut dinilai menjadi gambaran konkret mengenai skala dukungan pemerintah dalam fase tanggap darurat. Terlebih, kondisi geografis NTT yang terdiri atas banyak wilayah kepulauan membuat distribusi bantuan membutuhkan koordinasi dan strategi transportasi yang tidak sederhana.

Fungsionaris Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) sekaligus Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang, Muhammad Ali Akbar, mengapresiasi langkah pemerintah dalam mengerahkan bantuan dan memastikan distribusinya berjalan.

“Sebagai mahasiswa, kami melihat respons pemerintah dalam penanganan gempa NTT patut diapresiasi. Ketika lebih dari 2.000 ton logistik telah diterima dan 97,2 persen sudah didistribusikan, ini menunjukkan adanya keseriusan untuk memastikan masyarakat terdampak mendapatkan bantuan,” ujar Ali dalam keterangannya, Rabu (2/9).

Menurut Ali, dalam situasi bencana, kecepatan dan kepastian menjadi dua hal yang sangat dibutuhkan masyarakat. Bantuan yang tersedia harus segera bergerak menuju wilayah terdampak agar dapat memberikan manfaat secara langsung.

“Dalam kondisi bencana, yang paling dibutuhkan masyarakat adalah kecepatan dan kepastian. Bantuan yang tersedia harus segera bergerak menuju mereka yang membutuhkan. Karena itu, capaian distribusi ini patut kita dukung dan apresiasi,” katanya.

Berdasarkan dashboard BNPB, distribusi logistik dilakukan melalui empat jalur transportasi. Jalur cargo menjadi yang terbesar dengan distribusi mencapai 1.065 ton melalui 71 sortie. Kemudian, TNI AU menyalurkan 607,53 ton melalui 42 sortie.

Distribusi melalui jalur laut mencapai 179,06 ton melalui dua trip kapal, sementara jalur darat mencapai 145,11 ton menggunakan 16 truk. Menurut Ali, penggunaan berbagai moda transportasi tersebut menunjukkan adanya penyesuaian strategi dengan karakteristik geografis NTT.

“NTT memiliki tantangan geografis tersendiri. Karena itu, penggunaan jalur udara, laut, dan darat secara bersamaan menunjukkan bahwa pemerintah berupaya menyesuaikan distribusi dengan kebutuhan dan kondisi wilayah,” tutur Ali.

Ali juga mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur dalam penanganan bencana. Menurutnya, kondisi darurat membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, lembaga kebencanaan, aparat, relawan, masyarakat, dan berbagai elemen lainnya.

Ali menilai dukungan mahasiswa terhadap pemerintah dalam situasi bencana merupakan bagian dari kepedulian terhadap masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tetap memiliki fungsi kritis, tetapi kritik harus disampaikan secara objektif dan konstruktif.

“Mahasiswa tentu harus memberikan kritik apabila ada kekurangan, tetapi ketika ada kebijakan dan kerja nyata pemerintah yang berpihak pada kebutuhan masyarakat, kita juga harus objektif untuk memberikan apresiasi dan dukungan. Ini bukan soal politik, melainkan soal kemanusiaan dan kepentingan masyarakat,” tegas dia.

Dia berharap distribusi bantuan yang telah dilakukan dapat menjadi fondasi bagi proses pemulihan selanjutnya. Menurutnya, perhatian pemerintah perlu terus berlanjut setelah masa tanggap darurat, terutama dalam memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi.

“Tanggap darurat adalah tahap awal. Setelah kebutuhan mendesak terpenuhi, pemerintah perlu memastikan proses rehabilitasi dan pemulihan berjalan dengan baik. Mahasiswa dan masyarakat sipil juga perlu ikut mengawal agar seluruh proses tersebut berlangsung transparan dan tepat sasaran,” ujar dia.

Ali menegaskan bahwa apresiasi terhadap pemerintah tidak berarti menghilangkan fungsi pengawasan masyarakat. Justru, dukungan dan pengawasan dapat berjalan beriringan untuk memastikan penanganan bencana semakin efektif.

“Kita apresiasi apa yang sudah berjalan, kita dukung upaya pemerintah, dan pada saat yang sama kita kawal agar pemulihan masyarakat NTT benar-benar tuntas. Kehadiran negara harus dirasakan masyarakat sejak masa darurat hingga mereka kembali bangkit,” pungkas Ali.

Data BNPB mengenai 2.055,04 ton logistik yang diterima dan 1.996,70 ton yang telah didistribusikan menjadi gambaran besarnya mobilisasi bantuan dalam penanganan gempa NTT. Di tengah tantangan geografis dan kebutuhan masyarakat yang mendesak, capaian tersebut dinilai menjadi langkah positif yang layak diapresiasi.

Dukungan terhadap penanganan pemerintah diharapkan terus diikuti dengan pengawalan bersama agar proses pemulihan berjalan secara tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi pemerintah dan masyarakat, penanganan gempa tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan darurat, tetapi berlanjut hingga masyarakat NTT benar-benar dapat bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara normal.

Rekomendasi