Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyelidiki kematian dr. Yuda Nabella Prameswari, M.Biomed. Dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip)/RSUP Dr. Kariadi Semarang, itu sebelumnya meninggal diduga akibat dibullying.
"Untuk turun ke sana, apakah ini bullying atau bukan. Jadi kita sedang melakukan pemeriksaan,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya, Rabu (2/9).
Azhar memastikan Kemenkes tidak akan menutup mata. Apabila hasil pemeriksaan mengonfirmasi adanya praktik bullying, langkah penindakan akan dilakukan sesuai ketentuan.
"Kalau misalnya ternyata bullying, terbukti, otomatis nanti kita akan ada langkah-langkah seperti biasa,” ujar Azhar.
Menurut Azhar, hasil evaluasi dapat berujung pada pembenahan sistem pendidikan. Bahkan, penghentian sementara kegiatan menjadi opsi apabila kondisi dinilai memerlukannya.
"Apakah memang perlu ditutup ataupun perbaikan-perbaikan,” kata Azhar.
Kasus ini juga membuat Kemenkes kembali mengevaluasi penerapan rencana perbaikan yang sebelumnya disusun setelah kasus PPDS terdahulu. Evaluasi tersebut dilakukan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
"Kita kan punya planning, apa-apa saja yang mereka harus lakukan. Kalau ternyata baik pihak Undip ataupun pihak Kariadi, saya nggak tahu ini dia stasenya di mana, itu tidak melakukan, ya tentu saja nanti sanksinya lebih berat,” kata Azhar.
Menurut dia, evaluasi diperlukan untuk melihat apakah langkah mitigasi yang sebelumnya telah disepakati benar-benar dijalankan oleh institusi pendidikan maupun rumah sakit.
“Karena sudah dua kali,” tutup dia.
Advertisement
Undip Buka Suara Kematian PPDS dr Yuda Diduga Dibullying
Viral di media sosial Dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip)/RSUP Dr. Kariadi Semarang, dr. Yuda Nabella Prameswari, M.Biomed., meninggal dunia pada 28 Agustus 2026.
Kabar diunggah dalam Instagram @medicstory.id menyebut dugaan menyoroti budaya senioritas di lingkungan PPDS. Akun tersebut juga menyebut adanya dugaan perlakuan tidak manusiawi terhadap junior.
Mirisnya, lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat belajar, membimbing dan membentuk calon dokter spesialis kejiwaan justru kembali disorot akibat dugaan adanya budaya senioritas.
Dugaan junior dipanggil dengan sebutan ‘babu’ dan mendapat perlakuan yang tidak manusiawi di lingkungan PPDS tentu menjadi persoalan serius apabila benar terjadi.
Direktorat Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik Undip, Nurul Hasfi mengatakan turut menyampaikan duka cita atas meninggalnya dr. Yuda.
"Universitas Diponegoro menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya dr. Yuda Nabella Prameswari, M.Biomed,” kata Nurul melalui keterangan resmi, Selasa (1/9).
Nurul menjelaskan, dr. Yuda merupakan mahasiswa baru PPDS Ilmu Kesehatan Jiwa, Departemen Kedokteran Spesialis Non-Surgikal, Fakultas Kedokteran Undip, periode Gasal 2026/2027.
"Kami mendoakan keluarga almarhumah diberikan kekuatan serta ketabahan atas musibah ini,” ujar dia.
Terkait dugaan bullying yang berkaitan dengan meninggalnya dr. Yuda, Undip membantah informasi tersebut. Berdasarkan laporan resmi yang diterima universitas, dr. Yuda meninggal dunia setelah menjalani perawatan akibat demam berdarah.
"Dari laporan resmi yang diterima universitas, almarhumah meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUP Dr. Kariadi karena sakit demam berdarah,” kata dia.
Selama menjalani perawatan, almarhumah didampingi keluarga serta mendapatkan pendampingan dari departemen dan program studi. Almarhumah meninggal pada 28 Agustus pukul 19.06 WIB di ICU RSUP Dr. Kariadi.
"Jadi dr Yuda meninggal setelah sebelumnya menjalani perawatan selama 15 hari. Almarhumah kemudian langsung dibawa kembali ke rumahnya di Serang, Banten,” jelas Nurul.
Posisi Yuda sebagai mahasiswa PPDS. Dr. Yuda merupakan mahasiswa angkatan ke-85 Program Studi Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Ia tercatat masuk pada 16 Juli 2026 dan berstatus sebagai PPDS semester 1.
"Jadi, almarhumah masih dalam masa orientasi dan baru menjalani perkuliahan selama sekitar 1,5 bulan. Almarhumah masih mengikuti Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) di kelas dan belum menjalani praktik di rumah sakit,” kata dia.
Meski membantah dugaan bullying sebagai penyebab meninggalnya dr. Yuda, Undip tetap melakukan klarifikasi internal terhadap informasi yang beredar.
Undip sendiri saat ini tetap terus mengawal isu ini dengan melakukan klarifikasi internal untuk memastikan kebenaran informasi yang berkembang serta memperoleh gambaran yang lengkap dan objektif mengenai dugaan tersebut, termasuk selalu berkoordinasi dengan RSUP Dr. Kariadi.
“Undip, termasuk FK, sendiri terus berkomitmen menjaga lingkungan pendidikan yang aman, profesional, dan bebas dari segala bentuk perundungan,” ucap Nurul.