BMKG menyampaikan mayoritas wilayah Indonesia masih berada pada periode kemarau. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memprediksi awal musim hujan baru akan tiba pada pertengahan Oktober 2026, disampaikan dalam rapat Komisi V DPR di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Di sisi lain, hujan yang mengguyur Jakarta pada Rabu siang (19/8/2026) dipastikan merupakan fenomena alam dan bukan hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Keterangan ini disampaikan Sekretaris Utama BMKG Guswanto kepada Liputan6.com.
BMKG juga memetakan titik panas (hotspot) dan menetapkan sejumlah provinsi sebagai prioritas pemantauan untuk periode terkini.
Advertisement
Prediksi BMKG: Musim Hujan Mulai Pertengahan Oktober 2026
Teuku menyebut kondisi atmosfer di banyak wilayah masih kering dan berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.
"Ini relatif kering dan masih berpotensi berlanjut di wilayah-wilayah tersebut. Kalau dari prediksi BMKG, diperkirakan pada pertengahan Oktober musim hujan baru mulai datang," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Ia menambahkan, pihaknya menyiapkan operasi modifikasi cuaca di Jakarta dalam rangka penanganan polusi udara apabila diperlukan.
Advertisement
Hujan di Jakarta Bukan Hasil Modifikasi Cuaca
BMKG menjelaskan hujan pada Rabu siang di Jakarta terjadi secara alami, bukan dari OMC. "Bukan, itu bukan hasil modifikasi cuaca. Itu adalah hujan alami," ujar Sekretaris Utama BMKG Guswanto kepada Liputan6.com, Rabu (19/8/2026).
Menurut BMKG, hujan yang berlangsung sekitar pukul 12.30 hingga 14.30 WIB dipicu pertemuan massa udara basah dari Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. "Selain itu, ada sirkulasi siklonik di Laut Jawa yang memperkuat pertumbuhan awan hujannya. Kelembapan atmosfer kita juga sekitar 96 persen, sehingga memicu terjadinya hujan," jelasnya.
Guswanto menyebut curah hujan tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga wilayah sekitar. "Hujan bukan hanya di Jakarta saja, tapi sampai ke Pandeglang, Bogor, hingga Depok. Sekarang saja di tempat saya di Citayam juga sedang hujan," katanya.
Advertisement
Empat Provinsi Jadi Prioritas Pemantauan Titik Panas
BMKG memprioritaskan pemantauan di empat provinsi berdasarkan analisis titik panas terkini. Empat daerah itu adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur.
Penetapan prioritas tersebut dilakukan untuk memperkuat kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan dan hutan di tengah kondisi yang masih kering.
Teuku menjelaskan prioritas ini berjalan seiring dengan prediksi kemarau yang masih berlangsung di banyak wilayah hingga sebelum awal musim hujan tiba.