Musim Hujan Diprediksi Mundur, Apa Penyebab dan Dampaknya?

Musim hujan masih diperkirakan mundur, menurut BMKG ini dipengaruhi fenomena El Nino yang saat ini berada pada kategori sangat kuat.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani - Reporter
Musim Hujan Diprediksi Mundur, Apa Penyebab dan Dampaknya?
Sejumlah kendaraan melintas saat hujan di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (18/2/2022). BMKG mengungkapkan potensi curah hujan meningkat dan cuaca ekstrem sepanjang 17-23 Februari 2022. Sejumlah wilayah diminta waspada dampak yang terjadi dari cuaca buruk. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia akan datang lebih lambat. Kondisi ini dipengaruhi fenomena El Nino yang saat ini berada pada kategori sangat kuat.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik saat ini mencapai +2,63 derajat Celsius. Kondisi tersebut diproyeksikan masih bertahan hingga awal 2027 dan turut memengaruhi datangnya musim hujan di Indonesia.

"Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat di 529 zona musim atau mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia," kata Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Kapan musim hujan diperkirakan mulai datang?

BMKG memprediksi kedatangan musim hujan berlangsung secara bertahap. Pada November 2026, sebanyak 195 Zona Musim (ZOM) yang mencakup 24,66 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan.

Kemudian pada Desember 2026, musim hujan diprediksi mulai terjadi di 266 ZOM atau mencakup 17,31 persen luas daratan.

Meski awal musim hujan mengalami keterlambatan di banyak wilayah, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti curah hujan akan berada di bawah normal sepanjang musim. BMKG memperkirakan akumulasi curah hujan di 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan masih berada dalam kategori normal.

Lalu, apa yang menyebabkan musim hujan datang lebih lambat dan apa saja dampaknya bagi masyarakat?

Apa Penyebab Musim Hujan Mundur?

Mundurnya awal musim hujan berkaitan dengan fenomena El Nino yang saat ini berada pada kategori sangat kuat.

Salah satu indikatornya terlihat dari kondisi suhu muka laut di Samudra Pasifik. Saat ini, BMKG mencatat anomali suhu muka laut mencapai +2,63 derajat Celsius.

Kondisi tersebut diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027. Keadaan atmosfer dan laut yang berkaitan dengan El Nino kemudian turut memengaruhi pola cuaca di Indonesia.

Dampaknya, periode kering di sejumlah wilayah dapat berlangsung lebih panjang sehingga awal musim hujan tidak datang seperti waktu yang biasanya diperkirakan.

Karena pengaruh tersebut, BMKG memperkirakan 529 ZOM atau 61,08 persen luas daratan Indonesia akan mengalami awal musim hujan yang lebih lambat.

Dengan kata lain, yang mengalami pergeseran terutama adalah waktu datangnya hujan, bukan berarti seluruh wilayah Indonesia tidak akan mengalami musim hujan.

Apa Dampak Musim Hujan Mundur?

Mundurnya musim hujan membuat periode kering berpotensi berlangsung lebih panjang. Kondisi ini dapat berpengaruh terhadap ketersediaan air, pertanian, lingkungan, hingga kesehatan.

Masyarakat dan pemerintah daerah perlu mengantisipasi penggunaan air selama periode kering. Penghematan air bersih serta penambahan kapasitas tampungan air di tingkat rumah tangga dapat dilakukan sebagai langkah persiapan.

Pada sektor pangan, waktu tanam perlu disesuaikan dengan kondisi musim. Pemilihan varietas tanaman dengan masa tanam lebih pendek juga dapat menjadi salah satu upaya menghadapi keterlambatan datangnya hujan.

Periode kering yang lebih panjang juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama di wilayah yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.

Dalam pengelolaan sumber daya air, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan juga perlu memetakan sumber air yang dapat dimanfaatkan, termasuk potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor.

"Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan diimbau mengidentifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor, serta mengoptimalkan pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan," tutur Faisal.

Dampak Bagi Kesehatan

Kondisi panas dan kering yang berlangsung lebih lama juga perlu diantisipasi dari sisi kesehatan. Masyarakat dianjurkan menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, untuk mencegah dehidrasi dan kelelahan.

Paparan sinar matahari juga perlu diperhatikan. Penggunaan tabir surya dapat dilakukan untuk membantu mengurangi paparan langsung sinar matahari.

Sementara ketika hujan mulai turun, masyarakat tetap perlu mewaspadai penyakit yang berkaitan dengan genangan air. BMKG mendorong upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan larvasidasi untuk mengantisipasi potensi peningkatan kasus demam berdarah.

Kesiapan fasilitas kesehatan juga diperlukan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan penyakit yang berkaitan dengan kondisi cuaca dan genangan setelah hujan.

Rekomendasi