Cerita Banser 14 Hari Mengayuh Sepeda dari Sumsel ke Jombang Demi Muktamar NU

Kayuhan demi kayuhan akhirnya berlabuh di Tambakberas, Jombang pada Selasa (18/8) malam.

Erwin yohanes
Oleh Erwin yohanes - Reporter
Cerita Banser 14 Hari Mengayuh Sepeda dari Sumsel ke Jombang Demi Muktamar NU
Banser menempuh perjalanan dari Sumatera Selatan ke Jombang. (merdeka.com/Erwin yohanes).

Ketika sebagian orang memilih kendaraan tercepat untuk menghadiri Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Maskhun Arif Hidayat justru memilih cara jauh lebih sunyi sekaligus penuh makna.

Selama 14 hari, kader Barisan Ansor Serbaguna (Banser) asal Sumatera Selatan itu mengayuh sepeda melintasi ribuan kilometer demi satu tujuan, menyaksikan langsung hajatan terbesar organisasi yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya.

Kayuhan demi kayuhan akhirnya berlabuh di Tambakberas pada Selasa (18/8) malam. Tak ada kemewahan mengiringi kedatangannya. Hanya sebuah sepeda, tubuh mulai menua, dan semangat tetap menyala di usia 56 tahun.

Pria yang akrab disapa Ndan Arif itu mengaku perjalanan panjang tersebut bukanlah keputusan yang lahir secara tiba-tiba. Jauh sebelum Tambakberas resmi ditetapkan sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-35, dia telah menanamkan tekad untuk datang dengan mengayuh sepeda.

"Lima bulan sebelum lokasi muktamar ditetapkan, saya sudah berniat bersepeda menghadiri muktamar," kata Ndan Arif, Rabu (19/8).

 

Banser menempuh perjalanan dari Sumatera Selatan ke Jombang. (merdeka.com/Erwin yohanes).
Banser menempuh perjalanan dari Sumatera Selatan ke Jombang. (merdeka.com/Erwin yohanes).

Bagi Ndan Arif, perjalanan itu bukan semata-mata soal menaklukkan jarak. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi ungkapan rasa syukur karena masih diberi kesehatan dan kekuatan oleh Allah SWT untuk terus mengabdi kepada NU.

"Yang pertama saya merasa bersyukur atas karunia dan rahmat Allah SWT. Di usia ke-56 tahun saya masih diberi kekuatan fisik. Tentunya yang tidak kalah penting adalah niat," ujar dia.

Ribuan kilometer yang terbentang dari Sumatera Selatan hingga Jombang justru menjadi ruang bagi Ndan Arif untuk merasakan hangatnya persaudaraan warga Nahdliyin.

Hampir di setiap daerah dilaluinya, dia disambut oleh keluarga besar NU, mulai dari pengurus PWNU, PCNU, MWC NU hingga kader Ansor dan Banser yang menyempatkan diri memberikan dukungan.

Sambutan itu membuat perjalanan yang melelahkan berubah menjadi pengalaman yang menguatkan. Baginya, setiap jabat tangan, senyum, hingga doa dari sesama kader menjadi tenaga baru untuk terus mengayuh menuju Tambakberas.

Ndan Arif bahkan mengaku mendapat kehormatan saat Ketua Umum GP Ansor melepas keberangkatannya dari Markas Komando Pimpinan Pusat GP Ansor sebelum memulai perjalanan menuju Jombang.

"Kemarin Ketua Umum Ansor juga berkenan melepas saya dari Mako PP GP Ansor menuju Tambakberas," kata dia.

Waktu Perjalanan

Meski harus menempuh perjalanan lintas provinsi selama dua pekan, Ndan Arif mengaku tidak menemui kendala berarti. Sebaliknya, perjalanan itu justru dipenuhi rasa bahagia karena merasakan kuatnya ikatan persaudaraan yang menjadi denyut kehidupan warga NU di berbagai daerah.

Setibanya di lokasi muktamar, lelah yang menumpuk selama perjalanan seolah terbayar lunas. Ia kini dapat menjadi bagian dari sejarah penyelenggaraan Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, sebuah momentum yang menurutnya bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan ikhtiar bersama menjaga persatuan jam'iyah.

Di balik kayuhan sepedanya, tersimpan harapan sederhana namun mendalam. Dia berharap seluruh rangkaian Muktamar NU berlangsung dalam suasana sejuk, penuh persaudaraan, dan menghasilkan pemimpin yang mampu merangkul seluruh elemen Nahdlatul Ulama.

"Siapapun yang akan memimpin di tataran elit PBNU ke depan, saya yakin beliau akan istiqamah dan selalu mengayomi Jamiyah An-Nahdliyah di akar rumput," pungkasnya.

Perjalanan Ndan Arif menjadi pengingat bahwa semangat mengabdi kepada organisasi tidak selalu diwujudkan melalui pidato atau jabatan.

Terkadang, cinta kepada NU cukup ditunjukkan melalui kayuhan sepeda yang tak pernah berhenti, menembus jarak, mengalahkan lelah, dan mengantarkan harapan hingga ke halaman Muktamar di Tambakberas.

Rekomendasi