Kepala SPPG Muntah Usai Cicipi Menu MBG untuk SD di Karanganyar

Kepala SPPG bernama Abra Yodha Raya mengaku mual dan muntah usai mencicipi menu MBG untuk siswa SDN 2 Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Kepala SPPG Muntah Usai Cicipi Menu MBG untuk SD di Karanganyar
Lokasi Kepala SPPG keracunan di Karanganyar. (merdeka.com/istimewa).

Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk 94 siswa SDN 2 Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, batal dibagikan pada Rabu (12/8). Keputusan tersebut diambil Kepala SPPG Jati, Abra Yodha Raya usai dirinya merasakan mual dan muntah usai mencicipi menu ayam rempah terindikasi bermasalah.

Selain mual dan muntah, Abra juga merasakan pusing setelah mencicipi masakan tersebut. Namun justru karena itu, 300 porsi makanan untuk batch kedua berhasil dicegah sebelum sampai ke penerima.

"Saya dapat laporan dari dapur, dari chef-nya bilang 'Pak ini coba dirasakan sama bau, ini kalau dari saya ada agak aneh'. Ahli gizi juga sudah merasakan, laporan ke saya, terus saya turun tangan," kata Abra, Kamis (13/8).

Kronologi

Abra mengaku ada sekitar 10 orang ikut mencicipi, mulai dari tim dapur hingga ahli gizi. Namun hanya dirinya merasakan mual.

"Rasa itu enak, karena apa? Ketutup rempah. Tapi dari aroma enggak bisa dibohongi, Mas, aromanya memang beda, agak kecut gitu," ujar Abra.

Dalam uji organoleptik skala 1-5, menu itu hanya mendapat nilai 2. Karena tidak lolos, menu tersebut otomatis tidak didistribusikan.

Abra menduga kondisi tubuhnya juga ikut berpengaruh.

"Mungkin bisa jadi itu karena saya sorenya habis sepak bola pol-polan sampai lemas terus paginya kan jaga di sini, jadwal piket juga di sini. Kalau piket otomatis enggak tidur," kata dia.

300 Porsi Ditarik

Menu ayam rempah itu dimasak untuk 300 penerima di batch kedua. Beruntung belum sempat dibagikan.

Yang mengejutkan, SPPG Jati juga menarik kembali 300 porsi dari batch pertama sudah terlanjur didistribusikan.

"Batch pertama. Jadi sudah ada yang dimakan, ada yang belum, itu pokoknya ditarik semua. Itu langkah antisipasi. Bukan itu yang bahaya enggak, tapi itu langkah antisipasi kami seperti itu," ujar Abra.

Dia menegaskan langkah penarikan itu murni tindakan preventif.

"Ini adalah tindakan preventif, sekalian meluruskan bahwa tidak ada yang keracunan," kata Abra.

Abra mengatakan, pada sekitar pukul 08.01 WIB, keputusan penarikan langsung dilakukan. Satu menit kemudian, sekitar pukul 08.02 WIB, dia memerintahkan tim untuk menghubungi seluruh penanggung jawab serta pengemudi agar makanan sudah dalam proses pengiriman segera ditarik.

"Langsung saya perintahkan, hubungi seluruh PIC, hubungi driver langsung untuk menarik semuanya,” ujar Abra.

Laporan mengenai kejadian tersebut, menurut dia, disampaikan secara berjenjang kepada pihak terkait, mulai dari koordinator wilayah hingga pihak berikutnya dalam struktur pelaporan.

Abra mengatakan kejadian tersebut merupakan pengalaman pertama bagi SPPG Jati.

Bahan ayam yang digunakan untuk menu tersebut berasal dari pemasok di wilayah sekitar. Setelah kejadian itu, SPPG Jati akan memperketat pemeriksaan bahan baku, termasuk proses pemilihan pemasok.

“Yang jelas kami akan memperketat lagi yang namanya pemilihan supplier,” kata Abra.

Selain pemeriksaan bahan, briefing internal juga akan diperkuat. Abra mengatakan tim akan mendapat pengarahan secara berkala, termasuk sebelum proses pemasakan dan setelah pemorsian.

Dia menjelaskan, pengaturan waktu produksi juga menjadi bagian dari briefing tim agar setiap tahapan dapat dipantau dengan lebih ketat.

Untuk distribusi berikutnya, Abra memastikan SPPG Jati tetap akan menjalankan produksi seperti biasa. Tidak ada rencana menggandakan jumlah makanan sebagai pengganti makanan tidak didistribusikan pada hari tersebut.

 

Rekomendasi