Pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat melambat tajam pada September 2026, menandai pendinginan pasar tenaga kerja AS. Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat nonfarm payrolls bertambah 29.000, sementara tingkat pengangguran naik ke 4,2%.
Catatan itu meleset dari proyeksi survei Dow Jones yang memperkirakan 84.000 pekerjaan baru dan pengangguran 4,1%. Mengutip CNBC, Sabtu (3/10/2026), data bulan sebelumnya juga direvisi: Agustus turun menjadi 133.000 dan Juli berbalik minus 10.000, memangkas total 60.000 pekerjaan dari laporan awal.
Pasar keuangan bereaksi cepat. Saham AS menguat setelah rilis, imbal hasil obligasi turun dari level tertinggi beberapa dekade. Berdasarkan CME Group's FedWatch, peluang The Fed menahan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober naik menjadi 82,8%.
Setelah rilis data, ekonom menilai The Fed punya ruang untuk jeda kebijakan.
"Bagi The Fed, data ini jadi pengunci keputusan untuk membatalkan kenaikan suku bunga di Oktober," ungkap Kepala Ekonom AS di Jefferies, Thomas Simons.
"Penyerapan tenaga kerja sempat melonjak pada Agustus, dan kami kira momentum itu bakal berlanjut mengingat klaim pengangguran beberapa pekan terakhir sangat rendah. Namun ternyata, lonjakan Agustus kemarin cuma sekadar pemulihan singkat dari lesunya perekrutan di Juni dan Juli."
Advertisement
Rapor Tenaga Kerja AS Masih Campur Aduk
Di internal The Fed, tingkat pengangguran kerap dipantau lebih dekat ketimbang angka payroll utama. Pada September, hasil household survey yang menjadi dasar perhitungan pengangguran tampil lebih positif dibanding establishment survey yang digunakan untuk menghitung payroll.
Dalam survei rumah tangga, jumlah orang yang bekerja bertambah 406.000 sepanjang September. Angkatan kerja naik 485.000, dan tingkat partisipasi kerja meningkat 0,2% menjadi 61,8%, tertinggi sejak Mei.
Indikator pengangguran alternatif yang juga mencakup pekerja pasrah (discouraged workers) serta pekerja paruh waktu karena alasan ekonomi turun tipis ke 7,6%, terendah sejak Januari 2025.
Data ini hadir ketika para pejabat The Fed menimbang arah kebijakan jelang pertemuan berikutnya. Pasar kini menggeser ekspektasi: FOMC diperkirakan baru akan kembali menaikkan suku bunga pada Desember, setelah sebelumnya menaikkan acuan 0,25% pada September.
Para pembuat kebijakan masih melihat inflasi sebagai risiko utama, sementara pasar kerja dinilai tetap tangguh. Kondisi saat ini kerap digambarkan sebagai pola "low-hire, low-fire"—perekrutan lesu namun pemutusan hubungan kerja tetap minim—tercermin dari klaim pengangguran mingguan yang rendah dan angka PHK di level terendah empat tahun.
Meski demikian, inflasi masih berada di atas target 2% The Fed. Ukuran preferensi bank sentral terbaru menunjukkan inflasi inti tahunan di sekitar 3%.
Advertisement
Kenaikan Gaji Mulai Loyo
Tekanan upah mereda pada September. Rata-rata upah per jam hanya naik 0,1% secara bulanan, menyeret pertumbuhan tahunan ke 3%—terendah sejak Mei 2021—di bawah proyeksi Wall Street yang memperkirakan kenaikan 0,3% bulanan dan 3,1% tahunan. Rata-rata jam kerja mingguan tidak berubah di 34,6 jam.
"Masyarakat AS makin frustrasi karena makin sulit cari peluang," kata Kepala Ekonom di Navy Federal Credit Union, Heather Long.
"Pertumbuhan gaji anjlok ke rekor terendah dalam 5 tahun dan habis tergerus inflasi. Ini situasi yang menyakitkan menjelang musim liburan."
Meski demikian, Long menilai pasar tenaga kerja masih stabil dan menilai The Fed tetap memiliki alasan untuk menaikkan suku bunga pada Desember.
Dari sisi penciptaan lapangan kerja, sektor pelayanan kesehatan menyerap 17.000 pekerja, disusul konstruksi (11.000) dan manufaktur (9.000). Sebaliknya, sektor pemerintah kehilangan 17.000 pekerjaan, jasa tenaga kerja sementara berkurang 11.000, serta jasa informasi menyusut 10.000 pekerjaan di tengah bayang-bayang otomatisasi kecerdasan buatan (AI). Aktivitas keuangan juga turun 7.000 pekerjaan.