Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dibuat geram dengan maraknya aksi pencurian fasilitas umum (fasum) di sejumlah taman kota. Tidak hanya kursi besi yang raib, pelaku juga menggondol pot tanaman, bunga hias, hingga kabel lampu dekoratif.
Untuk menekan aksi tersebut, Pemkot Surabaya kembali menggelar sayembara berhadiah bagi warga yang berhasil mendokumentasikan pelaku pencurian.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser, mengatakan taman kota merupakan ruang publik disediakan untuk masyarakat beraktivitas, bersantai, hingga berinteraksi. Oleh karena itu, berbagai fasilitas pendukung terus dilengkapi agar pengunjung merasa nyaman.
Menurutnya, Surabaya saat ini memiliki lebih dari 800 taman, dengan 47 di antaranya merupakan taman aktif yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
"Jumlah seluruh taman di Kota Surabaya lebih dari 800, sedangkan taman aktif ada 47 lokasi. Taman aktif ini menjadi tempat warga berkumpul, sehingga harus tetap bersih dan nyaman agar masyarakat mau datang," ujar Fikser.
Namun, berbagai fasilitas yang telah dibangun justru kerap menjadi sasaran pencurian. Salah satu aset paling sering hilang adalah kursi besi dipasang di taman maupun kawasan pedestrian.
Fikser menjelaskan, pemasangan kursi tersebut telah dilakukan secara bertahap sejak 2016. Hingga kini terdapat sekitar 220 unit kursi yang tersebar di berbagai ruang publik. Harga setiap unit kursi mencapai lebih dari Rp3 juta karena menggunakan material baja berlapis krom.
"Satu kursi harganya lebih dari Rp3 juta. Bahannya memang berat karena menggunakan krom baja," kata dia.
DLH sebenarnya telah menerapkan berbagai langkah pengamanan. Kursi dipasang menggunakan baut khusus, dikunci, hingga dilas pada bagian kaki agar tidak mudah dilepas maupun dipindahkan. Meski demikian, cara tersebut belum sepenuhnya mampu mencegah aksi pencurian.
"Selain berat, kursi juga dipasang dengan baut drat dan ada yang dilas di bagian kaki supaya tidak mudah diambil maupun digeser. Tetapi kenyataannya masih ada yang berhasil dicuri," ungkapnya.
Tidak hanya kursi, aksi pencurian juga menyasar pot tanaman, bunga hias, hingga kabel lampu dekoratif yang menghiasi taman dan kawasan Sungai Kalimas.
"Kabel lampu lilit juga sering diambil. Padahal lampu-lampu itu dipasang di kawasan Kalimas, taman, dan pepohonan untuk mempercantik kota," ujar Fikser.
Bahkan, dalam satu kali aksi, pelaku diduga mampu membawa kabur kabel sepanjang puluhan meter. Fikser menduga pencurian dilakukan oleh kelompok yang sudah berpengalaman karena proses pelepasan kabel berlangsung sangat cepat.
"Mereka bisa mengambil kabel dalam jumlah puluhan meter dalam waktu singkat. Kalau orang yang tidak terbiasa tentu sulit karena kabel itu terlilit. Dugaan kami pelakunya bekerja secara berkelompok," jelas dia.
Advertisement
Sayembara Tangkap Pencuri
Sebagai langkah pencegahan, Pemkot Surabaya mengajak masyarakat ikut mengawasi aset publik. Melalui program sayembara yang telah berjalan sejak lama, warga yang berhasil memotret atau merekam pelaku pencurian fasilitas umum dapat memperoleh hadiah sebesar Rp300 ribu.
"Program ini sudah lama berjalan. Yang kami butuhkan bukan hanya laporan kehilangan, tetapi bukti pelaku saat melakukan pencurian. Cukup foto, unggah ke akun Instagram Dinas Lingkungan Hidup, nanti kami tindak lanjuti dan pemberi informasi akan mendapat hadiah Rp300 ribu," terang Fikser.
Ia berharap masyarakat memiliki rasa kepemilikan terhadap fasilitas kota. Sebab, anggaran yang digunakan untuk membangun dan merawat taman serta ruang terbuka hijau berasal dari uang rakyat sehingga perlu dijaga bersama.
"Mari bersama-sama menjaga kota ini agar tetap nyaman, indah, dan aman. Dengan begitu orang akan tertarik datang berwisata maupun berinvestasi di Surabaya, yang pada akhirnya juga berdampak pada kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.