Di pesisir Kota Bontang, Kalimantan Timur, Kelurahan Bontang Kuala menawarkan pengalaman unik sebagai perkampungan nelayan terapung. Wilayah ini menolak tunduk pada daratan, dengan denyut kehidupan sehari-hari warganya yang hangat di atas riak Selat Makassar.
Kampung ini bukan sekadar destinasi pariwisata unggulan, melainkan ruang hidup yang merayakan harmoni manusia dengan alam. Ketangguhan adat leluhur serta kehangatan ikatan komunitas sangat terasa di sini.
Bontang Kuala telah ada sebagai perkampungan nelayan tradisional sejak sekitar tahun 1789 di bawah Kesultanan Kutai. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan lokal pada masa kolonial Belanda di tahun 1920.
Advertisement
Advertisement
Keunikan Arsitektur dan Transportasi Lokal
Kelurahan Bontang Kuala memiliki tata ruang pemukiman yang sangat unik, terbagi menjadi 11 Rukun Tetangga (RT) terapung dan sembilan RT di daratan. Kawasan seluas 627 hektare ini terus berkembang menjadi pemukiman pesisir yang tumbuh pesat di Bontang.
Berbeda dengan jalanan perkotaan yang bising, atmosfer di Bontang Kuala dipenuhi kedamaian karena kendaraan roda empat dilarang melintas di kawasan terapung. Lurah Bontang Kuala, Ardiansyah, menjelaskan bahwa hal ini menjaga lorong-lorong kayu ulin tetap aman bagi pejalan kaki.
"Seluruh mobil pengunjung maupun warga harus diparkir di area luar, tepat di depan gerbang utama. Ini membiarkan lorong-lorong kayu ulin menjadi ruang yang aman bagi pejalan kaki dan pengendara roda dua," terang Ardiansyah.
Advertisement
Jalan utama dan gang-gang di perkampungan ini berupa jembatan kayu ulin panjang yang membentang di atas air laut, mengingatkan pada struktur jembatan di hulu Sungai Mahakam. Kayu ulin, dijuluki kayu besi, semakin kokoh saat terendam air laut, menjadikannya fondasi utama kehidupan warga pesisir.
Bagi wisatawan yang lelah berjalan kaki, tersedia transportasi lokal berupa BMW (Becak Motor Wisata) dengan tarif sekitar Rp20.000 per perjalanan. Kendaraan roda tiga ini siap membawa pengunjung menjelajahi perkampungan terapung hingga ke tepi laut.
Advertisement
Jejak Sejarah dan Kekuatan Budaya Bajau
Bontang Kuala tidak tumbuh dari ruang hampa; di balik statusnya sebagai desa wisata budaya, tersimpan kisah sejarah panjang yang membentuk identitasnya. Kawasan terapung ini merupakan cikal bakal berdirinya pemerintahan pertama di Bontang.
Jafar, tokoh dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kuala Abadi, mengungkapkan bahwa suku pertama yang merintis pemukiman adalah suku Bajau. "Suku pengembara laut ini memilih perairan tenang di Bontang Kuala untuk membangun rumah panggung pertama mereka, menggantungkan kelangsungan hidup sepenuhnya dari hasil laut," jelas Jafar.
Keterikatan sejarah dengan suku Bajau mewariskan karakter budaya yang kuat bagi masyarakat Bontang Kuala. Meskipun kini dihuni oleh berbagai suku, identitas sebagai kampung nelayan Bajau tetap dijaga dengan bangga.
Advertisement
Hubungan emosional yang erat dengan laut membuat warga sangat menghargai kelestarian maritim. Pokdarwis Kuala Abadi berkomitmen mendokumentasikan dan mempromosikan warisan sejarah ini agar memori kolektif tidak pudar.
Advertisement
Pesona Kuliner dan Ekonomi Kreatif Khas Pesisir
Salah satu daya tarik terkuat Bontang Kuala adalah keunikan kuliner dan ekonomi kreatifnya. Di sepanjang jembatan ulin, pemandangan ibu nelayan menjemur ikan asin dan rumput laut basah adalah hal yang umum.
Komoditas ekonomi kreatif paling melegenda adalah terasi udang khas, terbuat dari udang rebon segar tanpa pengawet kimia. Proses penjemuran tradisional menghasilkan aroma khas pesisir yang harum dan gurih, menjadikannya oleh-oleh andalan.
Saat senja, warung makan terapung ramai dikunjungi untuk menikmati hidangan ikonik: gami. Kuliner legendaris ini menyajikan seafood segar seperti ikan bawis, cumi, atau udang yang dimasak bersama sambal cabai dan tomat langsung di atas cobek tanah liat membara.
Advertisement
Sambal gami yang panas dan pedas gurih berpadu sempurna dengan kesegaran seafood tangkapan hari itu, menawarkan pengalaman kuliner tak terlupakan. Untuk meningkatkan daya saing, pemerintah kelurahan aktif mendorong UMKM lokal mengurus izin usaha serta sertifikasi halal.
Kesadaran lingkungan juga tumbuh melalui inisiatif pemanfaatan limbah seperti kulit kerang yang diolah menjadi kerajinan bernilai ekonomi tinggi.
Advertisement
Keindahan Alam dan Prestasi Nasional
Bontang Kuala adalah gerbang petualangan bagi penggemar keindahan alam bahari. Dari dermaga terapung, wisatawan dapat menyewa perahu ketinting nelayan untuk menjelajahi berbagai destinasi wisata alam di sekitar perairan pesisir.
Keindahan alam daratan juga tersaji lewat rimbunnya hutan bakau (mangrove) yang membentang luas mengitari pemukiman. Vegetasi mangrove ini berfungsi sebagai benteng alami pelindung pesisir dari abrasi dan habitat bagi ikan serta kepiting bakau.
Namun, hidup berdampingan dengan alam liar di Bontang Kuala juga menuntut kewaspadaan. Plang peringatan "Gigitan buaya muara tak seindah gigitan buaya darat" menjadi pengingat nyata akan habitat alami buaya muara di perairan sekitar hutan bakau.
Advertisement
Ketika malam tiba, suasana di Bontang Kuala justru semakin hangat dan hidup di area Anjungan, pusat interaksi sosial warga. Deretan angkringan dan tempat nongkrong terapung ramai dikunjungi warga lokal dan wisatawan.
Seluruh potensi ini membawa Bontang Kuala meraih prestasi di tingkat nasional, menembus peringkat 300 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) pada tahun 2022. Prestasi ini melahirkan kebanggaan dan harapan baru bagi warga pesisir.
Lurah Ardiansyah berharap semua elemen masyarakat, pemuda kreatif, Pokdarwis, serta pemerintah kota dan provinsi terus bersinergi. Bontang Kuala optimis dapat tumbuh menjadi destinasi wisata mendunia tanpa kehilangan identitas aslinya sebagai kampung nelayan terapung.
Advertisement
Sumber: AntaraNews