Populasi Orang Utan Sumatra Turun 19,5 Persen dalam 12 Tahun, ini Penyebabnya

Penurunan populasi orang utan Sumatra rata-rata mencapai 1,8 persen per tahun.

Uga Andriansyah
Oleh Uga Andriansyah - Reporter
Populasi Orang Utan Sumatra Turun 19,5 Persen dalam 12 Tahun, ini Penyebabnya
Orang Utan Sumatra.

Populasi orang utan Sumatra (Pongo abelii) mengalami penurunan sekitar 19,5 persen dibandingkan hasil survei 2011. Temuan tersebut berdasarkan survei populasi orang utan Sumatra dan orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang dilakukan pada 2021–2023.

Hasil survei itu telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Global Ecology and Conservation (GECCO) volume 69 (2026) e04302. Kajian tersebut melibatkan peneliti, akademisi, mitra konservasi, dan pemerintah.

Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menyebut penurunan populasi orang utan Sumatra rata-rata mencapai 1,8 persen per tahun. Struktur hutan dan kepadatan penduduk menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kepadatan populasi orang utan.

Selain itu, kehilangan tutupan hutan disebut menjelaskan sebagian besar perubahan populasi di berbagai bentang alam. Namun, survei juga menemukan sejumlah metapopulasi mengalami penurunan lebih besar daripada yang diperkirakan hanya akibat kehilangan habitat.

Kepala Divisi Konservasi In Situ YEL, Julius Paolo Siregar mengatakan, hasil survei tidak sekadar menunjukkan jumlah orang utan yang masih bertahan di alam. Namun, juga membantu mengidentifikasi faktor yang memengaruhi perubahan populasi.

“Survei populasi tidak hanya memberi tahu kita berapa jumlah orang utan yang masih bertahan di alam. Yang jauh lebih penting, hasil ini membantu kita memahami kondisi populasi, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perubahannya, dan memastikan bahwa kebijakan maupun program konservasi disusun berdasarkan bukti ilmiah,” ujar Julius, Sabtu (8/8).

Menurut Julius, temuan tersebut menunjukkan perlindungan habitat harus tetap menjadi fondasi utama konservasi orang utan. Namun, upaya tersebut perlu diperkuat dengan pengelolaan kawasan, pencegahan ancaman terhadap satwa liar, pemantauan populasi, restorasi ekosistem, serta mitigasi konflik antara manusia dan orang utan.

“Pelibatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan penguatan kolaborasi antarpemangku kepentingan juga dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan populasi orang utan di habitat alaminya,” tuturnya

 

Perluas Habitat Orangutan

Sementara itu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara mengusulkan sekitar 160 ribu hektare kawasan di empat kabupaten menjadi area konservasi tambahan ke pemerintah pusat. Hal itu untuk memperkuat perlindungan keanekaragaman hayati, termasuk habitat orang utan.

Kepala Bagian Tata Usaha BBKSDA Sumut, Andar Abdi Saragih mengatakan, kawasan yang diusulkan tersebut berada di Kabupaten Pakpak Bharat, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

“Kami sedang mengusulkan area konservasi berupa area tambahan untuk mendukung kawasan yang belum konservasi menjadi konservasi supaya area itu bisa lebih aman untuk habitat keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya,” ucap Andar.

Menurutnya, kawasan tersebut memiliki habitat berbagai jenis keanekaragaman hayati, salah satunya orang utan. Karena itu, penambahan status konservasi diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap ekosistem dan satwa yang berada di dalam kawasan tersebut.

“Jadi ada empat kabupaten, yakni Pakpak Bharat, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Kami masih mengusulkan sekitar 160 ribu hektare di situ merupakan habitat orang utan,” tutup Andar. 

Rekomendasi