Gubernur Bali Wayan Koster menetapkan lima kawasan wisata di Pulau Dewata sebagai kawasan rendah emisi. Kawasan tersebut meliputi Nusa Dua dan Kuta di Kabupaten Badung, Ubud di Kabupaten Gianyar, Sanur di Kota Denpasar, serta Kepulauan Nusa Penida di Kabupaten Klungkung.
Kebijakan itu menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Bali untuk memperkuat konsep pariwisata berkelanjutan melalui penerapan energi bersih dan pengurangan emisi karbon.
"Kita sudah melakukan pembatasan plastik sekali pakai, menerapkan energi bersih melalui kendaraan listrik dan memanfaatkan PLTS, namun tahun ini harus kita gencarkan lagi," ujar Koster dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8).
Menurut Koster, penerapan kawasan rendah emisi diharapkan mampu meningkatkan kualitas sekaligus daya saing sektor pariwisata Bali di tingkat global. Ia menilai pembangunan pariwisata tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan, tetapi juga harus disiapkan sebagai fondasi bagi keberlanjutan Bali di masa depan.
"Kalau ini bisa kita kerjakan, maka pariwisata Bali akan semakin berkualitas. Jangan terus menerima PHR, tapi kita harus mempersiapkan konsep bertatanan untuk kemajuan masa depan Bali," kata Koster.
Advertisement
Wajib Gunakan PLTS
Kelima kawasan tersebut tengah dipersiapkan Gubernur Koster sebagai upaya untuk meningkatkan pariwisata Bali yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan dengan menerapkan satu green energy atau energi hijau melalui penerapan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di setiap bangunan hotel, restaurant, vila, perkantoran dan rumah.
Kemudian, kedua green mobility atau transportasi hijau melalui penerapan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Ketiga, green ecosystem atau ekosistem hijau melalui peningkatan tutupan lahan untuk menjaga kelestarian hutan.
Selanjutnya, keempat green tourism atau industri pariwisata melalui pengurangan plastik sekali pakai di kawasan pariwisata. Lalu, kelima green community masyarakat hijau dengan mengajak seluruh masyarakat meningkatkan kualitasnya yang berbasis kearifan lokal untuk tercapainya kesejahteraan.
Secara khusus, Gubernur Koster menegaskan Bali harus mengendalikan energinya, kalau tidak dikelola dengan baik, maka citra pariwisata Bali akan tergerus.
"Mengapa harus kita kendalikan Bali mandiri energi, karena kabel bawah laut (infrastruktur vital untuk mengalirkan arus listrik tegangan tinggi antar pulau,.itu bisa putus kapan saja, akibat faktor alam dan lainnya. Karenanya, S saya mengajak semua untuk beralih ke PLTS," ujar Koster.
Gubernur Koster menyebutkan, PLTS adalah pembangkit listrik yang ramah lingkungan, selain biayanya yang murah. Jadi kebijakan yang fundamental ini harus diimplementasikan oleh pemerintah kabupaten dan kota di Bali. PLTS juga mampu menghasilkan udara bersih.
"Mengapa udara harus bersih? Karena kita hidup menghirup udara, kalau udara ini kotor, maka yang kita hirup itu kotor dan akan menyebabkan kesehatan kita terganggu," jelas Koster.
Untuk kebutuhan listrik di Bali disebutnya sangat penting. Karena pada tahun ini, kalau semua listrik di Bali menyala maka akan menghabiskan daya kurang lebih mencapai 1.200 lebih MW dengan kekuatan 1.400 lebih MW. Kemudian di tahun 2027 bebannya akan naik menjadi lebih dari 1.400 MW.
"Jadi kalau ini tidak disiapkan dari sekarang, maka mulai 2027 nyala listrik akan bergilir, kalau menyalanya bergilir kawasan pariwisata di Badung, Denpasar, Gianyar tidak boleh mengalami hal ini," kata Koster.