Haru Orang Tua di Pembukaan MPLS Sekolah Rakyat Wonosobo: Harapan Baru Pendidikan Gratis

Orang tua siswa di Wonosobo tak kuasa menahan haru saat pembukaan MPLS Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis yang memberikan harapan baru bagi anak-anak kurang mampu untuk meraih cita-cita.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Haru Orang Tua di Pembukaan MPLS Sekolah Rakyat Wonosobo: Harapan Baru Pendidikan Gratis
Orang tua siswa di Wonosobo tak kuasa menahan haru saat pembukaan MPLS Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis yang memberikan harapan baru bagi anak-anak kurang mampu untuk meraih cita-cita. (AntaraNews)

Jakarta, 01/8 (ANTARA) - Suasana haru menyelimuti pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan Siswa (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di Sekolah Rakyat Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Tri Murniyati, seorang ibu tunggal dengan lima tanggungan keluarga, tak sanggup menahan air matanya, bukan karena kesedihan, melainkan perasaan bahagia dan syukur yang mendalam. Kebahagiaan ini muncul karena putranya, Muhammad Daud, kini memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat.

Dengan suara bergetar, Tri menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Presiden atas inisiatif Sekolah Rakyat. Program ini telah mengembalikan harapan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa menggapai cita-cita mereka. "Kagem (kepada) bapak Presiden, matur nuwun sanget, terima kasih banyak sudah menyediakan gedung (Sekolah Rakyat), untuk pendidikan anak-anak kami yang kurang mampu, kami bisa meraih cita-cita melalui anak-anak kami," kata Tri dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Momen emosional ini terjadi saat Tri berdialog dengan Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo Priyono, pada Jumat (31/7). Tri, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp700 ribu per bulan, sebelumnya kesulitan membiayai sekolah anak-anaknya. Kehadiran Sekolah Rakyat menjadi jawaban atas doa dan perjuangannya, membuka pintu pendidikan gratis dan berkualitas.

Harapan Baru bagi Keluarga Kurang Mampu

Kisah Tri Murniyati adalah cerminan perjuangan banyak keluarga di Indonesia yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Sebagai orang tua tunggal dengan lima anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, penghasilan Tri sebagai buruh tani tidaklah besar. Kondisi ini membuat pendidikan anak-anaknya menjadi prioritas yang sulit diwujudkan.

Sekolah Rakyat hadir sebagai angin segar bagi Tri dan keluarganya, memberikan kesempatan emas bagi Muhammad Daud untuk melanjutkan pendidikan. "Karena anak-anak saya ingin sekali maju, ingin sekali menjadi anak-anak yang membanggakan orang tua. Buat saya, ini adalah kesempatan untuk kami bisa mendidik anak-anak menjadi lebih baik lagi," ujarnya sambil meneteskan air mata.

Rasa syukur dan kebahagiaan serupa juga dirasakan oleh Turmudi, orang tua dari Syekh Mufti. Turmudi, yang juga seorang buruh tani dengan penghasilan tak menentu, mengungkapkan betapa Sekolah Rakyat sangat membantu meringankan beban ekonominya. Anak pertamanya kini dapat melanjutkan pendidikan secara gratis dan berkualitas, sebuah impian yang sebelumnya sulit terjangkau.

"Terima kasih Bapak Presiden Prabowo, saya merasa senang, saya rakyat kecil, dibantu oleh Bapak Presiden Prabowo, semoga lancar dan anak-anak saya jadi pintar," kata Turmudi.

Sekolah Rakyat: Solusi Memutus Kemiskinan Antargenerasi

Wamensos, Agus Jabo Priyono, menjelaskan bahwa Program Sekolah Rakyat merupakan gagasan visioner dari Presiden Prabowo Subianto. Program ini dirancang khusus untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui penyediaan akses pendidikan yang merata dan berkualitas. Inisiatif ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Agus Jabo menegaskan bahwa negara hadir untuk menjemput anak-anak dari keluarga kurang mampu agar dapat bersekolah di Sekolah Rakyat. "Maka, negara kemudian menjemput, menjemput anak-anak dari bapak dan ibu ke rumah-rumah untuk disekolahkan di Sekolah Rakyat," katanya.

Keluarga Ibu Tri dan Bapak Turmudi hanyalah dua dari jutaan keluarga di Indonesia yang menghadapi kesulitan dalam menyekolahkan anak-anaknya. Data menunjukkan bahwa terdapat 4,1 juta anak Indonesia yang belum sekolah, tidak sekolah, atau putus sekolah, sebagian besar disebabkan oleh faktor ekonomi. Kondisi ini menjadi latar belakang kuat bagi urgensi program Sekolah Rakyat.

Peningkatan Kapasitas Sekolah Rakyat

Melihat tingginya kebutuhan akan layanan pendidikan gratis dan berkualitas, pemerintah terus berupaya meningkatkan kapasitas Sekolah Rakyat. Agus Jabo mengemukakan bahwa target awal gedung Sekolah Rakyat permanen adalah menampung seribu siswa. Namun, target tersebut kini telah ditambah menjadi 2.000 siswa per sekolah.

Penambahan kapasitas ini didasari oleh banyaknya anak-anak yang membutuhkan layanan Sekolah Rakyat. "Pak Presiden kemarin perintahnya adalah setiap sekolah harus bisa menampung 1.000 siswa, sekarang ini kita diperintahkan satu sekolah harus bisa menampung minimal 2.000 siswa, karena saking banyaknya anak-anak kita yang tidak sekolah," tuturnya. Hal ini menunjukkan respons cepat pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat akan akses pendidikan yang lebih luas.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi