Seorang siswa Sekolah Rakyat (SR) Empat Lawang, Sumatra Selatan, berinisial E, mengalami cedera tangan parah akibat menjadi korban perundungan lima teman sekolahnya. Korban harus dirawat dan dipulangkan ke rumah untuk pengobatan.
Peristiwa itu terjadi di asrama Sekolah Rakyat, Kamis (10/9) malam atau baru dua hari bersekolah setelah menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekilah (MPLS) pada Senin (7/9).
Korban merupakan satu dari 270 siswa dari tingkat SD hingga SMA yang mengenyam pendidikan di sekolah itu.
Advertisement
Kronologi Perundungan
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban dirundung oleh lima pelaku, yakni empat pelaku di antaranya berasal dari siswa SMP dan satu siswa SMA. Keributan terjadi saat para siswa mengikuti pembagian bantal.
Korban E dicegat para pelaku untuk mengambil bantal dan kemudian terjadi kekerasan. Para pelaku menutup mata korban lalu membanting dan mencekik hingga korban mengalami cedera parah di tangannya.
Perundungan dapat dikendalikan wali asrama dengan melerai dan mengamankan para siswa terlibat. Kemudian korban dibawa ke RSUD Empat Lawang untuk mendapat perawatan.
Demi keselamatan dan kesehatan, pihak sekolah selanjutnya membawa pulang korban ke rumahnya. Untuk sementara waktu, korban diizinkan tidak mengikuti kegiatan di sekolah itu.
Advertisement
Kondisi Korban
Kepala Sekolah Rakyat Empat Lawang Suparno membenarkan peristiwa itu. Dia mengaku prihatin terjadinya kejadian itu yang menyebabkan salah seorang anak didiknya cedera.
"Kami sangat prihatin atas kejadian tersebut. Begitu peristiwa terjadi, Kamis malam, 10 September 2026, wali asrama segera melerai dan mengamankan anak-anak yang terlibat. Salah satu peserta didik yang mengalami luka juga segera dibawa untuk mendapatkan penanganan medis," kata Suparno, Senin (14/9).
Suparno menjelaskan, prioritas saat ini adalah memastikan kondisi dan perlindungan seluruh anak terlibat. Sekolah juga terus berkomunikasi dengan keluarga dan berkoordinasi dengan pihak berwenang.
"Kami menghormati proses yang saat ini berlangsung dan siap memberikan informasi maupun keterangan yang diperlukan," kata Suparno.
Agar kejadian ini tidak lagi terulang, sekolah melakukan evaluasi terhadap pengawasan dan pengasuhan di lingkungan asrama. Suparno memastikan peristiwa serupa tidak bakal terjadi lagi dengan mengoptimalkan kontrol terhadap kegiatan anak didik.
"Karena seluruh pihak yang terlibat merupakan anak di bawah umur, kami mohon pengertian teman-teman media untuk bersama-sama menjaga identitas dan kondisi psikologis mereka," pungkas Suparno.