Pagi itu, Umi masih sempat melihat wajah suaminya melalui layar ponsel. Sebuah video call singkat dilakukan sebelum kapal ditumpangi suami dan adiknya berlayar. Tidak ada firasat bahwa percakapan tersebut bakal menjadi komunikasi terakhir mereka lakukan.
Kini, Umi datang dari Kudus, Jawa Tengah, untuk mencari kabar tentang dua orang hingga sekarang belum ditemukan setelah KM Virgo Transport 8 tenggelam di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9).
Suami Umi dan adiknya termasuk dalam daftar pencarian. Keduanya berada di kapal dalam perjalanan sebagai bagian dari pekerjaan mereka sebagai sopir truk ekspedisi dan kernet.
Sejak kabar kecelakaan kapal itu diterima, Umi dihantui ketidakpastian. Tidak ada lagi panggilan telepon, tidak ada video call, dan belum ada kabar yang bisa memastikan keberadaan suami maupun adiknya.
"Tadi malam perjalanan ke sini cari info. Belum ada info," ujar Umi.
Perjalanan dari Kudus ditempuh Umi dengan membawa kecemasan yang mungkin sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tujuannya hanya satu, mendapatkan informasi mengenai keberadaan suami dan adiknya.
Bagi Umi, komunikasi dengan suami sebelum kapal berlayar sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa. Itu merupakan kebiasaan yang selalu dilakukan.
Setiap kali hendak menaiki kapal, sang suami biasanya lebih dulu menghubungi keluarga. Video call menjadi cara mereka saling memastikan bahwa semuanya baik-baik saja sebelum perjalanan dilanjutkan.
"Kan biasa ngabari kalau mau naik kapal, video call dulu," kata Umi.
Kebiasaan itu kembali dilakukan pada Sabtu pagi. Suami Umi melakukan video call sebelum kapal berlayar. Saat itu, komunikasi berlangsung seperti biasanya.
Tak ada yang tahu bahwa momen sederhana tersebut akan menjadi rekaman terakhir yang tersimpan dalam ingatan keluarga.
"Pagi itu video call pas mau berlayar itu," tutur dia.
Advertisement
Setelah kapal berlayar, komunikasi kemudian terputus. Kabar tentang kecelakaan KM Virgo Transport 8 membuat suasana berubah drastis. Dari sebuah perjalanan kerja biasa, keluarga kini harus menghadapi pencarian orang-orang yang mereka cintai.
Umi menyebut suami dan adiknya merupakan kakak beradik. Keduanya berada dalam perjalanan sebagai sopir dan kernet truk ekspedisi.
"Pak Yusuf (suami) dan Adam, iya kakak adik, sopir sama kernet," ujar Umi.
Nama-nama itu kini bukan sekadar daftar dalam sebuah laporan pencarian. Bagi keluarga, Yusuf dan Adam adalah dua sosok yang memiliki tempat penting dalam kehidupan mereka.
Karena itu, setiap informasi dari proses pencarian menjadi begitu berarti. Sekecil apa pun kabar yang datang, keluarga berharap informasi tersebut dapat menjadi jalan untuk menemukan mereka. Namun hingga kini, penantian itu masih berlangsung.
Laut Jawa seakan menjadi ruang penuh misteri bagi keluarga yang menunggu. Di satu sisi, operasi pencarian terus dilakukan. Di sisi lain, keluarga hanya bisa menunggu kabar dari kejauhan dengan harapan yang terus dipertahankan.
Umi datang bukan sekadar untuk mengetahui perkembangan pencarian. Ia datang membawa kegelisahan keluarga dari Kudus, sekaligus harapan agar suami dan adiknya segera ditemukan.
Video call pada Sabtu pagi itu kini menjadi potongan kenangan yang sangat berharga.
Percakapan yang sebelumnya terasa biasa, mendadak memiliki arti berbeda setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami musibah. Belum ada kepastian mengenai keberadaan keduanya.
Dan selama belum ada kepastian itu, Umi memilih untuk terus menunggu. Sebab bagi keluarga, pencarian belum selesai hanya karena waktu terus berjalan. Harapan masih tetap ada, dan satu kabar tentang Yusuf serta Adam masih menjadi hal yang paling dinantikan.
"Saya masih terus berharap doa yang terbaik untuk mereka," kata Umi.