Antrean panjang pengisian bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kini mulai terurai dan landai. Tetapi, antre hingga 7 jam untuk mengisi BBM jenis pertalite pernah dirasakan seorang barista Kedai Kopi AdAJI, Muh Alfian.
Alfian mengaku juga sudah merasakan harus antre berjam-jam untuk mendapatkan Pertalite di SPBU. Hal itu dirasakan Alfian pada Kamis (10/9), antre selama kurang lebih 7 jam.
Alfian dibantu temannya pergi ke SPBU Cokroaminoto Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sulawesi Selatan pada pukul 23.00 Wita. Dalam kondisi tangki motor kosong, Alfian mulai ikut dalam antrean.
"Waktu itu antrean sudah sampai depan kantor camat (Tamalanrea). Antre barengan sama truk," ujar Alfian.
Meski sudah tiga jam berlalu, Alfian tetap setia pada barisan antrean. Alfian mengaku baru bisa mendekati mesin Nozzle saat Azan Subuh berkumandang.
"Sekitar jam 5.30 Wita, motor baru bisa dapat bensin (pertalite). Tujuh jam antre untuk dapat bensin," kata Alfian.
Saat itu pula, Alfian langsung mengisi penuh tangki motornya. Terlihat di mesin Nozzle, Alfian membayar sampai Rp30 ribu. Bagi Alfian, antre BBM hingga 7 jam menjadi pengalaman pertama dalam hidupnya.
"Pengalaman pertama, antre BBM sampai 7 jam," kenang Alfian.
Pengalaman antre BBM hingga berjam-jam juga dirasakan Afandi. Driver ojek online ini mengaku terdampak akibat antre panjang untuk mendapatkan BBM.
Afandi mengaku ke SPBU Cokroaminoto karena kehabisan BBM. Ia mengaku geram pernyataan Pertamina dan pemerintah yang menyebut antrean panjang di SPBU karena Panic Buying.
"Panic Buying apanya. Saya ke SPBU karena memang butuh, karena tangki sudah kosong," ujar dia.
Akibat antre BBM berjam-jam, membuat dirinya harus kehilangan pendapatan. Baginya, BBM sangat penting untuk menopang kehidupannya sebagai ojol.
"Kalau enggak ada bensin, bagaimana mau narik penumpang," kata dia.
Dia berharap antrean BBM bisa segera diatasi oleh Pertamina dan pemerintah.
Advertisement