Kekeringan Landa 3 Kecamatan di Bekasi, 2.416 KK Terdampak

Beberapa daerah di Kabupaten Bekasi mengalami kekeringan selama musim kemarau tahun 2026.

Nanda Perdana Putra
Oleh Nanda Perdana Putra - Reporter
Kekeringan Landa 3 Kecamatan di Bekasi, 2.416 KK Terdampak
Sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi mulai dilanda kekeringan pada musim kemarau 2026. (Foto: Antara)

Beberapa daerah di Kabupaten Bekasi mulai mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun 2026. Sampai pertengahan bulan Juli, sebanyak 2.416 kepala keluarga (KK) di tiga kecamatan telah merasakan dampak dari krisis air bersih, sehingga Palang Merah Indonesia (PMI) telah mengirimkan ratusan ribu liter air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, kecamatan yang terkena dampak kekeringan meliputi Kecamatan Bojongmangu, Kecamatan Cibarusah, dan Kecamatan Cikarang Pusat.

Akhmad Kosasih, Ketua PMI Kabupaten Bekasi, menjelaskan bahwa pihaknya telah mendistribusikan 250 ribu liter air bersih kepada 17.490 warga di Kecamatan Cibarusah dan Kecamatan Bojongmangu antara tanggal 24 Juni hingga 17 Juli 2026.

Pada hari Sabtu, 18 Juli 2026, PMI kembali menyalurkan 20 ribu liter air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah.

Air bersih yang berasal dari PDAM Tirta Bhagasasi tersebut disalurkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di empat hingga lima kampung yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih selama musim kemarau.

"Kami akan terus berupaya memastikan masyarakat yang terdampak kekeringan tetap memperoleh akses terhadap air bersih," ujar Akhmad, seperti yang dilansir oleh Antara.

Sampai saat ini, telah ada 20 titik distribusi air bersih yang ditentukan berdasarkan permintaan dari masyarakat dan pemerintah desa. Lokasi distribusi tersebut mencakup Desa Ridogalih di Kecamatan Cibarusah, Desa Nagasari di Kecamatan Serang Baru, serta Desa Sukamukti, Desa Sukabungah, Desa Medal Krisna, dan Desa Karang Indah di Kecamatan Bojongmangu.

Kolaborasi dengan Pemangku Kepentingan

Akhmad menjelaskan bahwa keberhasilan dalam distribusi air bersih sangat bergantung pada kerjasama antara PMI Kabupaten Bekasi, pemerintah desa, serta relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT).

Ia menekankan, "Relawan SIBAT di desa sangat aktif memantau kebutuhan air di masyarakat. Ketika persediaan air mulai menipis, mereka segera menghubungi kami sehingga distribusi air bersih dapat dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran," ujarnya.

Proses distribusi air bersih ini dilaksanakan berdasarkan Keputusan Bupati Bekasi Nomor 100.3.3.2/Kep.477-BPBD/2026 yang menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan. Selain itu, hal ini juga merupakan hasil dari koordinasi dengan BPBD Kabupaten Bekasi serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

PMI berkomitmen untuk terus siap memberikan bantuan air bersih selama periode Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan yang akan berlangsung hingga 30 September 2026. Dalam hal ini, PMI juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan air dengan bijak.

"Warga yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih diharapkan segera melapor kepada pemerintah desa atau BPBD agar dapat dilakukan asesmen dan penyaluran bantuan secara cepat," katanya.

Di sisi lain, Kepala Markas PMI Kabupaten Bekasi, Meyliany, menyatakan bahwa Desa Ridogalih menjadi salah satu lokasi prioritas karena hampir setiap tahun mengalami krisis air bersih saat musim kemarau.

Menurutnya, "Kondisi ini dipengaruhi oleh curah hujan yang rendah, cadangan air tanah yang terbatas, karakteristik tanah yang sulit menyimpan air, serta belum meratanya jaringan perpipaan air bersih."

Wilayah Kecamatan Bojongmangu pun menghadapi masalah serupa akibat kondisi geografis yang mengakibatkan ketersediaan air tanah menurun saat musim kemarau. Salah satu warga Desa Ridogalih, Neim Susanto, mengungkapkan bahwa bantuan air bersih sangat membantu masyarakat karena sumur-sumur mereka mulai mengering akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

Ia mengungkapkan, "Kemarau tahun ini cukup panjang sehingga kami kesulitan mendapatkan air. Biasanya sepulang kerja kami mengambil air dari sumur, tetapi sekarang sumurnya mengering. Bantuan air bersih ini sangat kami butuhkan."

Hal serupa juga disampaikan oleh warga lainnya, Iyas, yang memanfaatkan bantuan air bersih tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk ternak.

"Air ini sangat membantu, bukan hanya untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk minum sapi ternak kami yang digunakan untuk membantu pekerjaan di ladang," ujarnya.

Rekomendasi