Pengamat: Kedewasaan dalam Komunikasi Digital Mendesak di Era Informasi

Pengamat menyoroti pentingnya kedewasaan dalam Komunikasi Digital untuk membedakan informasi, kritik, dan serangan pribadi, demi menciptakan ruang publik yang bertanggung jawab di tengah arus informasi yang masif.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pengamat: Kedewasaan dalam Komunikasi Digital Mendesak di Era Informasi
Pengamat menyoroti pentingnya kedewasaan dalam Komunikasi Digital untuk membedakan informasi, kritik, dan serangan pribadi, demi menciptakan ruang publik yang bertanggung jawab di tengah arus informasi yang masif. (AntaraNews)

Jakarta, 18 Juli 2026 – Pengamat Komunikasi Digital Laju Institute, Mandra Pradipta, menekankan pentingnya kedewasaan dalam komunikasi di ruang digital. Ia menyatakan bahwa kemampuan membedakan antara kritik, sanggahan, serangan pribadi, dan penghinaan adalah hal yang krusial. Menurutnya, aksioma komunikasi klasik yang menganggap setiap informasi dapat diterima tanpa pembuktian sudah tidak relevan lagi di era digital saat ini.

Dipta, sapaan akrab Pradipta, menjelaskan bahwa masalah utama komunikasi digital bukan hanya pada banyaknya informasi yang beredar. Namun, lemahnya pegangan dasar masyarakat dalam memperlakukan informasi tersebut menjadi tantangan besar. Oleh karena itu, ia menyerukan perlunya aksioma baru yang menjadi pijakan berpikir dalam interaksi digital.

Masyarakat tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi juga perlu memiliki prinsip dasar dalam menyikapi informasi, perbedaan, serta interaksi di ruang digital. Aksioma ini berfungsi sebagai tata nalar agar publik tidak mudah terseret oleh reaksi spontan. Ini penting untuk membangun lingkungan komunikasi yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

Pentingnya Aksioma Baru dalam Komunikasi Digital

Mandra Pradipta menjelaskan bahwa aksioma dapat dipahami sebagai prinsip awal yang menjadi landasan berpikir seseorang. Prinsip ini akan membentuk pandangan, sikap, dan respons terhadap berbagai peristiwa yang tersaji di ruang digital, baik internet maupun media sosial. Tanpa aksioma yang jelas, ruang digital berisiko berubah menjadi tempat reaksi spontan dan saling curiga.

Dalam konteks komunikasi digital, aksioma sangat diperlukan agar publik memiliki kerangka berpikir yang kuat dalam menilai informasi. Ini membantu mencegah individu mudah terprovokasi atau bereaksi secara impulsif terhadap konten yang ditemui. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih selektif dan kritis terhadap setiap pesan yang tersebar luas.

Perkembangan teknologi telah memberikan setiap orang kemampuan untuk berbicara, menilai, dan menyebarkan pesan dalam waktu singkat. Namun, kemudahan ini seringkali tidak diiringi dengan kesadaran akan batas etis dan tanggung jawab komunikasi yang melekat. Oleh karena itu, aksioma baru ini menjadi fondasi penting untuk memastikan interaksi digital yang lebih konstruktif dan bertanggung jawab.

Tanggung Jawab dan Etika Penyebaran Informasi

Salah satu aksioma krusial dalam komunikasi digital saat ini adalah bahwa informasi tidak boleh hanya dianggap sebagai sesuatu yang cepat diterima atau cepat disebarkan. Mandra Pradipta menegaskan bahwa setiap informasi perlu diuji kebenarannya, dipahami konteksnya, dan dipertimbangkan dampaknya sebelum dijadikan dasar penilaian publik. Kecepatan dalam menyebarkan pesan tidak boleh mengalahkan kemampuan untuk memeriksa dan mempertanggungjawabkan pesan tersebut.

Dipta menekankan bahwa membangun kompas berpikir sangat penting dalam menghadapi perbedaan pandangan di ruang digital. Seringkali, ketidaksepakatan di platform daring berubah menjadi pertentangan personal karena publik tidak memiliki prinsip dasar dalam mengelola perbedaan. Perbedaan seharusnya dipahami sebagai bagian wajar dari kehidupan sosial yang beragam.

Oleh karena itu, komunikasi digital menuntut kedewasaan untuk secara jelas membedakan antara kritik yang membangun, sanggahan yang berdasar, serangan pribadi, dan penghinaan. Tidak semua ketidaksepakatan harus berujung pada permusuhan. Kemampuan untuk membatasi diri seringkali sama pentingnya dengan kemampuan untuk menyampaikan pendapat secara efektif dan etis.

Mengelola Perbedaan dan Tanggung Jawab Pengguna

Mandra Pradipta juga menegaskan bahwa teknologi tidak boleh menjadi alasan untuk melepaskan tanggung jawab manusia dalam berinteraksi. Meskipun algoritma dapat memengaruhi apa yang dilihat dan diperhatikan publik, keputusan untuk mempercayai, membagikan, atau menyerang suatu informasi tetap berada pada individu. Tanggung jawab penuh ada di tangan pengguna sebagai subjek aktif.

Aksioma komunikasi digital harus mengembalikan tanggung jawab tersebut kepada pengguna. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen pasif dari arus informasi yang tak terkendali. Sebaliknya, mereka diharapkan menjadi subjek yang mampu berpikir kritis, memilah informasi, dan bertindak secara sadar dalam setiap interaksi digital.

Teknologi memang dapat mempercepat percakapan dan penyebaran informasi, namun manusia tetap harus menentukan batas, arah, dan tanggung jawab dari percakapan itu sendiri. Dipta berharap masyarakat mulai memandang komunikasi digital bukan hanya sebagai aktivitas teknis semata, melainkan sebagai praktik sosial yang fundamental dan membutuhkan prinsip-prinsip yang kuat untuk menjaga kualitas interaksi publik.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi