Nilai tukar Rupiah diprediksi masih akan berada dalam tekanan signifikan. Hal ini terutama disebabkan oleh ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut di kawasan Timur Tengah. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyampaikan pandangan ini kepada ANTARA di Jakarta pada Jumat, 10 April 2026.
Menurut Josua, ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat menyusul langkah Iran yang kembali memberlakukan blokade di Selat Hormuz. Situasi ini diperparah oleh operasi militer Israel yang berkelanjutan di Lebanon, yang telah menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.
Meskipun demikian, Rupiah sempat menunjukkan penguatan tipis pada Jumat pagi, naik 7 poin atau 0,04 persen. Nilai tukar Rupiah bergerak menjadi Rp17.083 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.090 per dolar AS.
Advertisement
Advertisement
Gejolak Timur Tengah Picu Sentimen Risk-Off Global
Pelaku pasar keuangan global terus memantau perkembangan di Timur Tengah dengan cermat. Kondisi ini terutama terkait dengan gencatan senjata antara AS dan Iran yang baru diumumkan, namun terlihat masih sangat rapuh.
Situasi geopolitik yang tegang ini terjadi menjelang perundingan damai yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada hari ini. Penyerangan besar-besaran oleh Zionis Israel di Lebanon telah menyebabkan 250 orang gugur dan ribuan lainnya luka-luka, menambah kompleksitas dan ketidakpastian di kawasan tersebut.
Perkembangan ini secara langsung menimbulkan kekhawatiran baru terhadap kemajuan negosiasi antara AS dan Iran. Akibatnya, sentimen risk-off di pasar keuangan global semakin menguat, mendorong investor untuk beralih ke aset yang lebih aman.
Advertisement
Josua Pardede menegaskan bahwa konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang lebih persisten. Kenaikan harga minyak global ini pada gilirannya akan meningkatkan biaya input produksi, yang berujung pada tekanan inflasi inti yang lebih tinggi di berbagai negara.
Advertisement
Sinyal Kebijakan The Fed dan Potensi Kenaikan Suku Bunga
Selain faktor geopolitik, sentimen lain yang turut memengaruhi pergerakan Rupiah berasal dari risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2026. Risalah tersebut mengungkapkan bahwa sejumlah pejabat The Fed mulai mempertimbangkan pendekatan "dua arah" dalam penentuan suku bunga kebijakan ke depan.
Pendekatan ini mengindikasikan bahwa penekanan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin diperlukan. Kondisi ini akan terjadi apabila inflasi di Amerika Serikat tetap berada di atas target yang telah ditetapkan oleh bank sentral.
Mayoritas anggota FOMC menilai bahwa risiko kenaikan inflasi dan penurunan tingkat ketenagakerjaan berada pada level yang tinggi. Banyak di antara mereka juga mencatat bahwa risiko tersebut semakin meningkat di tengah perkembangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.
Advertisement
Kombinasi antara ketidakpastian global dan sinyal kebijakan moneter yang ketat dari The Fed menciptakan lingkungan yang menantang bagi mata uang negara berkembang seperti Rupiah. Berdasarkan kombinasi faktor-faktor tersebut, Josua Pardede memperkirakan Rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.000 hingga Rp17.125 per dolar AS.
Sumber: AntaraNews