Lalu Lintas Selat Hormuz Meningkat Bertahap, Namun Belum Normal Pasca-Konflik

Pergerakan kapal di Selat Hormuz mulai menunjukkan peningkatan setelah sempat anjlok drastis akibat konflik AS-Israel dan Iran. Namun, lalu lintas Selat Hormuz masih jauh dari kondisi normal, memicu pertanyaan tentang stabilitas maritim global.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Lalu Lintas Selat Hormuz Meningkat Bertahap, Namun Belum Normal Pasca-Konflik
Pergerakan kapal di Selat Hormuz mulai menunjukkan peningkatan setelah sempat anjlok drastis akibat konflik AS-Israel dan Iran. Namun, lalu lintas Selat Hormuz masih jauh dari kondisi normal, memicu pertanyaan tentang stabilitas maritim global. (AntaraNews)

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz, salah satu jalur maritim paling krusial di dunia, mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan setelah mengalami penurunan tajam. Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) bersama perusahaan intelijen maritim Windward melaporkan adanya peningkatan jumlah kapal yang melewati perairan strategis ini. Peningkatan ini terjadi setelah periode konflik yang signifikan antara AS-Israel dan Iran.

Pada Kamis (2/4), Windward mencatat 16 kapal melintasi Selat Hormuz pada 1 April, sebuah kenaikan dari 11 kapal yang melintas sehari sebelumnya. Angka ini menandai peningkatan lalu lintas selama tiga hari berturut-turut. Meskipun demikian, jumlah ini masih sangat jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik pecah.

Konflik yang dimulai dari serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 telah menyebabkan gangguan serius pada jalur pelayaran ini. Penurunan drastis volume transit kapal menegaskan dampak nyata dari ketegangan geopolitik terhadap perdagangan maritim global.

Data terbaru dari Windward menunjukkan bahwa lalu lintas di Selat Hormuz mulai menggeliat. Sebanyak 16 kapal tercatat melintasi selat pada 1 April, meningkat dari 11 kapal sehari sebelumnya, menandakan tren kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Seluruh 16 kapal yang melintas menggunakan rute melalui Pulau Larak, sebuah koridor berbasis izin yang terletak dekat dengan garis pantai Iran.

Analisis Windward juga mengungkapkan bahwa 62 persen dari transit pada 1 April melibatkan kapal-kapal yang dikenai sanksi Barat. Kapal-kapal ini merupakan bagian dari armada tanker bayangan Iran yang bersiap untuk pemuatan lebih lanjut. Pola ini mengindikasikan bahwa semakin banyak negara yang bernegosiasi dengan Iran untuk mengamankan jalur bagi kapal-kapal mereka melalui Selat Hormuz.

Situasi ini meningkatkan kemungkinan bahwa volume transit di Selat Hormuz dapat terus meningkat dalam beberapa hari mendatang. Peningkatan lalu lintas ini menjadi indikator penting dalam memantau dinamika perdagangan dan geopolitik di kawasan tersebut.

Meskipun ada peningkatan, lalu lintas Selat Hormuz masih jauh dari tingkat normal yang terlihat sebelum konflik. UNCTAD melaporkan bahwa transit kapal melalui Hormuz anjlok dari sekitar 130 kapal per hari pada Februari menjadi hanya 6 kapal pada Maret. Penurunan sekitar 95 persen lalu lintas di Selat Hormuz ini menegaskan gangguan signifikan yang terjadi sejak konflik dimulai.

Selat Hormuz memiliki peran vital sebagai salah satu jalur maritim terpenting di dunia. Sekitar seperempat perdagangan minyak global melalui laut melintas di perairan ini, bersama dengan volume gas alam cair dan pupuk yang signifikan. Sebelum blokade Iran sebagai balasan atas serangan AS-Israel, sekitar 20 juta barel minyak melewati selat ini setiap hari.

Gangguan pada lalu lintas Selat Hormuz memiliki implikasi serius terhadap pasokan energi dan rantai pasok global. Pemulihan lalu lintas ke tingkat normal menjadi krusial untuk stabilitas ekonomi dunia.

Kondisi lalu lintas di Selat Hormuz secara langsung memengaruhi perdagangan global, terutama sektor energi. Selat ini merupakan choke point utama untuk ekspor minyak dari Timur Tengah, yang menyumbang sebagian besar pasokan global. Fluktuasi dalam lalu lintas kapal di sini dapat menyebabkan ketidakpastian harga minyak dan gas di pasar internasional.

Selain minyak, Selat Hormuz juga menjadi jalur penting untuk pengiriman gas alam cair (LNG) dan pupuk. Gangguan pada rute ini dapat berdampak pada sektor pertanian dan industri di seluruh dunia. Negara-negara pengimpor sangat bergantung pada kelancaran arus barang melalui selat ini untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik mereka.

Peningkatan bertahap yang diamati saat ini memberikan secercah harapan, namun kerentanan jalur pelayaran ini tetap menjadi perhatian utama. Upaya diplomatik dan negosiasi terus diperlukan untuk memastikan keamanan dan kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz dalam jangka panjang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi