Mantan Dubes RI untuk Iran, Serangan AS ke Teheran Diduga Pengalihan Isu Domestik Trump

Menurut Dian, langkah militer tersebut diduga menjadi bagian dari upaya mengalihkan perhatian dari berbagai isu dalam negeri, termasuk kontroversi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mantan Dubes RI untuk Iran, Serangan AS ke Teheran Diduga Pengalihan Isu Domestik Trump
Mantan Dubes RI untuk Iran, Serangan AS ke Teheran Diduga Pengalihan Isu Domestik Trump (Merdeka.com)

Mantan Duta Besar RI untuk Iran periode 2012–2016, Dian Wirengjurit, menilai serangan militer Amerika Serikat ke Iran tidak lepas dari dinamika politik domestik Presiden AS Donald Trump.

Menurut Dian, langkah militer tersebut diduga menjadi bagian dari upaya mengalihkan perhatian dari berbagai isu dalam negeri, termasuk kontroversi yang menyeret nama Trump dalam dokumen kasus Jeffrey Epstein.

"Ini jelas pengalihan isu. Isu dalam negeri Trump banyak, termasuk yang sudah menjadi pembahasan di Kongres," ujar Dian dalam podcast EdShareOn yang tayang Rabu (18/3).

Ia juga menyoroti tekanan politik yang dihadapi Trump di dalam negeri, mulai dari isu imigrasi hingga kritik terkait kebijakan hak asasi manusia. Sejumlah laporan lembaga internasional, seperti Human Rights Watch, disebut menyoroti kebijakan yang berdampak pada kebebasan sipil, perlindungan imigran, dan lingkungan.

Selain itu, Dian menilai beban anggaran perang berpotensi menjadi masalah baru bagi pemerintah AS. Ia menyebut konflik yang berlangsung dapat menguras biaya dalam jumlah besar setiap harinya.

"Perang ini mahal. Dalam sehari bisa menghabiskan dana sangat besar, sementara efektivitasnya juga dipertanyakan," katanya.

Di sisi lain, ia menyoroti belum adanya persetujuan resmi dari Kongres AS terkait aksi militer tersebut. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu persoalan politik lebih lanjut di dalam negeri Amerika Serikat.

"Jika tidak melalui persetujuan Kongres, ini bisa menjadi persoalan hukum dan politik bagi Presiden," ujarnya.

Skeptisisme terhadap Peran Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Dian juga meragukan wacana Indonesia menjadi mediator dalam konflik Amerika Serikat dan Iran. Menurut dia, peran sebagai penengah mensyaratkan posisi netral serta rekam jejak diplomasi yang kuat.

"Untuk menjadi mediator harus netral dan dipercaya semua pihak. Itu tidak mudah," kata Dian.

Ia menilai hingga saat ini belum ada permintaan dari pihak terkait agar Indonesia mengambil peran tersebut. Menurutnya, negara-negara seperti Turki atau Mesir memiliki posisi yang lebih strategis karena hubungan diplomatik yang lebih dekat dengan pihak-pihak yang berkonflik.

Dian juga mengingatkan bahwa kredibilitas internasional sangat dipengaruhi oleh kondisi domestik suatu negara.

"Negara akan dipercaya jika urusan dalam negerinya kuat. Dari situ baru peran global bisa berjalan," ujarnya.

Soroti Kebijakan Luar Negeri

Mantan Duta Besar RI untuk Iran periode 2012–2016, Dian Wirengjurit
Mantan Duta Besar RI untuk Iran periode 2012–2016, Dian Wirengjurit merdeka.com

Lebih lanjut, Dian menyinggung sejumlah langkah kebijakan luar negeri Indonesia, termasuk keterlibatan dalam forum internasional terkait konflik Timur Tengah.

Kesiapan Sumber Daya

Ia menilai kebijakan tersebut perlu mempertimbangkan kesiapan sumber daya dan prioritas nasional, terutama dari sisi anggaran dan kepentingan domestik.

Pemerintah sebelumnya menyatakan sejumlah rencana, termasuk keterlibatan dalam inisiatif perdamaian, masih menyesuaikan dengan perkembangan situasi geopolitik di kawasan.

Rekomendasi