Gus Ipang Wahid dipercaya menjadi Wakil Ketua Umum PBNU Bidang Digital Native, Teknologi, Budaya, dan Komunikasi untuk masa khidmah 2026–2031, usai Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 pada akhir Agustus 2026.
Nama Irfan Asy'ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid diumumkan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Kramat Raya, Jakarta, Rabu malam, 30 September 2026. Saat ini, Gus Ipang juga menjabat sebagai Komisaris PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).
Menanggapi penunjukan itu, ia menyebut jabatan ini sebagai amanah sekaligus memaparkan fokus kerjanya. "Ini amanah dari Rais Aam dan Ketua Umum. Agenda besarnya adalah membangun relevansi, membawa kekuatan NU masuk ke ekosistem tempat generasi baru hidup," kata Gus Ipang usai pengumuman kepengurusan, Rabu, 30 September 2026 malam.
Gus Ipang merupakan putra KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), tokoh NU yang pernah memimpin Pesantren Tebuireng. Gus Solah adalah adik kandung Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Ia menempuh pendidikan desain komunikasi visual di Institut Kesenian Jakarta dan melanjutkan studi di Seattle, Amerika Serikat. Kariernya meliputi industri kreatif, periklanan, strategi komunikasi, korporasi, pemerintahan, hingga komunikasi politik. Pengalaman tersebut akan dibawanya dalam tugas di PBNU, salah satunya melalui pengembangan generasi Technosantri.
Menurutnya, Technosantri adalah santri yang memiliki pemahaman agama, turats, dan adab, sekaligus mampu memanfaatkan teknologi. "NU ingin melahirkan lebih banyak Technosantri: santri yang kuat turats dan adabnya, sekaligus cakap menguasai teknologi," kata Gus Ipang.
Advertisement
Agenda Gus Ipang Wahid: Pesantren Percontohan Pembelajaran AI
Untuk mendukung program tersebut, Gus Ipang mendorong pesantren yang telah siap menjadi percontohan pembelajaran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), large language model (LLM), literasi digital, hingga keamanan digital. "Kurikulum pembelajaran dapat disusun bersama kementerian terkait dengan menyesuaikan kebutuhan dan kesiapan masing-masing pesantren," kata dia.
Ia juga mendorong kerja sama dengan perusahaan teknologi dan korporasi dari berbagai sektor. Kolaborasi diarahkan untuk membuka akses pelatihan, magang, pengembangan keterampilan, peluang kerja, hingga pasar bagi santri dan warga NU. "NU sudah punya jaringan sosial yang luar biasa. Tantangannya sekarang adalah mengubahnya menjadi ekosistem digital, lalu berkolaborasi dengan banyak pihak, termasuk perusahaan teknologi, agar terbuka akses ilmu, pasar, dan peluang bagi generasi baru," ucap dia.
Gus Ipang menekankan, jaringan NU perlu diterjemahkan menjadi akses yang betul-betul dirasakan santri, keluarga pesantren, dan warga NU. Selain itu, pemanfaatan ruang digital didorong untuk memperluas jangkauan NU di tengah perubahan cara masyarakat belajar, bekerja, mencari informasi, hingga mendapatkan nasihat.
Ia menyebut para kiai, gus, ning, ustaz muda, kreator, dan figur dengan audiens di ruang digital dapat menjadi penggerak ekosistem tersebut. "Karena itu, kiai, gus, ning, ustaz muda, kreator, dan figur yang memiliki audiens di ruang digital dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Tujuannya sederhana. Bagaimana agar kebaikan tersebar dengan cara yang baik, kepada lebih banyak orang, dan lebih luas jangkauannya," tutur dia.
Gagasan-gagasan ini selanjutnya akan dibahas bersama jajaran pengurus PBNU sesuai arahan Rais Aam dan Ketua Umum. Ia menegaskan, pemanfaatan teknologi tidak berarti meninggalkan akar dan tradisi NU. "Kalau zaman berubah, manfaat NU juga harus terus menemukan jalan baru untuk sampai kepada masyarakat," pungkas Gus Ipang.