Ini Jalur Mudik Diprediksi Bakal Macet, Pengendara Harus Waspada

Hanya tinggal beberapa hari lagi, umat Islam di Indonesia akan merayakan Idulfitri 1447 Hijriah dengan penuh suka cita.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Ini Jalur Mudik Diprediksi Bakal Macet, Pengendara Harus Waspada
Empat titik lokasi di Jalur Pantura ruas Kabupaten Bekasi menjadi simpul kemacetan arus mudik Lebaran 2023. (Liputan6.com/Angga Yuniar) (© 2026 Liputan6.com)

Hanya tinggal beberapa hari lagi, umat Islam di Indonesia akan merayakan Idulfitri 1447 Hijriah. Momen ini merupakan waktu yang sangat dinantikan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Selain menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan, Idulfitri juga identik dengan tradisi mudik, di mana jutaan perantau kembali ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga.

Tradisi mudik ini hampir selalu terjadi setiap tahun di Indonesia dan menjadi bagian penting dari perayaan Lebaran.

Pemerintah memperkirakan bahwa sebanyak 143,91 juta warga akan melakukan perjalanan ke berbagai daerah menjelang Lebaran 2026. Pergerakan masyarakat yang sangat besar ini diprediksi akan meningkatkan arus lalu lintas di berbagai jalur utama.

Tingginya angka pemudik tentunya berdampak pada meningkatnya volume kendaraan, terutama di jalur-jalur utama di Pulau Jawa. Kepadatan lalu lintas ini bahkan berpotensi menyebabkan kemacetan panjang di sejumlah titik, baik di jalan tol maupun jalur arteri, terutama pada puncak arus mudik dan arus balik Lebaran.

Titik Rawan Macet di Jabar

Selama arus mudik Idulfitri 2026, diperkirakan sejumlah jalur utama di Jawa Barat akan dipenuhi kendaraan. Beberapa lokasi yang diprediksi mengalami kemacetan termasuk Simpang Jomin--Simpang Mutiara dan Cikopo. Untuk mengatasi kepadatan di ruas-ruas tersebut, Dinas Perhubungan Jawa Barat bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional berencana menutup 47 putaran balik (u-turn) dan hanya akan membuka delapan titik u-turn agar arus lalu lintas lebih lancar.

Kemacetan juga diprediksi akan terjadi di jalur Ciawi--Cibadak--Sukabumi. Pada saat puncak arus mudik dan arus balik, kepolisian akan menindak kendaraan angkutan barang dengan sumbu tiga ke atas yang melintas di jalur tersebut.

Di samping itu, pemerintah daerah berencana menertibkan parkir liar dan pedagang kaki lima yang menggunakan badan jalan agar tidak menghambat lalu lintas. Kawasan wisata Puncak, khususnya di jalur Ciawi--Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, diperkirakan akan menjadi salah satu titik rawan macet.

Untuk mengurangi kemacetan, kepolisian akan menerapkan rekayasa lalu lintas dengan sistem ganjil genap dan satu arah. Di sisi lain, Satpol PP juga akan menertibkan aktivitas masyarakat yang berpotensi mengganggu kelancaran arus kendaraan.

Di Kabupaten Bandung, potensi kemacetan juga diperkirakan akan terjadi di Simpang Susun Cileunyi dan Nagreg. Dinas Perhubungan Jawa Barat telah menyiapkan langkah antisipasi dengan menyiagakan alat pembaca kartu tol elektronik atau mobile reader.

"Selain itu, menyiapkan papan informasi tambahan apabila dilakukan pengalihan arus ke Tol Cisumdawu," ungkap Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Dhani Gumelar, pada Senin (9/4), yang dikutip dari situs resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Kepadatan kendaraan juga mungkin terjadi di ruas Limbangan-Malangbong dan Gentong, di mana Satpol PP akan menertibkan berbagai aktivitas masyarakat yang dapat mengganggu kelancaran lalu lintas.

Jalur Pelumbon-Kadawung-Cirebon juga diperkirakan mengalami kepadatan, sehingga pemerintah daerah akan menertibkan parkir di pinggir jalan serta pedagang kaki lima yang berjualan di badan jalan. Sebagai langkah antisipasi, Dinas Perhubungan Jawa Barat juga telah menyiapkan sejumlah jalur alternatif bagi para pemudik. Di wilayah utara Jawa Barat, terdapat delapan jalur alternatif yang dapat digunakan, seperti Sukamandi--Kalijati (22 km), Pamanukan-Subang (31 km), dan lain-lain.

Selain itu, di jalur tengah Jawa Barat terdapat empat rute alternatif, dan di wilayah selatan, pemudik juga dapat memanfaatkan lima jalur alternatif. Jalur-jalur ini diharapkan dapat menjadi pilihan bagi pemudik untuk menghindari kepadatan di jalur utama selama arus mudik Lebaran.

Lokasi Rawan Kemacetan di Jateng

Sementara di Jawa Tengah, terdapat 46 titik yang berpotensi mengalami kemacetan dan 23 titik yang rawan bencana selama arus mudik Lebaran 2026. Pemetaan ini dilakukan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DI Yogyakarta sebagai upaya antisipasi terhadap lonjakan kendaraan dan potensi gangguan yang disebabkan oleh faktor alam.

Kepala BBPJN Jateng-DIY, Moch Iqbal Tamher, menyatakan bahwa titik-titik rawan kemacetan tersebar di berbagai jalur utama, seperti jalur pantura, jalur tengah, dan jalur selatan. Umumnya, kepadatan kendaraan terjadi di kawasan pasar, perlintasan sebidang kereta api, simpang yang padat, serta akses keluar-masuk tol.

"Seluruh titik sudah kami petakan. Personel dan peralatan kami siapkan agar potensi hambatan arus mudik bisa diminimalkan," ujar Iqbal, dilansir dari situs resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Menurut Iqbal, jalur pantura menjadi koridor paling penting karena menampung arus kendaraan jarak jauh dari arah barat ke timur, termasuk kendaraan logistik dan bus antarkota. Selain risiko kemacetan, BBPJN juga mengidentifikasi 23 titik rawan bencana, yang terdiri dari 14 titik rawan banjir dan 9 titik rawan longsor.

Beberapa ruas yang menjadi perhatian karena potensi banjir antara lain Jalan Kaligawe Semarang, ruas Sayung di perbatasan Semarang-Demak, Jalan Walisongo, serta ruas Kendal di jalur pantura. Potensi genangan juga teridentifikasi di sejumlah ruas lain, seperti Pemuda Brebes, Prupuk-Batas Kabupaten Tegal/Banyumas, Sidareja-Simpang 3 Jeruklegi, Sampang-Buntu, Klampok-Banjarnegara, Lingkar Selatan Klaten, hingga Palur-Sragen. Sebagian besar ruas tersebut berada di dataran rendah atau wilayah yang memiliki riwayat genangan akibat hujan deras maupun rob.

Sementara itu, titik rawan longsor banyak ditemukan di jalur selatan dan kawasan perbukitan. Beberapa ruas yang masuk kategori rawan longsor di antaranya Batas Jawa Barat-Karangpucung-Wangon, Ajibarang-Wangon, Wangon-Batas Banyumas/Cilacap, Patikraja-Rawalo, hingga Batas Kota Banjarnegara-Wonosobo.

Iqbal menjelaskan bahwa kondisi tanah yang labil serta kontur perbukitan menjadi faktor utama yang memicu potensi longsor, terutama saat curah hujan tinggi. Untuk memastikan kelancaran arus mudik, BBPJN juga menyiapkan 18 Posko Lebaran di berbagai jalur nasional di Jawa Tengah. Posko-posko tersebut ditempatkan di koridor strategis, mulai dari jalur pantura barat hingga jalur selatan.

Di wilayah pantura barat, misalnya, posko disiagakan di ruas Batas Kabupaten Tegal/Kabupaten Brebes--Prupuk serta Batas Kabupaten Tegal--Kabupaten Pemalang. Sementara itu, di pantura tengah dan timur, posko berada di Alas Roban, Jalan Walisongo, ruas Batas Kota Semarang--Batas Kota Demak (KM 13+700), hingga ruas Batas Kabupaten Kudus/Pati--Simpang 3 Lingkar Pati (KM 66+300) serta di Pemuda Rembang.

Adapun di jalur tengah dan selatan, posko ditempatkan di ruas Bawen--Batas Kota Salatiga, Kartosuro--Batas Kota Klaten, Purwokerto--Patikraja, Klampok--Banjarnegara, hingga Wawar--Congot. Iqbal menegaskan bahwa seluruh posko dilengkapi dengan personel teknis dan peralatan untuk memastikan respons cepat apabila terjadi gangguan lalu lintas maupun kerusakan jalan.

Selain itu, BBPJN juga menyiagakan empat Unit Pelaksanaan Peralatan (UPP) Disaster Relief Unit (DRU) di Pekalongan, Karangjati, Buntu, dan Yogyakarta. Unit tersebut dilengkapi dengan berbagai peralatan berat seperti excavator, wheel loader, motor grader, dump truck, cold milling machine, asphalt finisher, hingga truck trailer, serta material tanggap darurat seperti rangka jembatan darurat, kawat bronjong, sand bag, sheet pile, dan tambalan cepat mantap.

Titik Kemacetan Intai Jalur Mudik di Jawa Timur

Sebanyak 79 titik rawan kemacetan telah dipetakan di jalur nasional Jawa Timur menjelang arus mudik Lebaran 2026. Lokasi-lokasi tersebut tersebar di berbagai daerah, mulai dari kawasan Surabaya dan sekitarnya, Pulau Madura, jalur pantura, kawasan tapal kuda, hingga jalur selatan yang menjadi lintasan utama pemudik. Kepala BBPJN Jatim--Bali, Javid Hurriyanto, menyatakan bahwa pemetaan ini merupakan langkah antisipatif untuk menghadapi lonjakan jumlah kendaraan saat arus mudik maupun arus balik Lebaran.

"Penyebab rawan kemacetan ini beragam, mulai dari pasar tumpah, persimpangan, bottleneck, akses kawasan wisata, hingga perlintasan kereta api," ujarnya, Selasa (10/3).

Menurut Javid, sebagian besar kepadatan lalu lintas disebabkan oleh aktivitas pasar tumpah, persimpangan jalan yang padat, serta 47 perlintasan sebidang kereta api yang dapat memperlambat arus kendaraan. Selain itu, kemacetan juga sering terjadi di akses terminal dan kawasan wisata yang biasanya ramai dikunjungi masyarakat selama libur Lebaran. Secara keseluruhan, panjang jalan nasional di Jawa Timur mencapai sekitar 2.261 kilometer, sedangkan di wilayah Bali sekitar 580 kilometer.

BBPJN menargetkan agar seluruh ruas jalan tersebut sudah siap dilalui pemudik paling lambat H-10 Lebaran, termasuk perbaikan lubang jalan, pembaruan marka, hingga perataan jalan yang bergelombang. "Kami pastikan pada H-10 Lebaran seluruh jalan nasional dalam kondisi siap. Perbaikan lubang, marka, hingga kerataan jalan bergelombang akan kami selesaikan," kata Javid.

Beberapa wilayah yang diprediksi mengalami kepadatan cukup tinggi berada di Pulau Madura, khususnya di ruas Bangkalan--Sampang yang melewati sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Patemon, Pasar Tanah Merah, Pasar Galis, dan Pasar Blega. Kepadatan juga diperkirakan terjadi di ruas Sampang--Pamekasan serta Pamekasan--Sumenep.

Di kawasan Surabaya dan sekitarnya, potensi kemacetan diperkirakan terjadi di Jalan Gresik Surabaya, Jalan Kenjeran, Bundaran Waru, hingga ruas Waru--Batas Kota Sidoarjo yang merupakan jalur perlintasan utama kendaraan dari berbagai arah. Sementara itu, di wilayah Pasuruan hingga Malang, titik rawan kepadatan berada di Jalan Urip Sumoharjo Pasuruan, Karanglo menuju Kota Malang, serta Jalan Kolonel Sugiono Malang yang sering dipadati kendaraan menuju kawasan wisata.

Di jalur pantura timur, kepadatan diprediksi muncul di sejumlah ruas seperti Probolinggo--Paiton, Buduan--Panarukan, Situbondo--Banyuwangi, Gending--Paiton, hingga Rogojampi--Banyuwangi. Jalur ini menjadi salah satu lintasan penting bagi kendaraan dari arah Surabaya menuju Banyuwangi dan Bali.

Sementara di jalur selatan Jawa Timur, potensi kemacetan berada di ruas Kartosono--Kediri, Kediri--Ngantru, Pacitan--Trenggalek, Jarakan--Panggul, hingga Glonggong--Pacitan yang sering dijadikan alternatif perjalanan sekaligus akses menuju destinasi wisata. Adapun di pantura barat, titik kepadatan diperkirakan terjadi di ruas Duduksampeyan--Lamongan, Lamongan--Gresik, Babat--Bojonegoro, serta Padangan--Ngawi yang menjadi penghubung utama antarwilayah di bagian barat Jawa Timur.

BBPJN mengimbau para pemudik untuk mengatur waktu perjalanan, memanfaatkan rest area untuk beristirahat, serta memantau informasi lalu lintas secara berkala. Dengan perencanaan perjalanan yang baik, diharapkan arus mudik Lebaran 2026 dapat berlangsung lebih lancar dan aman bagi seluruh pengguna jalan.

Rekomendasi